Home > Uncategorized > PADA MEREKALAH INDONESIA BERHARAP

PADA MEREKALAH INDONESIA BERHARAP

Telah saya sebutkan tadi di awal, bahwa akan sangat sulit untuk dapat merubah sesuatu yang bersifat menyeluruh. Bahkan mungkin kita termasuk di dalamnya. Namun demikian, ada sebagian daripada penduduk bangsa ini yang saya kira dapat mempercepat perubahan tersebut. Dimana kita menyebut mereka itu sebagai pemimpin.

 

Pemimpin pemerintahan.

  • Kita mulai dari rukun islam yang kentara. Yaitu shalat jum’at dan puasa.

Saya harap pemerintah ikut campur tangan dalam hal memberi sangsi kepada umat muslim yang tidak shalat jum’at dan tidak menunaikan puasa di bulan ramadhan. Meskipun itu tidak mungkin secara HAM dan demokrasi, tapi saya kira kata-kata “wajib” dalam islam itu sendiri, sudah cukup bagi pemerintah dalam hal pemberian sangsi

  • Pembatasan jumlah tempat-tempat maksiat.

Saya kira, pada tempatnyalah seandainya umat muslim merasa terganggu oleh tempat-tempat maksiat yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah seandainya umat muslim di negara ini, mempermasalahkan berdirinya tempat-tempat maksiat itu di tempat mereka tinggal. Karena memang, seandainya disuatu wilayah penduduk muslimnya lebih dari 75 persen, maka bolehlah kita sebagai umat muslim mempertanyakan maksud dari berdirinya tempat maksiat tersebut ( bahkan sampai memperkarakannya sekalipun ). Karena memang…., untuk siapa sebenarnya tempat maksiat itu didirikan…..? oleh karena itu, sudah sepantasnyalah seandainya pemerintah mempertanyakan target pasar yang akan mereka raih dari pendirian tempat maksiat tersebut. Seca. Karena memang, seandainya jumlah tempat maksiat itu sudah melebihi kapasitas yang layak ( kalau kita lihat dari segi profit ), apabila kita bandingkan dengan populasi umat yang non muslim di wilayah tersebut, berarti ada kecenderungan pendiri tempat maksiat itu, menyediakan tempat maksiat untuk umat muslim juga ( bahkan yang dominan kayaknya).

  • Membatasi siaran televisi yang berbau fornografi dah ghibah.

Dalam hal ini saya tidak mengatakan penghapusan…., tapi pembatasan. ( ya kalau bisa dihapus sih terimakasih). Artinya apa….? Meskipun tidak mungkin juga kayaknya kalau semua siaran terlevisi menampilkan orang-orang yang berkerudung, namun saya harapkan yang pakai bikini cobalah sensor. Yang  biasa pakai  rok mini, ganti pakai rok mini yang agak panjang, bahkan kalau bisamah, pakailah rok mini yang sampai kemata kaki. Kan bagus menurut agama. Tapi tidak menurut mata……!!!

  • Saya menunggu anda-anda para penguasa dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar. “ masa seorang jenderal tidak bisa beramar ma’ruf…., bahkan kepada seorang anak jalanan sekalipun….?”
  • Sampai saat ini saya masih tetep yakin. Bahwa, lebih dari setengah bahkan tiga perempat mungkin, pemerintahan yang ada sekarang ini adalah orang-orang baik. Hanya waktu, tempat dan keadaanlah yang menyebabkan segala sesuatunya berkata lain. Oleh karena itu, saya menghimbau kepada orang-orang baik di dalam pemerintahan ataupun dewan, yang sulit sekali untuk menjadi baik, “ tidak ada istilah kepalang basah”. Karena memang seberapa besarpun dosa yang telah kita lakukan, ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan lebih besar daripadanya. Maka daripada itu, terus dan teruslah imbangi perbuatan dosa kita dengan berbagai kebaikan. Yang mudah-mudahan, kebaikan itu akan datang dengan sendirinya. ( lihat bahasan koruptorku tersayang)
  • Saya harapkan, pemimpin di negara ini berlaku layaknya manusia. Artinya apa….?

Seandainya saya jadi pemimpin, saya akan menilai kerja para bawahan saya layaknya seorang manusia. Yaitu hasil akhir bukannya laporan.

Misal :  Bila saya mengangkat menteri pertanian, maka saya akan melihat dari peningkatan tarap hidup petani. Kalau saya mengangkat menteri perhubungan, maka saya akan melihat sesutau yang tampak oleh mata bukannya laporan. Kalau saya mengangkat kapolri, maka akan saya lihat dari keamanan negara ini. Dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk setiap pegawai negeri yang makan dari uang rakyat, saya akan menerapkan peraturan ketat prihal prilaku dan hasil akhir. Bagus…, lanjut. Jelek …., berhenti. Karena memang itulah yang manusiawi. Itu berlaku dari tingkat daerah sampai pusat.

Contoh :

Ketika si A menjabat camat di suatu wilayah, maka dia harus berkesanggupan menaikan taraf hidup orang-orang yang berada pada wilayah yang dia pimpin. Maka ketika gagal…., pemberhentianlah solusinya. Tanpa uang pensiun. Dan itu lebih manusiawi dari pada melakukan mutasi apalagi pembiaran. Kalau memang rakyat yang menjadi acuan. Karena saya yakin, rakyat tidak akan rela apabila negara mengahambur-hamburkan uang untuk orang-orang yang tidak berguna. Seperti sekarang, salah di sini, mutasi kesana. Salah di sana mutasi ke sini……!!

  • Penghapusan kata-kata “mengabdi”. Mau mengabdi saja harus pakai nyogok…! Kan lucu….! Terus…., masa yang mengabdi pendapatannya lebih dari Rp 3000.000 bahkan sampai puluhan juta perbulan tapi yang kerja hanya dapat ratusan ribu rupiah…, dapet pengsiun lagi. Sudah gitu, jam kerjanya…, cuman setengah dari jam kerja para buruh. Lalu cara kerjanya…..? tahu sendiri bagaimana para pengabdi itu bekerja…..! Sudah begitu, mau dibilang mengabdi lagi biar terhormat…..!
  • Harus tahu, siapa yang majikan dan siapa yang pegawai.

Contoh :

Beberapa waktu lalu, pada kasus…., banyak elemen dari bangsa ini yang menghujat kepolisian. Lalu, apa komentar para petinggi POLRI mendengar hujatan tersebut….? Mereka tunjukan rasa tidak senangnya pada elemen masyarakat yang menghujat mereka. Mereka marah. Dan secara responsip, mereka dengan cepat membela rekan-rekannya yang di hujat. Bahkan ada yang berucap seperti ini, “ saya tidak terima institusi POLRI di hujat sedemikian rupa, saya masih mempunyai harga diri…., dan lain sebagainya.

Tanggapan saya…?

Saya jadi bingung….! Memang POLRI milik siapa….?  Oleh karena itu, semua orang yang bekerja untuk masyarakat sebuah negara ( apakah itu kejaksaan, dinas perhubungan, departemen pertambangan dan lain sebagainya ), harus menyadari siapa anda dan siapa masyarakat.

Lalu ada juga petinggi POLRI yang berucap seperti ini, “ anda harus tahu, kami adalah manusia. Dan masih banyak anggota POLRI yang baik, oleh karena itu….”

Tanggapan saya…..,

Masyarakat juga nggak bego kali. Kalau mereka menghujat salah satu instansi, mereka juga tidak serta merta menyalahkan semua yang ada pada instansi itu. Oleh karena itu, kalau anda-anda itu menyadari bahwa anda itu seorang pegawai ( jangan bersembunyi di balik kata mengabdi ) , maka selayaknyalah jika anda dengan cepat mengoreksi diri, bukan membela diri…..?  dan itulah kebiasaan manusia. Jika majikan menegornya……!

  • Dan lain sebagainya. Dan tugas kitalah sebagai umat muslim untuk memikirkannya.

 ( kalau saya yang jadi anggota DPR, atau mungkin presiden, menteri, atau mungkin gubernur, atau…., apa aja deh namanya…., tidak bisa membuat peraturan yang seperti ini hanya karena alasan terbentur kepada demokrasi dan HAM, hanya ada dua kemungkinan yang akan saya lakukan, keluar meninggalkan jabatan atau meninggalkan agama saya. Apalagi kalau didepan nama saya itu, ada gelar KH…, KH nya…..! malu saya….!)

 

Pemimpn agama

  • Kalau boleh, saya sarankan kepada para pemuka agama di negara ini, cobalah anda melihat kesekitar anda. Jangan selalu dan selalu anda melihat kepada jumlah dan kepatuhan para jama’ah anda. Cobalah anda berpaling ke arah lain yang lebih luas ( negara ini ). Sudah sebandingkah, jama’ah yang anda punya dengan jumlah pendosa di negara ini….?
  • Itu baru dari segi kuantitas. Belum lagi masalah kualitas. Pernahkah terbersit di benak anda ( para pemuka agama ataupun pendakwah ), sebesar apakah dakwah yang anda berikan bisa merubah prilaku jema’ah anda….? Karena kalau saya lihat, mereka ( tetangga dan keluarga saya ) yang mengikuti pengajian pada majelis-majelis ta’lim, tidak berubah menjadi lebih baik. Atau dengan kata lain, mereka ( keluarga dan tetangga saya ) yang mengikuti majelis ta’lim itu, hanya bertambah ilmunya ( itupun kalau nambah ), tapi tidak dengan perubahan prilaku. Bahkan yang ada, ( khusus bagi ibu-ibu ) mereka memindahkan dosa kepada dosa yang lebih halus.

Contoh :

  • Kalau dulu para ibu ngerumpi di halaman rumahnya, sekarang mereka ngerumpi sewaktu mereka berangkat ke pengajian dan sepulang dari pengajian. ( dan di tempat pengajian mungkin…! )
  • Kalau dulu para ibu tidak berhasil dalam mengurus anak-anaknya karena kesenangannya nonton televisi, sekarang karena sibuk pengajian.
  • Kalau dulu mereka menghabiskan uang suaminya ( beli kosmetik, gaun, sepatu dan lain-lain ) buat jalan-jalan dan nongkrong, sekarang mereka menghabiskan uang suaminya untuk beli kosmetik dan lain-lainnya itu beserta keperluan dia dalam hal pengajian.
  • Kalau dulu mereka berani membangkang kepada perintah suami karena sesuatu yang tidak perlu, tapi sekarang mereka berani membangkang karena pengajian.
  • Dan lain sebagainya.
  • Keterpurukan negara ini dalam hal moral, bukan tanggung jawab para pemimpin semata. Tapi juga anda para tokoh agama. ( lihat bahasan manisnya permen). Anak kita bisa sangat menyukai permen diakibatkan karena kita sebagai orang tua lalai, dalam hal memberikan pengetahuan akan kesehatan gigi. ( kalau memang permen itu bisa merusak kesehatan gigi ). Karena memang, dari dulu sampai sekarang belum pernah ada pemimpin di negara ini yang melarang dalam tanda kutip kebaikan.

Contoh :

  • Belum pernah saya mendengar dan merasakan ada pemimpin di negara ini yang melarang orang shalat berjama’ah.
  • Belum pernah saya mendengar dan merasakan ada pemimpin di negara ini yang melarang para orang tua yang mau mendidik anaknya secara baik.
  • Belum pernah saya mendengar dan merasakan ada pemimpin di negara ini yang melarang penduduknya untuk berzakat.
  • Dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu, saya rasa sudah cukup untuk dapat mengharapkan janji_Nya Allah
  • Dan kembali kepada bahasan manisnya permen tadi, janganlah kita memfokkuskan diri pada pengajaran prihal buruknya dampak permen bagi kesehatan gigi, tapi ajarkanlah kepada anak kita, bagaimana caranya merawat gigi. Oleh karena itu, mengajarkan islam secara baik dan benar akan lebih mengena daripada mengorek-orek keburukan peremen.
  • Memperbaiki cara dan materi dakwah.

Oke…., supaya lebih mengena, saya akan coba mengkritisi pemahaman islam yang sudah membudaya di negara ini, bahkan dunia sekarang ini      mungkin….!     ( supaya tidak menyesatkan, saya katakan di sini, ini adalah hasil pemikiran saya sebagai seorang muslim. Bukan apa kata Qur’an dan hadits….! )

Coba kita perhatikan apabila ada ceramah prihal keharusan seorang  anak ta’at kepada orang tuanya. Biasanya para pendakwah kita menerangkakan bagaimana seharusnya seorang anak berprilaku kepada orang tuanya. Yang intinya, menurut keterangan ini, apabila si anak begini “ dosa”, menurut keterangan yang itu, apabila si anak begitu “ dosa” dan lain sebagainya. Yang jelas biasanya para pendakwah kita memfokuskan diri kepada bagaimana harusnya seorang anak berprilaku kepada orang tuanya. Berdasarkan keterangan-keterangan tadi.

Dan saya katakan di sini,  kalau ceramah itu disampaikan pada jama’ah anda yang masih remaja atau belum punya anak, maka pada tempatnyalah kalau anda sebagai pendakwah memfokuskan diri kepada bagaimana seorang anak seharusnya berprilaku menurut islam. Tapi akan menjadi sebuah kesalahan fatal apabila yang menerima ceramah anda itu, adalah para orang tua. ( dan saya tekankan sekali lagi…, bahwa itu adalah sebuah kesalahan fatal, yang menjadi salah satu penyebab kemunduran islam pada zaman ini). Karena apa….? Karena dengan menerangkan bahwa seorang anak, dalam tanda kutip harus selalu mematuhi orang tuanya, di hadapan para orang tua, itu hanya akan menyebabkan kesombongan dalam tanda kutip, yang menyebabkan banyaknya anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya. Dan mungkin para pembaca setuju, kedurhakaan seorang anak kepada orangtuanya, akan memberi efek negatif pada kehidupan si anak tadi. Seperti terjerumus kepada kemaksiatan, susah mencari kebenaran dan lain sebagainya. Dan yang lebih parah lagi, bagi mereka, ilmu hanyalah sekedar ilmu, tidak pernah menjadi hidayah…..!

Lalu…., bagaimana kiranya menerangkan prihal keharusan seorang anak ta’at kepada orang tuanya di hadapan para orang tua….?

Pertama-tama terangkan dulu prihal kewajiban daripada orang tua. Misal :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan hendaklah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. ( QS.An-Nisaa : 9 )

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan, “ dan hendaklah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah”. Dan itu berarti, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan siksa ( karena kalau tidak ada siksa kita nggak usah takut ) apabila kita sebagai orang tua meninggalkan di belakang kita anak-anak yang lemah. Lemah di sini, mempunyai pengertian yang suat luas. Termasuk lemah agamanya. Lalu terangkan juga tentang ini,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.At-Tahrim : 6)

Dimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi adalah sebuah suruhan. Yang mana pada setiap suruhan ada dua kemungkinan. Pahala kalau dilaksanakan dan dosa kalau tidak dilaksanakan.

Lalu…,

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“ setiap anak lahir dalam keadaan beraqidah islam. Maka tanggung jawab orang tuanyalah jika ternyata anaknya itu kemudian beraqidah kufur seperti yahudi, nashrani atau majusi.” ( muslim )

Jadi begitulah kira-kira. Yang pada intinya, orang tua sangat bertanggung jawab atas kedurhakaan anaknya. Atau lebih ekstrimnya, kedurhakaan seorang anak kepada orang tuanya, adalah tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Atau, bab prihal keta’atan seorang anak kepada orang tuanya itu, lebih memberatkan kita sebagai orang tua daripada mereka yang sebagai anak.

Contoh :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka jangan kau katakan ‘ah’ kepada keduanya dan jangan membentak keduanya,” (QS.Al-Isra’:23)

Maka ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman_Nya prihal larangan seorang anak untuk berkata ‘ah’ dan membentak orang tuanya, itu bukan semata prihal kewajiban seorang anak saja. Tapi lebih dari itu, ayat tadi di atas  menerangkan, bahwa kita sebagai orang tua, harus mengetahui apa yang membuat anak kita berkata ‘ah’ dan yang bisa membuat anak kita berani membentak kita. Karena memang, dosa mereka sebagai anak, akan berefek kepada kita sebagai orangtua. Di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.

  • Saya sangat menunggu kiprah para tokoh agama prihal amar ma’ruf nahi munkar. Saya sudah merasa agak bosan melihat para tokoh agama yang berada di suatu wilayah, yang hanya bisa tersenyum dikala melihat seorang muslim yang tidak berpuasa. Saya sudah mulai jengah, melihat seorang tokoh agama yang hanya bisa tersenyum melihat orang sedang berjudi. Dan lain sebagainya. Padahal itu di wilayah dimana dia dianggap sebagai tokoh agama….? Apalagi di hadapan penguasa….? Para tokoh agama jaman sekarang lebih suka menjaga citra dirinya dengan toleransinya. Bahkan kepada ahli maksiat sekalipun….!
  • Sudah benarkah semua yang anda sampaikan……? ( hanya ngingetin…!)
  • Dan sama seperti pemerintah. Lihatlah hasil akhir daripada dakwah anda.

Contoh :

Sekali-kali cobalah anda berkeliling mengunjungi para jama’ah anda. Sudahkah mereka menjalankan yang kita anjurkan. Atau lebih mudahnya begini…, apabila anda menjadi tokoh agama di suatu wilayah, maka perhatikanlah wilayah tempat anda sering berdakwah, adakah perubahan di sana….? Kalau belum, maka keberhasilan dakwah kita perlu di ragukan. Meskipun teori ini tidak mengikat layaknya kepada pemerintah….!

Contoh 2 :

Bagi yang punya pesantren, cobalah sekali-kali anda berkeliling melihat alumni pesantren anda. Llihat keluarganya dan bagaimana mereka berkeluarga. Karena kalau seandainya anda mendapatkan di keluarga alumni pesantren yang anda pimpin, sang isteri dari alumni pesantren kita itu tidak mengenakan kerudung, maka sia-sialah semua yang telah kita ajarkan selama dia di pesantren. Itu baru dari hal berkerudung. Belum lagi yang lainnya. Dan itu sebagai rasa tanggung jawab anda sebagai pemimpin sebuah pesantren.

  • Dan lain sebagainya. Tugas andalah sebagai para tokoh agama guna memikirkannya….!

 

Pemimpin keluarga

Dan pemimpin keluarga inilah yang sebenar-benarnya paling bertanggung jawab akan terpuruknya moral bangsa ini. Karena memang semua pemimpin yang ada di negara ini, apakah dia pemimpin pemerintahan, pemimpin partai, pemimpin perusahaan, pemimpin agama, dan lain sebagainya, adalah hasil godokan dari yang namanya keluarga. Mau tidak mau, terima tidak terima, itulah kenyataannya. Oleh karena itu, saya mengharapkan, kepada siapa saja yang menginginkan perubahan cepat di negara ini, bingbinglah para pemimpin keluarga. Karena dari sanalah semuanya berasal.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: