Home > Uncategorized > INI NEGARA DEMOKRASI BUNG…..!

INI NEGARA DEMOKRASI BUNG…..!

MANISNYA PERMEN

          Terkadang orang bodoh ini suka merasa aneh. Ko, banyak diantara pemimpin dan tokoh-tokoh negara ini yang beranggapan bahwa sistem demokrasi yang dianut negara ini dapat menghalangi mereka dalam menjalankan perintah-perintahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak diantara pemimpin dan tokoh-tokoh negara ini yang menganggap bahwa sistem demokrasi lah yang telah menyebabkan negara ini begini, atau mungkin HAM lah yang telah menyebabkan negara ini begitu, bahkan mungkin mereka beranggapan orang asinglah yang membuat negara ini begini dan begitu. Lalu apalah artinya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala swt di bawah ini,

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Oleh karena itu saya tekankan sekali lagi, bahwa penyebab utama negara ini begini dan begitu adalah penduduk negeri ini sendiri. Dan penyebab umat islam sekarang ini begini dan begitu juga, ya karena kitanya juga sebagai umat yang memang begini dan begitu.

Lalu bagaimana dengan para tokoh yang mengharuskan ditegakannya hukum islam di negara ini….?

Ya memang harus….! Jangan pernah mengaku orang islam seandainya mengatakan bahwa menegakan hukum islam di negara ini bukanlah sebuah keharusan. Namun begitu, menyalahkan sesuatu yang lain atas sesuatu yang menimpa kita juga adalah sebuah kesalahan. ( meskipun memang ada benarnya dan masih bisa difahami)

Contoh :

Bagaimanakah ketika kita menghadapi kebiasaan buruk daripada anak kita, dalam hal terlalu banyak menkonsumsi permen yang kebetulan permen itu biasa di kasih oleh tetangga dekat rumah. Dan tahukan akibatnya…., sakit gigi seakan sebuah momok yang menakutkan….! Apa kira-kira solusi kita dalam menghadapi permasalahan ini…?

ada tiga hal penting yang penulis dapat dari contoh kasus diatas. Yang pertama tetangga yang memberikan permen, yang kedua permen itu sendiri ( yang memang sudah terlanjur disenangi oleh anak kita ) dan yang terakhir adalah, kurangnya pengetahuan anak kita tentang dampak permen bagi kesehatan giginya.

Lalu…., siapakah yang patut disalahkan….?

Yang pertama adalah tetangga kita. Seandainya dia sengaja memberikan permen itu supaya anak kita sakit gigi. Yang kedua adalah permen itu sendiri. Dan yang ketiga adalah anak kita. Kesalahan dia adalah, karena dia tidak mengetahui bahaya permen bagi kesehatan giginya.

Lalu apa tindakan kita sebagai orang tua…..?

Dalam menghadapi permasalahan seperti ini, ada tiga macam tindakan yang mungkin biasa dilakukan oleh para orang tua. Yang pertama, dan yang biasa dilakukan oleh para orang tua yaitu dengan menyalahkan tetangga yang biasa memberi permen. Yang kedua, dan yang biasa dilakukan oleh para orang tua juga, yaitu dengan menyalahkan anak itu. Dan yang terakhir, dan inilah yang benar. Salahkan diri kita sendiri, karena apa…., karena ketidak tahuan anak kita akan bahaya permen untuk kesehatan giginya itu,  karena memang kesalahan kita dalam mendidik.

Lalu…., kenapa saya katakan tindakan yang ketigalah yang paling benar….?

Karena memang, seandainya kita memusuhi tetangga kita, memarahinya, bahkan mungkin sampai membunuhnya, dikarenakan memberi anak kita permen, itu tidak akan pernah merubah suatu apapun. Percayalah…., anak kita akan mencari permen di tempat yang lain.  Begitupun dengan tindakan yang kedua, seandainya permen itu kita musnahkan, maka hal itupun tidak akan dapat membuat kesehatan gigi anak kita menjadi baik, karena tanpa pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan gigi, anak kita itu akan kembali terperosok kepada makanan lain dengan dampak yang sama, bahkan lebih mungkin….! Oleh karena itu, hanya ada satu cara yang benar-benar efektif dan pantas dilakukan oleh  seorang manusia. Kasih tahu anak kita, bagai mana kiranya cara merawat gigi yang baik. dan apabila itu memang sudah dilakukan sedari dulu, maka fikirkanlah, apa kira-kira kesalahan kita dalam menyampaikan semuanya itu…? Sehingga anak kita menyenangi permen yang jelas-jelas membuatnya sakit.

Begitulah kira-kira pemikiran orang bodoh mengenai demokrasi. Demokrasi itu manis dan enak, tapi merusak…..! tapi meskipun begitu, bukan hal yang benar juga kalau kita membebankan semua kesalahan kepada mereka yang membawa demokrasi. Karena seperti halnya kasus anak tadi, yang mana anak kita itu tidak akan tergoda untuk menerima bahkan sampai menyenangi permen, seandainya kita sebagai orang tua berhasil mendidik anak-anak kita prihal menjaga kesehatan gigi. Oleh karena itu, bagaimanapun manisnya demokrasi, bagaimanapun enaknya demokrasi, atau bagaimanapun lezatnya demokrasi, seandainya umat islam ini mengetahui dan menyadari bahaya yang terkandung di dalamnya, maka saya yakin…., semua umat islam di dunia ini akan mengatakan “NO” untuk demokrasi. Selamanya…..!

Begitupun dengan mengatakan demokrasi sebagai biang keladi semua permasalahan yang kita hadapi sekarang ini. Itupun bukan sebuah solusi saya kira. Karena tanpa penguatan agama dari dalam diri kita sendiri, itu hanya akan menyebabkan masuknya demokrasi-demokrasi yang lainnya. Bahkan yang akan lebih merusak mungkin….? Oleh karena itu, saya tekankan sekali lagi, mencari-cari kesalahan yang ada dalam demokrasi ataupun mengorek-orek kekurangan demokrasi adalah bukan sesuatu yang penting

Oleh karena itu, saya harapkan kepada mereka yang tahu agama dan faham agama, yang kami ( orang-orang bodoh ) anggap sebagai orang tua kami, tolong benahilah kami. Asal anda ( orang-orang pinter ) tahu, kami ini shalat, kami zakat, kami puasa, tapi itu semua tidak merubah sesuatupun. Kami ( orang-orang ) bodoh, akan dengan susah payah melaksanakan semua perintah_Nya, dan dengan senang hati melaksanakan segala larangan_Nya. Dan mungkin karena itulah demokrasi bisa diterima dengan baik oleh kami ( orang- orang  bodoh ).

Dan selain itu, saya akan mengulas mengenai tulisan saya yang diawal tadi. Saya katakan :  menyalahkan sesuatu yang lain atas sesuatu yang menimpa kita adalah sebuah kesalahan. ( meskipun memang ada benarnya dan masih bisa difahami)

Apa sebab…?

Orang tua mana yang tidak marah, ketika tahu anak kesayangannya ( orang-orang bodoh  ) di cekokin terus menerus sama yang namanya peremen. Yang jelas-jelas dapat merusak kesehatan gigi anak kesayangannya itu ( orang-orang bodoh ).

Orang tua yang mana yang tidak murka, ketika tahu anak kesayangannya             ( orang-orang bodoh ) dengan sengaja dihadiahi permen dengan tujuan untuk merusak kesehatan giginya.

Hanya orang tua yang tolol lah yang tidak akan marah.

Hanya orang tua yang bego lah yang tidak akan murka.

Dan seandainya orang-orang bodoh inipun tahu akan maksud daripada tetangga tadi memberikan permen kepada kami ( orang-orang bodoh ) …..? marah dan murka pun akan menjadi milik kami semua….! Dan tugas andalah para orang tua, untuk menjelaskan akan pentingnya merawat kesehatan gigi…..! kalau memang usaha kalian      ( para orang tua ) selama ini belum berhasil ataupun belum memuaskan, kami ( orang-orang bodoh ) berharap, carilah cara dan metode yang lain sehingga kami (orang-orang bodoh ) akan semakin paham dan yakin akan pentingnya kesehatan gigi. Tolonglah kami ( orang-orang bodoh ), maka kami ( orang –orang bodoh ) yakin,  Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menolong kalian ( orang tua kami )

DEMOKRASI

            Orang bodoh ini kadang berfikir, apasih sebenarnya yang dinamakan demokrasi….? Dan siapa sebenarnya yang pertama-tama mencetuskan demokrasi ini…..?

Lalu…., kenapa orang bodoh ini mempunyai pertanyaan yang  seperti itu….?

Karena kalau orang bodoh ini yang mikir ( kalau orang bodoh…!), apa sih sebenarnya kelebihan daripada demokrasi…..? seberapa hebatkah orang yang mencetuskan demokrasi….? Sehingga orang itu bisa membuat sebuah sistem yang benar-benar jauh dari hukum-hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kalau menurut orang bodoh, termasuk kepada hal yang mustahil apabila ada seorang manusia yang bisa membuat sebuah sistem hukum yang jauh daripada sistem_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Alasan orang bodoh,

  • Orang bodoh ini yakin, bahwa pada dasarnya sebuah sistem dibentuk untuk kemaslahatan umat. Begitu juga dengan demokrasi. Apalagi hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Pada dasarnya, salah menurut demokrasi akan begitu juga menurut hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia paling-paling hanya bisa merubah daripada bentuk hukumannya saja. Misal : yang musti dihukum rajam menurut hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi hukuman penjara.  Dan lain sebagainya.
  • Baik jeleknya demokrasi akan sangat bergantung kepada sang pemakai demokrasi itu sendiri. Dan begitu juga dengan hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Dan persamaan-persamaan yang lainnya. Namun demikian, ada satu hal yang membuatnya berbeda. Yaitu dari mana hukum itu bersumber.

Oleh karena itu, bagi siapapun yang menginginkan ( hanya yang ingin ) ditegakannya hukum-hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala di negara ini, banyak jalan untuk menuju kesana. Siapapun itu. Karena sehebat apapun yang namanya demokrasi, tapi saya yakin…., tidak akan dapat membendung kesempurnaan daripada hukum-hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau kita sebagai masyarakatnya mau.

Selain itu, dengan kita menyatakan “ demokrasi “ yang menjadi sebab dalam keterpurukan bangsa ini, juga nggak bener-bener amat.

Baiklah, untuk lebih jelasnya saya ( orang bodoh ini ) uraikan sedikit prihal demokrasi. Ada dua asas pokok tentang demokrasi. Yaitu, pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan dan pengakuan hakikat dan martabat manusia.

Adapun prinsip-prinsip demokrasi yang diketahui orang bodoh ini sebagai berikut,

  • Tidak adanya kekuasaan yang sewenang-wenang.
  • Kedudukan yang sama dalam hukum.
  • Terjadinya hak asasi manusia oleh undang-undang.

Sedangkan prinsip-prinsip demokrasi Pancasila antara lain sebagai berikut,

  • Persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
  • Keseimbangan antara hak dan kewajiban .
  • Kebebasan yang bertanggung jawab.
  • Mewujudkan rasa keadilan sosial.
  • Pengambilan keputusan dengan musyawarah dan mufakat.
  • Mengutamakan keputusan dengan musyawarah dan mufakat.
  • Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional.

Apa yang salah kira-kira….? ( diluar ketentuan agama tentunya…!)

Apa lagi kalau kita lihat pemisahan lembaga-lembaga Negara yang merupakan usaha dari sebuah sistim untuk melindungi rakyat sebuah Negara.

  • Kekuasaan legislative, yaitu kekuasaan membuat undang-undang.
  • Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan melaksanakan undang-undang.
  • Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang.

Kadang saya berfikir, sejelek itukah demokrasi….? Hingga para orang tua kita yang bijaksana begitu membencinya. Kadang saya berfikir, sehebat apakah yang namanya demokrasi….., sehingga bisa menghalangi janji_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun terkadang saya berfikir…., bukankah dengan demokrasi kita ( umat islam ) bisa menjalankan hukum-hukum _Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala….., seandainya mau.

 

ABOUT DR.YUSUF AL-QARDHAWI

Dr. Yusuf al-Qaradhawi  berpendapat bahwa demokrasi merupakan alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani.beliau juga  mengatakan: “Sesungguhnya sisi liberalisme demokrasi yang paling baik menurut saya adalah sisi politiknya, yang tercermin dalam penegakan kehidupan perwakilan, di dalamnya rakyat dapat memilih wakil-wakil mereka yang akan memerankan kekuasaan legislatif di parlemen, dan di dalam satu majelis atau dua majelis.     Pemilihan ini hanya bisa ditempuh melalui pemilihan umum yang bebas dan umum, dan yang berhak menerima adalah yang mendapat suara paling banyak dari para calon yang berafiliasi ke partai politik atau non-partai.

“Kekuasaan yang terpilih” inilah yang akan memiliki otoritas legislatif untuk rakyat, sebagaimana ia juga mempunyai kekuasaan untuk mengawasi kekuasaan eksekutif atau “pemerintah”, menilai, mengkritik, atau menjatuhkan mosi tidak percaya, sehingga dengan demikian, kekuasaan eksekutif tidak lagi layak untuk dipertahankan.            Dengan kekuasaan yang terpilih, maka semua urusan rakyat berada di tangannya, dan dengan demikian, rakyat menjadi sumber kekuasaan. Bentuk ini secara teoritis cukup baik dan dapat diterima, menurut kaca mata Islam secara garis besar, jika dapat diterapkan secara benar dan tepat, serta dapat dihindari berbagai keburukan dan hal-hal negatif yang terdapat padanya.    Saya katakan “secara garis besar”, karena pemikiran Islam memiliki beberapa kewaspadaan terhadap beberapa bagian tertentu dari bentuk di atas.

Komentar saya,

Dr.Yusuf Al-Qadhawi mengatakan, bahwa dengan kekuasaan yang terpilih, maka semua urusan berada di tangan rakyat. Dan dengan demikian, rakyat menjadi sumber kekuasaan. Dan inilah menurut saya inti dari baiknya demokrasi. Karena dengan demokrasi, apa-apa yang dijanjikan oleh Allah swt akan memungkinkan untuk terwujud. Seandainya kita sebagai penduduk negeri mau.

Coba kita perhatikan firman Allah swt di bawah ini,

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Rakyat ataupun penduduk sebuah negara memegang peranan penting dalam menentukan masa depan mereka sendiri. Dan perhatikan juga yang ini,

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

Sama seperti ayat yang di atas, pemimpin yang baik juga merupakan salah satu janji_Nya Allah swt, seandainya penduduk negeri mempercayainya. Dan itu kembali akan sangat bergantung kepada rakyat dan penduduk negeri itu sendiri.

Dan seandainya kita perhatikan dan kita tela’ah, kesemuanya itu sudah terakomodir dalam yang namanya demokrasi. Oleh karena itulah maka DR.Yusuf Al-Qordhawi mengatakan bahwa demokrasi merupakan alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani. Dan beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya sisi liberalisme demokrasi yang paling baik menurut saya adalah sisi politiknya, yang tercermin dalam penegakan kehidupan perwakilan, di dalamnya rakyat dapat memilih wakil-wakil mereka yang akan memerankan kekuasaan legislatif di parlemen, dan di dalam satu majelis atau dua majelis.           Pemilihan ini hanya bisa ditempuh melalui pemilihan umum yang bebas dan umum, dan yang berhak menerima adalah yang mendapat suara paling banyak dari para calon yang berafiliasi ke partai politik atau non-partai.

Oleh karena dari sekian banyak kelemahan yang ada dalam demokrasi, namun saya kira, demokrasi masih tetep menjadi pilihan terbaik. Dalam demokrasi sangat terbuka pintu lebar untuk tegaknya syari’at islam. Seandainya kita sebagai warga negara menginginkannya. Namun demikian, kita juga musti ingat, bahwa dengan demokrasi juga, terbuka pintu lebar untuk tegaknya hukum-hukum yang lain. Bahkan yang sagat bertolak belakang dengan islam sekalipun. Karena memang kesemuanya itu, akan sangat bergantung kepada yang namanya penduduk sebuah negara.

Selain itu beliau juga mengatakan, “Kekuasaan yang terpilih” inilah yang akan memiliki otoritas legislatif untuk rakyat, sebagaimana ia juga mempunyai kekuasaan untuk mengawasi kekuasaan eksekutif atau “pemerintah”, menilai, mengkritik, atau menjatuhkan mosi tidak percaya, sehingga dengan demikian, kekuasaan eksekutif tidak lagi layak untuk dipertahankan.     Dengan kekuasaan yang terpilih, maka semua urusan rakyat berada di tangannya, dan dengan demikian, rakyat menjadi sumber kekuasaan.            Bentuk ini secara teoritis cukup baik dan dapat diterima, menurut kaca mata Islam secara garis besar, jika dapat diterapkan secara benar dan tepat, serta dapat dihindari berbagai keburukan dan hal-hal negatif yang terdapat padanya.       Saya katakan “secara garis besar”, karena pemikiran Islam memiliki beberapa kewaspadaan terhadap beberapa bagian tertentu dari bentuk di atas.

Komentar saya,

Kekuasaan terpilihlah yang memiliki otoritas legislatif untuk rakyat. Dan ini berarti, kesemuanya itu akan bergantung kepada rakyat negara itu. Seandainya kita sebagai penduduk negeri menginginkan negara yang berasaskan islam, maka itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Baca juga orang bodoh berlogika di belakang!!!

Kenapa saya bisa berkata demikian……?

Karena memang pada sistim demokrasi kita lah sebagai penduduk negara yang menentukan. Kita bisa mendelegasikan kepemimpinan kepada yang kita sukai. Apakah dia itu orang-orang yang kuat keislamannya, seorang koruptor, pezinah ataupun pemabuk sekalipun.(dan inilah sebenar-benarnya kelemahan demokrasi yang musti di waspadai dan difahami oleh seluruh penduduk negara ini)!!!!!

Oleh karena itu DR.Yusuf Al-Qardhawi mengatakan,  Bentuk ini secara teoritis cukup baik dan dapat diterima, menurut kaca mata Islam secara garis besar, jika dapat diterapkan secara benar dan tepat, serta dapat dihindari berbagai keburukan dan hal-hal negatif yang terdapat padanya.    beliau katakan “secara garis besar”, karena pemikiran Islam memiliki beberapa kewaspadaan terhadap beberapa bagian tertentu dari bentuk di atas.

Lalu mengapa beliau mengatakan secara teoritis….?

Karena memang itu tidak menjadi kenyataan. Sebuah negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tidak dapat dengan mudah menerapkan azas-azas islam di dalamnya. Padahal kalau menurut logika dan teori demokrasi, negara yang berazaskan islam itu, akan terbentuk dengan sendirinya apa bila sebuah negara  itu berpenduduk mayoritas muslim. Dan karena itu pulalah beliau pada awal pembahasannya mengatakan “ bahwa demokrasi adalah alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani. Bahkan  beliau juga berpendapat mengenai sisi liberalisme yang ada pada demokrasi itu.

Oleh karena itu, saya kurang setuju dengan para ulama yang memojokan beliau dengan perkataan bahwa beliau itu seorang pendukung demokrasi. Karena memang dalam hal ini, janganlah kita menilai maksud daripada perkataan seseorang, tapi adakah sesuatu dalam perkataanya itu yang dapat kita ambil manfaatnya.

Maka daripada itu, terlepas dari  siapa itu DR.Yusuf Al-Qardhawi, dan apakah beliau itu pendukung ataupun bukan pendukung demokrasi, namun yang terpenting dalam hal ini adalah, adakah dari perkataan beliau yang dapat bermanfaat bagi kita sebagai pemeluk agama dan warga negara.

Dan terakhir saya akan tuliskan perkataan beliau yang lainnya. Yang mudah-mudahan lebih membantu anda dalam memahami pendapat daripada beliau.

Beliau mengatakan, Sesungguhnya substansi demokrasi -tanpa definisi dan istilah akademis- adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih orang yang akan mengurus dan mengendalikan urusan mereka, sehingga mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang tidak mereka sukai, atau diatur oleh sistem yang mereka benci. Selain itu, mereka juga harus mempunyai hak menilai dan mengkritik jika penguasa melakukan kesalahan, juga hak opsi jika penguasa melakukan penyimpangan, dan rakyat tidak boleh digiring kepada aliran atau sistem ekonomi, sosial, kebudayaan, atau politik yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka setujui. Jika sebagian mereka menghalanginya, maka balasannya adalah pemecatan atau bahkan penyiksaan dan pembunuhan.

Apa yang salah kira-kira……?

Dan meskipun hanya sepotong, tapi saya mendapatkan manfaat dan beberapa penekanan dalam perkataan beliau meskipun belum tentu maksudnya seperti itu. Karena sekali lagi saya katakan, maksud perkataan seseorang itu tidaklah terlalu penting. Karena yang terpenting adalah apa yang kita dapat dari perkataannya itu.

Dan inilah manfaat yang saya dapatkan dari yang sepotong itu.

  • Hendaknya kita menekankan pemahaman kita pada konteks sebuah sistim pemerintahan di luar sistim pemerintahan islam. Dan memang demokrasi lah yang terbaik. Untuk sekarang ini.
  • Dalam sistim demokrasi ada sebuah celah besar yang dapat kita manfaatkan bagi terciptanya negara yang berzaskan islam seandainya kita sebagai penduduk negara menginginkannya.
  • Dalam sebuah negara yang menganut sistim demokrasi ada kecenderungan negara yang berpenduduk muslim akan menjadi negara islam, negara yang berpenduduk pemabuk akan menjadi negara pemabuk dan lain sebagainya.
  • Namun kesemuanya itu hanyalah teori belaka. Yang mana kenyataanya jauh dari yang kita harapkan.
  • Negara indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim diisi oleh para koruptor, pezina, perampok dan lain sebagainya. Padahal kita sebagai penduduk negeri sudah diberi kesempatan untuk memilih!
  • Apa salah demokrasi…..!!!!

 

INDONESIA BERASASKAN ISLAM……..?

          Saya kira, keislaman seseorang perlu diragukan seandainya orang itu tidak menghendaki diterapkannya hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di negara ini. Atau mungkin, keislaman seseorang perlu diragukan seandainya dia menganggap hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah tidak relevan lagi pada jaman sekarang ini. Namun demikian….., tahukan anda hai para orang tua yang bijaksana…., siapkah penduduk negeri ini menerima konsekwensi daripada kegemarannya berzina…., siapkah penduduk negeri ini menerima konsekwensi daripada kegemarannya melihat aurat…., siapkah penduduk negeri ini untuk menerima konsekwensi daripada mencuri….., dan lain sebagainya. Meskipun memang siap tidak siap, ya harus siap. Tapi…., siapkah saya…..?

Oleh karena itu, alangkah bijaksana perkataan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam di bawah ini,

“Akan datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim]

Kalau kita renungkan perkataan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  di atas dengan keadaan negeri kita sekarang ini, maka akan nampak banyak kesamaan. Tapi…, coba kita perhatikan bagian akhir dari hadist di atas “ tidakkah kita perangi mereka….?” Beliau bersabda, “ tidak, selama mereka masih menegakan sholat”

Oleh karena itu, maka penulis berusaha untuk menguraikan maksud daripada hadist tadi di atas, sekemampuan saya tentunya. Orang bodoh.

Dan inilah kiranya maksud daripada hadist tadi di atas versi orang bodoh.

  • Kekerasan bukanlah jalan terbaik dalam mendirikan negara islam dalam konteks pemerintahan yang seperti itu.

Dikatakan pada hadist tadi, bahwa akan datang para penguasa ( setelah Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ), lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemunkarannya. Lalu Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengatakan, …..siapa saja yang membencinya akan bebas ( dari dosa ), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya ( dia akan celaka ). Dan kalau orang bodoh ini perhatikan ( bener-bener pemikiran penulis ) setiap Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  menyeru akan sesuatu dan di dalamnya ada tingkatan-tingkatan, biasanya yang paling jeleklah yang mendominasi. ( untuk jaman sekarang ini )

Contoh,

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.”

Coba kita perhatikan. Mengubah kemunkaran dengan hatinya mendominasi masyarakat pada zaman ini. Oleh karena itu, begitu juga dengan hadits yang tadi. Maka orang-orang yang mengikuti penguasa yang munkar itu akan lebih banyak dari pada tingkatan yang lainnya. Menurut orang bodoh….! Contoh konkrit adalah, setiap pemilu pasti yang menang partai sekuler. ( diluar benar tidaknya partai islam yang ada ). Atau kalau nggak, yang bawa-bawa islamlah…..!

  • Pembenaran dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

Karena memang untuk menjadikan sebuah negara berasaskan islam, akan sangat tergantung kepada penduduk negaranya itu sendiri.

  • dalam kondisi negara yang seperti itu, dakwah adalah merupakan jalan terbaik demi terwujudnya negara islam.

Karena menurut firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ( islam ) akan terbentuk dengan sendirinya. Seandainya penduduk negeri meyakini ayat- ayat  Kami.

  • Selain itu, terus dan teruslah untuk memberitahu si anak kecil tadi supaya menjauhi yang namanya permen. Itu lebih baik daripada memarahi yang memberi permen tadi.

Maka berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut di atas, penulis berkesimpulan bahwa demokrasi adalah sebuah sistim terbaik yang mungkin dapat kita manfaatkan sebagai jalan untuk menuju hukum-hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena apa…..? karena dengan demokrasi kita masih shalat dengan baik. Kalau kitanya mau…..! karena dengan demokrasi kita masih bisa menjalankan dakwah dengan baik. Kalau kitanya mau….! Dan dengan demokrasi kita dapat membentuk pemerintahan islam. Kalau kitanya mau……! Tapi itu dengan catatan, kalau kitanya mau….!

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

Coba kita renungkan…….! Syarat untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala ( hukum islam ) adalah penduduk negeri yang meyakini ayat-ayat_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini adalah satu-satunya opsi yang tersedia. Olah karena itu, memperbaiki prilaku penduduk negeri dalam hal beragama lebih penting ketimbang mencari-cari cara lain dalam hal menegakan hukum-_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kalau orang bodoh ini kembali merenung……, mungkinkah hal ini terjadi di era demokrasi seperti saat ini……?

Mungkin banyak pembaca yang berujar seperti ini, “ tapi kan dengan demokrasi, maksiat dimana-mana, yang notabene maksiat lebih menarik ketimbang kebaikan dan maksiat lebih gampang diterima daripada kebaikan…!”

Dan jawaban saya tetep sama dengan sebelumnya. Mau tidak mau dan mungkin tidak mungkin, memang itulah syaratnya.

 

 

PEMIMPIN……., BUKAN HANYA PEMERINTAH……!!!!

DR.Yusuf Al-Qardhawi  mengatakan, Sesungguhnya substansi demokrasi -tanpa definisi dan istilah akademis- adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih orang yang akan mengurus dan mengendalikan urusan mereka, sehingga mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang tidak mereka sukai, atau diatur oleh sistem yang mereka benci.

Sebelum saya melanjutkan pembahasan ini, saya menginginkan para pembaca melihatnya dengan pemikiran yang jernih. Bahwa yang saya bahas sekarang ini adalah negara kita. dimana di negara ini, kita tidak dapat menggantungkan harapan kepada yang namanya pemerintah dan anggota dewan sebagai orang-orang yang terpilih. Namun demikian, ada beberapa orang pemimpin lagi yang dapat kita harapkan untuk dapat menyelamatkan negara ini dari kehancuran yang semakin mendekat (istidraj)!!!! Yaitu, pemimpin agama dan pemimpin keluarga.

Pemimpin agama

  • Kenyataan pertama,

Dalam sistim demokrasi, tidak ada ketentuannya yang memungkinkan seseorang yang menginginkan terbentuknya negara islam tidak dapat menjadi orang yang terpilih.

  • Kenyataan kedua,

Dalam sistim demokrasi, tidak ada ketentuannya bagi seseorang untuk tidak diperbolehkan memilih orang yang menginginkan berdirinya negara islam.

  • Kenyataan ketiga,

Dalam negara yang menganut sistem demokrasi, tidak pernah saya mendengar larangan seseorang untuk berdakwah dalam hal mengajak kepada kebenaran. Kalaupun ada, saya kira masih bisa di akali. Karena memang untuk menjadikan sebuah negara itu menjadi negara yang mendapatkah berkah dan mempunyai pemimpin yang baik itu, tidak musti harus berdakwah mengenai cara-cara kepemimpinannya saja. Tapi dengan menjadikan penduduk negara itu baik juga saya kira sudah mencukupi bagi kita untuk mendapatkan janji_Nya Allah swt.

  • Kenyataan keempat,

Sampai saat ini, negara yang kita cintai ini, semakin menjauhi hukum-hukum_Nya Allah swt.

Dan berdasarkan kenyataan-kenyataan itulah, maka saya tergelitik untuk mengajukan satu pertanyaan kepada para pemimpin agama,” apakah benar semua yang terjadi di negara ini adalah kesalaha pemerintah semata…?”

Pemimpin keluarga

  • Kenyataan pertama,

Dalam sistem demokrasi, tidak ada larangan bagi seorang pemimpin keluarga dalam hal mendidik anaknya secara baik.

  • Kenyataan kedua,

Dalam sistem demokrasi, tidak ada larangan bagi seseorang untuk tidak melakukan maksiat

  • Kenyataan ketiga,

Orang-orang yang suka bermaksiat di negara ini, asli hasil didikan kita sebagai penduduk negeri,

  • Orang-orang yang nggak baik di pemerintahan dan dewanpun asli hasil didikan kita sebagai penduduk negeri.

Dan berdasarkan kenyataan-kenyataan itulah, maka saya tergelitik untuk mengajukan satu pertanyaan kepada para pemimpin keluarga, “apakah benar semua yang terjadi di negara ini adalah kesalahan pemerintah semata….?”

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: