Home > Uncategorized > MENGUBAH KEADAAN

MENGUBAH KEADAAN

AR-RA’D :11

            “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”( QS Ar-Ra’d : 11 )

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas mengisyaratkan akan keharusan berusaha untuk setiap muslim. Namun demikian, dalam firman_Nya tadi, didahului oleh “ baginya ( manusia ) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dan diakhiri oleh “ dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Itu artinya apa….?

Itu berarti, kita sendirilah yang harus berusaha untuk merubaha nasib kita sendri, namun begitu Allah Subhanahu wa Ta’ala jugalah yang menentukan.

Kalau begitu percuma dong semua usaha kita….!

Ya tergantung.

Contoh :

Dikisahkan di sini, ada sebuah keluarga yang beranggotakan satu orang suami, dan isteri-isterinya ( eh…., salah ya…?), dan isterinya, beserta ketiga orang anak kesayangannya. Mereka hidup dalam kesusahan. Penderitaan seakan enggan beranjak dari kehidupan keluarga mereka. Sang suami sudah bekerja keras, hampir segala usaha telah dia jalani ( kecuali export-import ). Dan hampir semua pekerjaan sudah pernah dia alami ( kecuali jadi presiden dan anggota DPR ). Namun semuanya itu tidak dapat merubah suatu apapun. Penderitaan masih setia menyertai mereka.

Lalu sekarang…, coba kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini,

“…..Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….”

Mungkin banyak keluarga-keluarga yang serba kekurangan di negara ini yang berujar seperti ini, “ usaha apalagi yang musti kami lakukan….? Semuanya pernah kami coba dan kami jalankan….!”

Dan di sinilah justru letak permasalahannya. Kita selalu terpokus kepada masalah-masalah keduniaan. Selain itu, kita juga selalu dan selalu mempercayai apa-apa yang kita pikirkan. Sehingga melupakan sesuatu yang utama. Padahal jelas-jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dalam firman_Nya, “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala….” Yang mendahului suruhan_Nya prihal usaha, yang diakhiri dengan perkataan_Nya, “Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Oleh karena itu, perubahan kita dalam bentuk usaha dan lain sebagainya             ( duniawi ), tidak akan berpengaruh apa-apa. Karena yang terpenting dalam hal ini adalah, bagaimana merubah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kita.

Coba kita perhatikan sekali lagi,

“…..Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….”

Kalau kita coba jabarkan arti daripada mengubah keadaan  maka akan mempunyai beberapa arti. Kalau kita pakai keluarga yang serba kekurangan tadi sebagai acuan. Yang diantaranya,

  • Merubah bentuk usaha, dari usaha yang satu kepada usaha yang lainnya.
  • Merubah diri sendiri, dari malas jadi rajin.
  • Merubah prilaku keluarga tadi, dalam berbagai hal. Yang sudah barang tentu menuju kepada arah yang lebih baik.

Namun demikian, meskipun disana terdapat tiga opsi dalam hal mengubah keadaan, tapi saya lebih condong kepada opsi yang kedua dan yang ketiga. Karena opsi yang pertama, lebih mengedepankan akal dan pikiran manusia. Sedangkan opsi yang kedua dan ketiga mengandung makna ibadah. Dimana dengan ibadah tersebut, diharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan merubah ketentuannya terhadap kita.

Karena memang sudah banyak orang-orang di negeri ini yang terlalu bangga dengan akal dan fikirannya. Sehingga mereka menggunakan opsi yang pertama dan yang kedua. ( perlu diingat, penggunaan opsi yang kedua dalam hal ini, sebagai pengejawantahan dari logika mereka semata. Bahwa untuk mendapatkan materi yang banyak, maka harus bekerja keras. Bukan karena faktor ibadah ).

Maka lihatlah hasilnya.

Bagi para petani, bilamana tanaman mereka bagus, harga murah. Tanaman terserang hama, harga bagus. Tanaman bagus dan harga bagus, datang bencana. Dan lain sebagainya.

Bagi para pedagang, bilamana dagang lagi bagus-bagusnya, anak sakit butuh biaya banyak. Anak sembuh, datang pesaing. Dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, alangkah bodohnya apabila seseorang yang menginginkan perubahan dalam hidupnya namun mengabaikan opsi yang ketiga. Padahal itulah opsi terbaik dari opsi-opsi yang ada.

Baiklah, sebagai penutup bahasan  ini, saya utarakan sebuah keanehan  yang ada pada manusia, dari sekian banyak keanehan-keanehan yang tak terhitung jumlahnya.       ( dan saya juga termasuk manusia….!)

Manusia itu sebenarnya tahu, bahwa manusia itu tidak bisa apa-apa. Mau banjir monggo, mau gempa silahkan, mau gunung meletus terserah. Karena memang kita nggak bisa melarang dan nggak bisa berbuat apa-apa. Lalu mengapa juga, para petani musti ngebagus-bagusin tanamannya sehingga lupa waktunya shalat….? Lalu mengapa juga, para pedagang musti terus dan terus ngumpulin duit sehingga mereka lupa memberi….? Lalu mengapa juga, para pengusaha tetep dalam keserakahannya….? Lalu mengapa juga, para pejabat lupa akan akhirat….? Dan yang terakhir, mengapa perempuan tidak mau di madu…?

Toh…, kalau ada banjirmah entar juga kebawa arus. Toh…, kalau ada gempamah entar juga rusak. Toh…, kalau ada gunung meletusmah, entar juga ditinggalin. Apa daya kita….?

Coba kalau kita ngebaikin yang empunya air, mungkin banjir datangnya setelah kita panen mungkin…, coba kalau kita ngebaikin yang empunya tanah, mungkin gempanya jauh dari kita …, coba kita ngebaikin yang empunya gunung, mungkin gunung meletusnya setelah kita pindah…., dan lain sebagainya.

 

Teori air dalam gelas

Inilah keadaan umat muslim pada masa ini. Dimana pada masing-masing tingkatan ada yang berilmu dan yang nggak ( turunan). Kecuali no.1 pasti berilmu.

  1. Orang yang bener-bener takut dosa. Ini haram dan itu nggak boleh.
  2. Orang-orang yang sedikit longgar. Dan mereka biasanya toleran dengan beberapa yang haram dan yang tidak boleh. Namun pada tingkatan ini, orang-orangnya masih termasuk kepada golongan yang rajin beribadah.
  3. Orang yang kebaikan dan maksiat jalan bareng.
  4. Orang yang gemar maksiat dan tidak tahu kebaikan. Tapi dia muslim.

Teori air dalam gelas ini ( benar-benar hasil rekayasa penulis belaka ), bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa yang bisa menghitung amal-amalan manusia selama di dunia ini hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Baiklah, kita mulai bahasan ini dengan cerita tentang anak sekolah.

Bila kita menjadi seorang guru, tentu kita akan memberikan nilai terbaik             ( sepuluh atau seratus ) kepada mereka yang dapat mengerjakan soal yang telah kita berikan. Salah satu dapet sembilan, salah dua dapet delapan, dan seterusnya. Semakin banyak yang salah, maka nilai pun akan semakin kecil.

Tapi tahukah mereka ( guru-guru ), dan pedulikah mereka, siapa diantara murid-murid mereka itu yang berusaha lebih keras. Saya yakin nggak, yang guru-guru tahu hanyalah salah satu dapet sembilan, salah dua dapet delapan dan seterusnya. Dan memang usaha tidak membantu dalam hal pemberian nilai dalam ujian. Dan itulah model daripada hitungan manusia.

Seorang guru tidak akan menghitung ketetapan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada anak didiknya. Bodoh misalkan. Usaha si bodoh dalam hal belajar, tidak akan dapat mempengaruhi nilai yang didapat. Kalau salahnya tujuh ya pasti dapet tiga.

Catatan : sebelum saya lanjutkan mari kita jujur kepada diri kita masing-masing. Bahwa perkataan yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang bodoh itu salah adanya. Karena memang ada orang yang bodoh. Kalau nggak percaya, ambil sepuluh orang anak, kasih mereka pelajaran yang benar-benar mereka belum tahu sebelumnya. Maka, disana akan terlihat, kemampuan seseorang dalam mencerna sesuatu akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi kalau perkataan yang seperti ini saya setuju. “ tidak ada orang yang pinter pada setiap bidang, dan tidak ada orang yang bodoh pada setiap bidang”. Karena memang ada yang gampang ngerti matematika tapi susah dipelajaran hapalan. Ada yang jelek di semua pelajaran, tapi olahraganya bagus. Dan sebagainya.

Beda dengan hitungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghitung daripada besaran usaha dan kesungguhan seseorang dalam belajar. Karena memang Dia sendiri yang menetapkan seseorang bodoh dan seseorang itu pinter. Coba kita lihat hitungannya dibawah ini :

Saya misalkan di sini, gelas yang kita pakai itu mempunyai ukuran 0 samapi 10. Dan si Z Allah Subhanahu wa Ta’ala kasih kepintaran dalam hal berhitung sampai pada titik 6 sedangkan si Y, Allah Subhanahu wa Ta’ala kasih kepintaran dalam hal berhitung cuman pada titik 1. Ternyata setelahnya ujian, si Z mendapatkan nilai 8 dan si Y mendapatkan nilai 5. Kalau manusia yang ngitung, maka hasilnya adalah hasil akhir, yaitu si z dapat 8 dan si Y dapat 5. Tapi kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ngitung, si Z dapat 2 dan si Y dapet 4. Nilai si Y yang lebih tinggi dari si Z itu dapat terjadi karena besaran usaha yang dapat menghasilkan perubahan dari ketetapan yang telah ada. karena mungkin, untuk mendapatkan nilai 8 tadi si Z hanya perlu belajar satu sampai dua jam saja. Tapi untuk si Y mungkin nilai 5 tadi, dia dapet dengan belajar semalam suntuk. Itulah perbedaan hitungan manusia dengan yang empunya manusia.

Begitu juga dengan amal-amalan manusia. Ada orang yang enteng banget kalau berpuasa, dan ada juga yang lebih senang mengerjakan shalat malam. buat orang yang satu memberi itu mudah ( meskipun tidak berkecukupan ) tapi buat orang yang lain lagi lebih mudah shalat berjama’ah di mesjid. Mungkin bagi seseorang ikhlas itu mudah, tapi belum tentu bagi yang lainnya. Lain dari pada itu, mungkin bagi seseorang itu mudah mengerjakan ikhlas dalam hal shalat, tapi sukar ikhlas dalam hal memberi. Dan lain sebagainya. Banyak tipe-tipe manusia dalam beramal. Dan kesemuanya itu adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap yang namanya manusia.

Dan apalagi ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal beramal yang Dia berikan kepada manusia….?

Banyak. Yang diantaranya, manusia harus shalat dengan khusyu. Manusia harus memberi dengan ikhlas, manusia harus sabar, manusia harus zakat, dan lain sebagainya. Tapi saya katakan di sini, ikhlas yang satu dengan ikhlas yang lainnya, akan mempunyai nilai berbeda di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, akan mempunyai nilai tersendiri di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian, tetep saja ada yang musti dapat diraih oleh yang namanya manusia, yaitu  shalat itu sepeti ini…, puasa seperti ini…, ikhlas itu seperti ini…, dan lain sebagainya. Dan semuanya itu mempunyai sangsi apabila tidak memenuhi kriteria ataupun ketentuan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan. Atau dengan kata lain, angka 10 bagi anak tadi tetap merupakan sesuatu yang musti di raih. Oleh semua makhluk yang mananya manusia. Buat orang bodoh dan orang pinter sama, untuk orang kaya dan miskin pun sama. Semua orang harus ikhlas, semua orang harus sabar, dan harus-harus yang lainnya.  Tapi ingat….! Itu adalah sesuatu yang musti di raih ( angka 10 ), bukan prasyarat sebuah ibadah. Karena seperti yang telah saya sebutkan di bab terdahulu, seandainya ikhlas itu termasuk syarat-syarat mutlak untuk melaksanakan sebuah ibadah, maka alangkah baiknya kalau kita belajar ikhlas dulu, baru belajar shalat. Belajar ikhlas dulu, baru belajar puasa. Dan mungkinkah ikhlas itu dipelajari….? Karena yang pantes seperti ini, marilah kita belajar memberi dengan ikhlas. Marilah kita belajar shalat dengan khusyu, dan lain sebagainya. Sedangkan mau khusyu mau enggak shalat itu tetep wajib, mau ikhlas mau nggak, memberi itu di anjurkan. Oleh karena itu, ikhlas merupakan penyempurna dari hal kita memberi dan khusyu adalah penyempurna dari hal kita shalat.

Lalu apa hubungannya dengan gelas tadi….?

Kita ambil contoh ikhlas. Telah saya sebutkan tadi, bahwa ikhlas mudah bagi seseorang ( mungkin ) tapi tidak bagi yang lainnya. Kita bisa ikhlas dalam shalat, tapi belum tentu dalam hal memberi.

Ikhlas adalah : seseorang yang melakukan sesuatu ibadah, hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Sedangkan tidak ikhlas adalah : seseorang yang melakukan sesuatu ibadah tidak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Bahkan mungkin tidak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali.

Contoh:

Dalam perjalanan hidupnya, setiapa amalan dan gerak-gerik manusia tidak akan luput dari pencatatan. Dikisahkan di sini, ada pemuda yang bernama Entong. Dia termasuk orang yang lumayan rajin dalam hal beribadah. Kalau kita pakai hitung-hitungan tingkatan di atas, maka dia bisa digolongkan pada tingkatan no.2 dari bawah. Lumayan, karena akan susah bagi seseorang, untuk mendapatkan no.2 diatas apalagi no.1 kalau tidak bisa meraih yang no.3 dulu.

Suatu ketika adzanpun berkumandang. Dan seperti biasa diapun bersegera untuk untuk melaksanakan shalat maghrib berjama’ah di mesjid terdekat. Banyak pahala yang akan dia dapat. Mensegerakan shalat, pergi shalat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk mesjid, berdiri di barisan depan, dan lain sebagainya. Yang mungkin saya tidak tahu.

Selepas shalat tahyatul mesjid, disaat Entong menengok kekiri dan kekanan diakhir shalat, sejurus dia melihat calon mertuanya di pinggir bagian belakang.

Lalu apa yang terjadi…..?

Dia tambahin shalat sunatnya, lalu dibagus-bagusin deh shalatnya…..!

Karena apa…..? karena calon mertua….!

Dan artinya apa…..?

Bahwa ikhlas itu bersifat tidak tetap.

Oleh karena itu, apalah artinya ikhlas tanpa amalan. Atau dengan kata lain, ikhlas tidak akan ada tanpa amalan. Maka kerjakanlah dulu amalannya, yang mudah-mudahan ikhlas bisa menyertainya.

            dan karena dasar itulah, maka penulis berkesimpulan orang yang berada pada no.2 belum tentu lebih bagus dari no. 3 di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan begitupun juga sebaliknya. Kecuali no. 1 ( karena inilah memang yang terbaik).

Saya ambil contoh shalat,

Orang yang shalatnya selalu tepat waktu, sunatnya ada, belum tentu lebih baik daripada yang shalatnya asal-asalan. Karena memang kita nggak pernah tahu ketetapan awal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kedua orang tadi. Maka seandainya orang yang shalatnya bagus tadi mempunyai titik 7 pada awalnya, maka ketika dia mendapatkan nilai 9, itu hanya akan menhgasilkan 2 poin. Karena mungkin bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, air nya tumpah sudah menjadi keharusan untuk orang yang seperti itu. Bandingkan dengan yang ke dua. Misalkan dia mendapatkan nilai 1 pada awalnya. Maka ketika dia mendapatkan nilai 5 dalam hal shalat, itu sudah cukup bagus menurut pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perpindahan nilai dia adalah 4. Dan bukan nggak mungkin, itulah yang maksimal untuk orang itu. Karena kita nggak akan pernah tahu, betapa susahnya, bagi orang tadi dalam menunaikan shalatnya. Godaan dari luar dan dari dalam dirinya sendiri datang silih berganti. Atau dengan kata lain, mungkin perjuangan orang yang shalatnya dapat nilai 5 itu jauh lebih dahsyat daripada orang tadi yang mendapatkan nilai 8. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan ibadah seseorang.

Bukti pendukung 1

Syaikh Fudail bin Iyadh adalah salah satu guru Imam Asy-Syafii. Semasa beliau masih menjadi orang jahat, dia bermaksud mengganggu  seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan Al-Qur’an yang artinya :

             “belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebenaran tang telah turun ( kepada mereka)”. (QS. Al-Hadiid ; 16 )

Ayat tersebut menyentak sanubari beliau. Membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba beliau merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia menghiba, “oh Tuhan, telah tiba waktuku” beliaupun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.

Karena kemalaman di jalan, beliau beristirahat di sebuah rumah kosong yang di termuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musyafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.

“ayo kita berangkat sekarang juga,” dari luar bilik berliau mendengar seorang dari mereka berkata demikian.

Yang lain menjawab, “ jangan, lebih baik tunggu sampi pagi, sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.”

Beliau menampakan dirinya sambil berkata, “akulah Fudhail, tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.

( dikutip dari islamia edisi april-juni 2005)

Pemahaman penulis mengenai cerita  di atas.

Hidayah, itulah yang didapat oleh seorang Fudhail bin Iyadh. Lalu pertanyaannya, kenapa beliau itu bisa mendapatkan hidayah….? Meskipun pemberian hidayah itu adalah sepenuhnya hak daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi saya nggak yakin kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sesuatu itu ( hidayah ) dengan percuma. Pasti ada sebab yang membuat_Nya demikian. Karena seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah tanpa sebab apapun                              ( sekehendak_Nya), itu akan menyalahi keMaha Adilan_Nya. Karena memang semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu nggak ada yang rancu kalau kita mau memikirkannya. Dan kalaupun ada yang rancu menurut pikiran kita, pasti pikiran kitalah yang salah, bukan pada ketentuannya.

Coba bayangkan, seorang Fudhail bin Iyadh yang penyamun, pemerkosa, dan yang di takuti oleh penduduk ini, bisa langsung baik karena sebuah hidayah. Padahal secara kasat mata ( pandangan kita secara amal-amalan dunia bukan hati ), orang yang seperti itu, tidak layak mendapatkan hidayah. Tapi mengapa demikian…?

  • Mungkin dia mempunyai kebaikan yang tidak di ketahui oleh penduduk negeri pada waktu itu.
  • Mungkin beliau seharusnya menjadi penjahat yang lebih besar daripada yang diceritakan pada kisah itu. ( misalkan dia dikasih sifat jahat pada titik 8 ). Maka ketika dia hanya melakukan kejahatan pada titik 4 ( yang mungkin bagi kita sudah sangat jahat sekali ) maka itu adalah sebuah perjuangan yang tidak sedikit. Dan tidak semua orang bisa melakukannya.
  • Cobalah kita berfikir….? kenapa dia bisa jadi salah satu guru daripada Imam Asy-Syafi’i…..? tidak mudah untuk menjadi guru salah seorang Imam besar. Pasti banyak kelebihan dan kebaikan   yang beliau punyai dalam kehidupannya. Dan kelebihan dan kebaikannya itu, pasti ada sebelum beliau mendapatkan hidayah. ( padahal secara lahiriyah beliau adalah seorang penjahat).

Dan karena alasan-alasan itulah yang mungkin menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah_Nya kepada beliau.

Bukti pendukung 2

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak, Anas bin Malik r.a. dan Abdullah bin Abbas r.a. ditengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah An Nahlam Al-Adwi, atau seorang lelaki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya,    “ hendak kemana engkau wahai Umar…?”

Lantas dijawab oleh Umar dengan geramnya, “ Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek moyang. Aku ingin membunuhnya.”

Orang tadi lalu berkata kepada Umar, “ demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad…?” Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad…?”

Umar kemudian menjawab, “ menurut pengamatanku, rupanya engakau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engakau peluk selama ini.”

Orang itu lantas menjawab, “ bagaimana jika kutunjukan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar….? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu…!”

Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan bergegas menuju rumah Fathimah binti Al-Khaththob, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu sa’id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbab bin Al-Arat r.a. mereka sedang mendengarkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Khabbab . yaitu, dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan. Sedangkan Fathimah menyembunyikan shahifah (lembaran) berisi ayat Al-Qur’an. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.

“ Apa suara bisik-bisik yang kudengar dari kalian tadi…?” tanya Umar ketika sudah masuk rumah.

“Hanya sekedar obrolan diantara kami,” jawab Fathimah dan suaminya.

“Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama,” kata Umar lagi.

Kemudian Said bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, “ wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu…?”

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik. Lantas menginjak-menginjaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengankat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah. Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya, sementara Fahimah dengan berang berkata kepadanya, “wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.”

Kemudian Fathimah berkata lagi, “ wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada illaah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Umar mulai putus asa, dan dia melihat darah yang mengalir dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, “ serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!”

Tetapi Fathimah menjawab, “ engkau adalah orang yang najis, shahifah ini tidak boleh di sentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!”

Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang shahifah tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thahaa (20) dari awal dengan membaca “ bismilaahirahmaanirrahiim.”

Lalu Umar berkata, “ nama-nama yang bagus dan suci”

Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di ayat empat belas,

 “ sesungguhnya Aku ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat_Ku.”

Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata,” alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukan padaku dimana Muhammad berada saat ini….!”

Dan singkat cerita masuk islamlah Umar bin Khaththob…..! Alhamdulillah….!

            Lalu…., apa yang kita dapatkan dari cerita tadi di atas….?

Cerita tadi di atas, seakan memberi pelajaran kepada kita, bahwa yang namanya hidayah itu bukanlah pemberian secara cuma-cuma. Tapi harus ada suatu kebaikan yang ada  pada diri kita. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayahnya. Dan kebaikan yang ada itu, biasanya dari hasil kita berfikir dan merenungi kehidupan ini.

Oleh karena itu, marilah kita renungkan kebaikan-kebaikan yang ada pada Umar bahkan sebelum beliau memeluk Islam.

  • Dalam cerita di atas, dikisahkan bahwa beliau bermaksud mendatangi Rasul dengan amarahnya. Dan itu berarti, beliau termasuk orang yang sangat mencintai agama yang beliau pegang. ( mempunyai tingkat fanatisme yang tinggi ). Dan itu sangat baik bagi seorang pemeluk agama.
  • Dan dalam cerita di atas Umar berkata,” aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek moyang.” Dan itu berarti, beliau sangat mencintai tanah airnya.
  • Lalu orang yang beliau temui berkata, “demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad…?” Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad…?” dan itu berarti, beliau orang yang pemberani. Agama yang beliau pegang lebih berarti dari nyawanya sendiri.
  • Lalu kembali orang itu berkata, “bagaimana jika kutunjukan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar….? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu…!” dan itu berarti, dalam menegakan hukum ( yang menurut dia benar) beliau tidak pilih kasih, bahkan sama saudaranya  sendiri. Bahkan yang lebih mengagumkan, beliau mementingkan dalam hal membereskan saudaranya sendiri dari pada orang yang ada dihadapannya.
  • Kecintaan beliau pada tanah air dan agama yang beliau pegang, beliau tunjukan dengan ayunan tangannya kepada adik ipar dan adik tersayangnya. Bukan hanya basa-basi.
  • Disebutkan dalam cerita tadi, bahwa beliau merasa menyesal dan malu tatkala melihat darah yang mengalir pada bibir adiknya. Dan itu menandakan adanya rasa kasih yang besar dalam dirinya.
  • Dan ini yang membuat saya terkagum-kagum. Disebutkan di sini, beliau coba meminta lembaran-lembaran yang tadi di baca oleh Khabbaab. Dan apa kata Fahimah…? Dia berkata, “engkau adalah orang yang najis, shahifah ini tidak boleh di sentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!” di sinilah letak kekaguman saya. Beliaupun dengan serta merta menuruti perkataan adiknya. Padahal kalau mau…., beliau bisa merebut lembaran-lembaran itu dari tangan adiknya. Dan ini berarti, beliau sangat menghormati aturan yang ada. bahkan aturan yang ada dalam agama lain. Meskipun dia sangat membencinya. Karena belliau faham betul, bila kita mau memasuki daerah orang lain, maka peraturan orang lain itulah yang berlaku. Padahal pada waktu itu, beliaulah yang berkuasa. Beliau bisa berlaku sekehendak hatinya. Pada waktu itu dan di tempat itu.
  • Dan perlu diingat, beliau mempunyai kebaikan-kebaikan itu sebelum beliau masuk islam. Beliu memiliki kebaikan-kebaikan itu, pada jaman kebodohan dan maraknya maksiat. Bahkan saya berani katakan, bahwa beliau sudah mempunyai sifat-sifat yang layak dimiliki seorang muslim sebelum dia masuk islam. Dan mungkin karena itulah beliaupun mendapatkan hidayah.

Namun demikian, mungkin banyak diantara pembaca yang mengatakan bahwa, Umar bin Khaththab mendapatkan hidayah karena do’a daripada Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena memang Umar bin Khaththob termasuk salah satu target yang diinginkan oleh Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam guna membantunya  dalam berdakwah.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzii dari Abdullah bin ‘Umar r.a. dan Ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas’uud dan Anas bin Malik r.a. bahwa nabi Muhammad saw bersabda dalam do’anya, “ Ya Allah, kokohkanlah islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Al-Khaththob atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).

Tapi kalau menurut pendapat saya, itu adalah bukan sebuah alasan ataupun sebab daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah_Nya. Karena kalau demikian, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri akan mempertanyakan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal memberikan hidayah_Nya. Mengapa demikian….?

Hadist Bukhori dalam shahihnya, kitab tafsir no. 4675 dan 4772, Muslim no.24, dari Al-Musayyib bin Hazn berkata, “Ketika Abu Thalib hampir mati, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengunjunginya. Dan mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah di sisi Abu Thalib. Lalu Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,” wahai paman, ucapkanlah laa ilaha ilallah, suatu kalimat yang aku akan membelamu karena ucapan itu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Abu jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “ apakah kamu membenci agama Abdul  Muthalib…?”

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus menerus menawarkan kepada pamannya untuk mengucapkannya. Tetapi kedua orang itu terus mengulang-ulang, hingga akhir ucapan Abu Thalib adalah tetap enggan mengucapkan laa ilaha ilallah. Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “ aku benar-benar akan memintakan ampunan selama tidak dilarang.”

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat,

            “tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang-oorang yang musrik, walaupun orang-orang yang musyrik itu adalah kaum kerabatnya. Sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik adalah penghuni neraka jahanam.” ( At-Taubah : 113 )

Ayat ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenaan dengan Abu Thalib. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam :

            “ Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. “ ( Al-Qoshosh :56).

Coba kita renungkan…..? mungkinkah Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendo’akan Abu Thalib hanya pada waktu itu saja,,,,? Saya kira nggak. Bahkan mungkin permintaan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  prihal Abu Thalib akan menjadi menu do’anya sehari-hari. Tapi kenapa,do’a beliau untuk Umar dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan do’anya untuk Abu Thalib tidak….? Kalau seandainya hidayah yang didapat oleh Umar itu adalah semata karena do’a dari Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam tadi.

Oleh karena itu, orang yang mendapatkan hidayah dapat dilihat secara kasat mata. Orang itu akan nampak baik dalam kesehariannya.

Contoh :

Kita dapat melihat perbedaan antara  orang kafir yang masuk islam karena mendapatkan hidayah, dan orang kafir yang masuk islam karena faktor lain. ( karena menikah dan tertarik dengan kebudayaan islam misal) orang kafir yang masuk islam karena hidayah, akan dengan mudah melaksanakan agama ini dengan segala kebaikannya. Karena memang pada dasarnya, orang ini mendapatkan hidayah karena kebaikannya. Atau dengan kata lain, orang seperti ini, sudah mempunyai sifat atau prilaku islami sebelum dia masuk islam. Beda dengan orang kafir yang masuk islam karena hal lain. Bahkan ada kecenderungan untuk kemballi lagi kepada agamanya yang semula.

Catatan :

Kalau kita lihat bahasan di atas, seakan menegaskan kepada kita, janganlah menilai amalan seseorang. Karena itu benar-benar hak_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Abu Thalib pamannya Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang kafir terbaik pada waktu itu.( menurut pandangan manusia). Sedangkan Umar bin Khaththob termasuk orang kafir ter…..pada waktu itu, Umar mendapatkan do’a dari Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam, apalagi Abu Thalib. Bahkan mungkin, kalau dipikir-pikir, do’a yang didapat umar hanya setengah… ….! karena Abu Jahal termasuk di dalamnya. Tapi siapa yang mendapatkan hidayah….?

Dan selain itu, dari benar tidaknya cerita tadi, dan dari benar tidaknya pemikiran saya tadi, alangkah baiknya kalau kita tidak pernah menyepelekan amal-amalan seseorang. Karena seperti gelas yang berisi air tadi, kita nggak pernah tahu, seberapa hebatnya perjuangan seseorang yang mengerjakan shalat hanya sekedarnya…? Bila dibandingkan dengan seseorang yang mungkin mengerjakan shalat dengan sempurna. Dimana perjuangannya itu akan mendapat nilai tersendiri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga…..!

Bukti pendukung 3

            Khusnul khotimah dan su’ul khotimah. Dimana keduanya adalah merupakan bukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan kebaikan bagi siapa saja yang berusaha untuk baik, meskipun dalam kesehariannya belum tentu baik ( menurut pandangan kita).

Bahkan banyak kaum muslim yang ngomong seperti ini, “ mau bagaimanapun kita hidup, yang penting mah khusnul khotimah”.

Tapi yang pasti…., apa mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menentukan seseorang itu khusnul khotimah ataupun nggaknya, asal comot saja….! Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan sesuatu tanpa sesutau dari umat_Nya ( adil ). Bahkan untuk seorang pemabuk sekalipun. Seandainya dia bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, pasti ada sesutu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pandang baik daripadanya.

 

Mengubah keadaan 1

Coba kita kembali kepada cerita keluarga pada awal bab tadi. Di mana, keluarga tersebut tidak akan mendapatkan perubahan yang berarti seandainya mengambil opsi perubahan bentuk usaha dan dari malas jadi rajin. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang memegang segala urusan, termasuk rezeki. Oleh karena itu, rajin dan perubahan bentuk usaha hanyalah sebagai sarana dalam memperbaiki kehidupan.

Dan karena alasan yang seperti itulah maka singkat cerita sang suami sebagai pemimpin keluarga memberikan peraturan ketat untuk dirinya dan anggota keluarganya. Yang terutama dalam hal perbaikan akhlak diri dan keluarganya. Dia rubah cara dia berdagang, bermasyarakat, mendidik anak dan lain sebagainya. Pokoknya dia menerapkan sesuatu yang baru dalam kehidupannya. Dan itulah bentuk usaha yang dia lakukan, untuk memperbaiki kehidupannya.

Dan diceritakan di sini, dia yang dulu sangat rajin dalam menjalankan usaha dagangnya, sehingga melupakan kewajiban dia terhadap sang pencipta, sekarang sudah mulai berubah. Kalau dulu nggak keburu shalat, sekarangmah jadi rajin shalat. Bahkan berjama’ah di mesjid terdekat. Kalau dulu sang isteri sibuk membantu dalam mengembangkan usaha suami, sekarang dia mengaharuskan sang isteri sungguh-sungguh dalam mengurusi anak-anaknya. Begitupun dengan hasil dagang, dia tidak segan-segan untuk melepas sebagian hasilnya guna kepentingan agama. dan lain sebagainya. Pokoknya, semenjak itu dia telah benar-benar berubah. Dari pedagang yang mencurahkan semua tenaga dan waktunya guna perkembangan usaha dagangnya, menjadi pedagang yang mengharapkan ridlo_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya yakin…., perubahan itu akan nampak semenjak dia berubah. Dimana perubahan itu akan berbanding lurus dengan usaha yang dia lakukan dalam mencari ridlo_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan yang perlu diingat dalam hal ini adalah, janganlah kesempurnaan islam menjadi penghambat kita dalam berubah. Artinya apa,,,,,? Jangan sampai kebelum sanggupan kita dalam melaksanakan kesempurnaan islam, menghambat kita dalam berubah. Kalau memang kita hanya bisa merubah dari tidak shalat menjadi shalat alakadarnya, maka laksanakanlah yang anda bisa. Dan seperti tadi, perubahan itu akan terasa semenjak kita melaksanakan shalat alakadarnya itu. Namun seperti tadi pula, perubahan yang alakadarnya hanya akan mendapatkan hasil yang alakadarnya….!!!!

( Dan teori inilah yang saya gunakan dalam mendakwahi diri saya sendiri. Saya biarkan diri saya masuk dari arah manapun yang saya inginkan. Karena yang terpenting dalam hal ini adalah, bukan darimana kita masuk, tapi tujuan kita masuk ).

Dan di akhir pembahasan ini, saya mempunyai beberapa point yang mungkin akan sangat berguna bagi para pembaca :

  • Pertama-tama biarkan kita masuk dulu. Atau dengan kata lain usahakan sebuah perubahan. Misal :

Ketika kita tidak pernah shalat, cobalah shalat meskipun hanya alakadarnya. Atau ketika kita memang sudah terbiasa shalat, cobalah untuk belajar tepat waktu dan berjama’ah. Dan seterusnya. Yang tidak biasa memberi, biasakanlah untuk memberi. Yang tidak biasa mengucapkan salam, biasakanlah untuk merubahnya. Yang terpenting dalam hal ini adalah berubah.  Cobalah anda mulai merubah prilaku anda walaupun hanya sedikit.

  • Kita  bisa masuk dari pintu mana saja. Yang penting kita tahu akan tujuan akhir kita. Kita bisa lewat materi, pekerjaan, jodoh dan lain sebagainya.
  • Carilah sesuatu yang menjadi keunggulan kita dalam hal ibadah. Kalau kita merasa mudah dalam hal memberi, maka perbanyaklah memberi. Kalau kita mudah dalam hal shalat malam, maka perbanyaklah shalat malam. dan begitupun dalam hal puasa dan lain sebagainya.
  • Cobalah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Minimal kepada seseorang yang berada di bawah kesanggupan kita. Misal : seandainya kita sebagai seorang ayah tidak suka shalat berjama’ah, hal itu jangan membuat kita melakukan  pembiaran kepada anak kita prihal shalat berjama’ah. Meskipun hal itu salah adanya, tapi akan lebih salah lagi kalau kita melakukan pembiaran.
  • Ikhlas, sabar, khusyu  dan lain sebagainya. Yang merupakan ciri daripada kesempurnaan islam, adalah sesuatu yang musti kita capai. Bukan prasyarat kita beribadah.
  • Dan yang terakhir, cobalah untuk berlajar agama walaupun hanya alakadarnya.  Bisa lewat cd, pengajian, buku dan lain sebagainya. Mau didengar ataupun tidak, mau dilaksanakan ataupun tidak, itu terserah. Karena yang terpenting dalam hal ini adalah ketahuan kita akan agama yang kita pegang. Yang mudah-mudahan akan menjadi pemicu kelanjutan dari ibadah kita yang serba alakadarnya itu. Yang akhirnya menuju kepada kesempurnaan islam tadi.

 

Mengubah keadaan 2

            Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”( QS Ar-Ra’d : 11 )

Telah saya uraikan di atas, bahwa perubahan yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas adalah perubahan akhlak. Lalu timbul pertanyaan….., mengapa ada ( bahkan kebanyakan mungkin ) orang yang melakukan perubahan bukan pada akhlak mereka, tapi berhasil…..?

Dan itulah yang dinamakan istidraj versi orang bodoh. Karena memang ada dua buah model istidraj versi bodoh. Yaitu orang-orang yang benar-benar tidak mengenal agama ( meskipun beragama ) dan orang-orang yang kenal agama. Dan itu dapat dilihat kalau kita mau memperhatikan sekitar kita ( lingkungan sosial kemasyarakatan ).

Selalu tersedia dua opsi untuk mengatasi permasalahan hidup. Pendekatan secara agama atau logika. ( dan untuk memudahkan pemahaman, saya misalkan orang miskin yang kepengen kaya).

Pendekatan secara agama :

  • Apabila berhasil nggak ada masalah. ( meskipun sebenarnya akan banyak masalah). Tapi kalau bahasan yang seperti ini, maka saya katakan nggak ada masalah. Karena memang itulah tujuannya.
  • Apabila nggak berhasil, maka ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan. Misal :
    • Coba kita renungkan sejenak, apa kira-kira yang terlintas di benak kita seandainya kita kaya. Apakah akan berfoya-foya…., punya selingkuhan…., membalas sakit hati….., dan kejelekan-kejelekan lainnya. Yang mungkin itu menjadi salah satu penghambat dari pada keberhasilan kita dalam merubah hidup. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat menyayangi kita. Oleh karena itu, sangat tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menjerumuskan kita kepada sesutau yang merugikan. ( kalau kita pandang dari tujuan sebenarnya kita hidup di dunia ini ).
    • Jangan abaikan teori air dalam gelas tadi. Karena seandainya kita berubah dari titik 3 kepada titik 4, sedangkan kita mendapatkan awal pada titik 5 ( yang merupakan batasan awal pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka artinya, kita masih sedikit dalam hal melakukan perubahan. Dan itu terjadi karena, kita terlalu jauh terperosok dari batasan minimal pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi. ( meskipun memang, pada dasarnya hasil itu teteplah ada. hanya belum terasa, ataupun masih jauh dari harapan kita mungkin).
    • Konsistensi kita dalam melakukan perubahan. Dan inilah yang tersulit saya kira.

Pendekatan secara logika

Apabila berhasil berarti kita mendekati istidraj ( siksa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kalau kita lihat daripada tujuan sebenarnya kita hidup di dunia ), sedangkan kalau tidak berhasil, berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala masih menyayangi kita.               ( karena menjauhkan diri kita dari istidraj ).

Pendekatan agama dan logika

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”( QS Ar-Ra’d : 11 )

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Dan ini berarti, kita sebagai manusia senantiasa harus mempergunakan akal dan fikiran, dalam hal mencapai segala yang kita inginkan.

Contoh,

  • Bila sakit harus berobat
  • Pengen kaya, harus hemat dan bekerja keras
  • Gagal pada usaha yang A coba yang B
  • Jadi petani gagal, bagaina kalau jadi artis….!
  • Dan sebagainya.

Dan memang, begitulah seharusnya manusia. Seorang manusia harus mempergunakan fikirannya pada setiap keadaan.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan perkataannya dengan perkataan sebagai berikut, “Dan apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.  Ini berarti, segala daya dan upaya kita dalam melakukan sebuah perubahan akan terbentur dengan sang penentu. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekeras apapun kita berusaha, tanpa ijin dari pada Allah, maka semuanya sia-sia. Sehebat apapun yang namanya obat dan pengobat, tidak akan dapat menyembuhkan tanpa seijin dari pada yang punya sembuh itu sendiri. Mengapa demikian….? Karena memang, obat adalah sebuah sarana dalam menggapai sembuh. Sedangkan sembuhnya itu sendiri kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kerja keras adalah sarana kita dalam mendapatkan materi. Sedangkan materinya sendiri adalah kepunyaan Allah. Begitupun dengan berdagang dan bertani. Itu adalah hanya sarana yang tersedia dalam hal menggapai yang namanya materi tadi. Oleh karena itu, ada dua tindakan yang harus dilakukan oleh setiap manusia yang menginginkan perubahan.

  • Perubahan yang berdasarkan logika kita sebagai manusia
  • Perubahan yang berlandaskan keimanan.
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: