Home > Uncategorized > SALAH SIAPA

SALAH SIAPA

INDONESIA SAAT INI

kalau kita perhatikan, seandainya di wilayah timur indonesia ada bencana, bagitu juga dengan wilayah barat. Seandainya di wilayah utara ada kecelakaan, di wilayah selatan juga pasti ada. Lalu bagaimana dengan bagian tengah….? Sama saja. Kecelakaan dan bencana sudah menjadi konsumsi sehari-hari bangsa ini. Hampir tidak ada airmata dan kesedihan yang terpancar dari raut muka bangsa ini karenanya. Karena memang itu semua sudah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Pada pagi hari, kita disuguhi berita tentang kebakaran sebuah pasar. Baca koran di kantor ataupun tempat kerja, tentang berita kelaparan. Siang hari sesudah makan siang, berita tentang pesawat yang jatuh. Sore hari pas nyampe rumah, berita gempa. Dan lain sebagainya. Terus….? Kenapa kita harus bersedih karena semua itu. Kenapa kita harus menitikan airmata karenanya….? Karena memang kita sendiri lebih menyedihkan daripada mereka. Dan itulah salah satu ciri khas negara ini. Pemerataan disegala bidang, termasuk bencana…..!

lalu…., adakah ciri lain dari negara ini….?

Masih banyak. Yang salah satunya adalah pemerataan dibidang korupsi, kolusi dan nepotisme. Seandainya di propinsi-propinsi bagian timur negara ini ada korupsi, di propinsi lainnya ada kolusi. Seandainya di daerah tingkat dua ada nepotisme, di tingkat pusatmah sudah biasa.

Kemudian….., bagaimana dengan masyarakatnya….?

Sama saja. Masyarakat di megara ini merasa tidak akan bisa berdagang kalau tidak curang. Mereka merasa, tidak akan bisa bekerja kalau tidak pakai uang suap. Mereka rasa, tidak akan bisa kaya kalau takut akan haram. dan lain sebagainya. Dan yang terparah adalah…, mereka rasa…, islam menjadi salah satu penghambat eksistensi mereka di dunia ini. Bahkan yang paling utama mungkin….!

Terus…., bagaimana dengan golongan mudanya….?

Generasi bangsa ini, hanya akan merasa bangga kalau mereka bisa seperti orang-orang yang diluar agamanya. Mereka akan merasa bangga jika bisa komputer meskipun nggak bisa wudlu. Mereka akan merasa eksis, jika mereka hafal seribu lagu-lagu barat meskipun mereka nggak hafal Al-Fhatihah. Dan mereka akan merasa…., dengan mempunyai anak meskipun belum menikah. Tapi ada yang saya suka dari mereka adalah, pengagungan dan kekaguman mereka terhadap ciptaan Tuhan. Ini terbukti dari pakaian yang mereka kenakan ( terutama kaum hawa). Mereka tidak mau menutupi sebuah maha karya yang benar-benar agung. Apalagi hanya dengan kain, yang hanya buatan tangan manusia.. …!

Dan terakhir…., bagaimana dengan ulama, kiai, pemuka agama ( kayanya sama saja yah….? ) dan lain sebagainya…?

Dalam hal ini, saya kurang tahu tentang mereka. Tapi satu yang dapat saya katakan adalah, inilah hasil karya mereka. Inilah hasil dakwah mereka. Dan mungkin…., inilah mereka.

Kalau demikian…., siapakah saya…..?

Ya saya itulah mereka. Saya adalah orang yang menganggap bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme itu adalah biasa. Saya adalah orang yang menganggap, bahwa dengan curang, suap, haram dan lain sebagainyalah yang akan membuat saya eksis. Dan saya…, saya…, saya yang lainnnya. Pokoknya, saya adalah mereka dan mereka adalah saya.

Lalu timbul pertanyaan, benarkah saya….?

Sebodoh-bodohnya saya, saya tahu,bahwa korupsi itu salah, bahwa kolusi itu nggak boleh, bahwa nepotisme itu dosa, bahwa curang itu melanggar peraturan agama dan negara, bahwa lain-lain itu, akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Tapi semuanya itu, hanya sampai tahu titik.

Namun demikian, orang bodoh tetaplah orang bodoh. Tahu bagi seorang bodoh, tidak mempunyai arti apa-apa. Selain hanya tahu semata. Dan orang-orang  bodoh seperti sayalah, yang mungkin telah menyebabkan kehancuran negara kita yang tercinta ini. Karena kebodohan orang-orang bodoh seperti kami inilah, yang mungkin mengakibatkan Tuhan menurunkan siksanya.

 

bencana

allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” ( QS.Ar-Ruum : 41 )

Dalam firman Allah di atas, Allah subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa, manusia melakukan kerusakan di darat dan di laut. Dimana kerusakan yang telah manusia buat itu akan berakibat bencana. Sedangkan bencananya itu sendiri, berasal dari Allah sebagai peringatan dan siksa kepada manusia, agar mereka mau kembali kepada jalan yang benar.

Seperti biasanya, Allah selalu memberitakan sesuatu itu dalam dua versi. Versi Allah sebagai pencipta dan versi manusia sebagai ciptaan_Nya. Seperti,

Bila seseorang kepengen kaya maka harus berusaha ( versi manusia sebagai ciptaan Allah ). Berusaha tidak berusaha, Allah lah yang mempunyai kuasa dalam menentukan kaya tidaknya seseorang ( versi Allah sebagai pencipta manusia ). Tapi biasanya, berusaha adalah salah satu referensi Allah dalam hal memberikan kekayaan kepada umatnya.

Oleh karena itu, ada beberapa poin penting yang kita dapatkan dari firman Allah di atas,

  • Orang-orang yang nggak baik, akan melakukan pengrusakan di darat dan di laut.
  • Oleh karena itu, hutan jadi gundul, air laut jadi tercemar, pendangkalan sungai dan lain sebagainya.
  • Hutan gundul mengakibatkan bencana, laut yang tercemar juga, pendangkalan sungai apalagi, dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu, menjadi ketentuan Allah versi manusia sebagai ciptaan_Nya.
  • Mau hutannya gundul ataupun enggak, mau lautnya tercemar ataupun enggak, dan lain sebagainya, itu tidak akan menjadi bencana, seandainya Allah tidak berkehendak. Tapi biasanya, hutan gundul dan laut yang tercemar, adalah salah satu referensi Allah dalam menurunkan bencana.
  • tapi musti ingat, bencana ada bukan karena hutannya yang gundul, bukan karena air lautnya yang tercemar, bukan karena pendangkalan sungainya, tapi karena orang-orang yang melakukan kesemuanya itu.
  • Oleh karena itu, bagi sebagian orang yang beranggapan bahwa bencana ini hanyalah fenomena alam belaka, maka orang bodoh ingetin…, bahwa fenomena alam akan berbanding lurus dengan prilaku manusia. Dan seterusnya…., Allah pun akan berkehendak….! Sesuai dengan prilaku manusia tadi…..!

Lalu bagaiman dengan orang-orang yang berada di sekitar gunung, yang notabene mereka adalah orang-orang baik dan tidak merusak hutan, tapi terkena bencana dikarenankan hutan tersebut rusak oleh orang-orang yang bukan dari daerah itu…?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu.” ( Al-Anfal : 25 )

Supaya tidak menyesatkan, inilah kiranya perkataan orang-orang pintar prihal firman Allah di atas.

  • Al-Walid bin Hisyam berkata, “ sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”
  • Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al –Manshur, “ Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik ; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu ja’far al-Manshur ( ia adalah pemimpin ) bertanya, “ siapa dia….?” Sufyan menjawab : “ Engkau….!”

Itulah kira-kira tafsir orang-orang pintar prihal firman Allah di atas. Yang intinya adalah, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Dimana kezaliman para pemimpin akan menimpa rakyanya.

Lalu bagaimana pendapat orang bodoh….?

Firman Allah di atas mengisyaratkan kepada kita, semua umat manusia, akan tugas mereka sebagai kahlifah. Artinya apa…?

Menjaga tempat di mana mereka tinggal adalah termasuk sebuah tugas manusia. Oleh karena itu, seandainya kita berani melakukan pembiaran atas semua kerusakan yang terjadi di sekitar kita ( meskipun kita tidak termasuk di dalamnya ), maka tunggulah, siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak hanya akan menimpa orang-orang yang merusak tadi, tapi akan termasuk kita di dalamnya. Karena apa….? karena pembiaran yang kita lakukan….!

Oleh karena itu, menjaga gunung di mana tempat kita tinggal, harus menjadi keharusan setiap orang yang ada di sana. Maka jika terjadi pembiaran, apalagi ikut merusak, maka tunggulah siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zhalim saja. Wallahua’lam….!

 

AL-A’RAF;96

          Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Lalu apa hubungannya ayat tadi di atas dengan negara kita ini…?

Dan inilah kiranya yang tersirat dalam fikiran orang bodoh, begitu melihat sekililing (negara kita ini) dan menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  di atas.

Jikalau sekiranya penduduk Indonesia beriman dan bertaqwa, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melimpahkan kepada penduduk Indonesia berkah dari langit dan bumi. Tetapi karena penduduk Indonesia mendustakan (ayat-ayat_N Allah ), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala siksa penduduk Indonesia dikarenakan perbuatannya sendiri.

Tapi ingat, itu adalah pemikiran orang bodoh. Jangan terlalu diambil hati. Anggaplah ini sebagai bacaan, teman anda minum kopi. Yang benernya ada di paragraf atas, dan yang salahnya pikir sendiri….!

Baiklah, sekarang kita lanjutkan.

Tapi ingat….! Itukan baru jikalau. Karena jikalau ini akan mempunyai dua sisi yang bersebrangan. Tergantung apa yang terlihat dan terasa oleh mata dan hati kita. Seandainya orang-orang yang suka koruptor dan golongannya yang memaknai jikalau dalam ayat ini, mungkin mereka berfikir, bahwa negara ini adalah negara yang penuh berkah….! Tetapi itu akan terasa berbeda seandainya yang memaknai kata jikalau tadi berasal dari  keluarga-keluarga yang serba kekurangan. Mungkin mereka berfikir, bahwa negara ini adalah negara  yang penuh dengan siksa. Tapi…, benarkah demikian….?

Tapi ingat juga…, itu baru mungkin….! Karena sebenarnya, kita selalu dan selalu tidak menyadari, yang mana sebenarnya siksa, dan yang mana sebenarnya berkah…..! padahal  kalau kita amati dengan seksama, nenek moyang mereka jauh berbeda. Emaknya siksa hidungnya pesek, sedangkan emaknya berkah kaga. Ayahnya siksa berkulit hitam, sedangkan ayahnya berkah berkulit putih bersih. Oleh karena itu, masa dua sebab yang sangat berbeda dapat menghasilkan dua akibat yang sama…..? Sampai-sampai kita nggak tahu, mana yang namanya siksa dan mana yang namanya berkah…..?

Hanya ada dua kemungkinan, kita tahu, tapi pura-pura nggak tahu, atau…., kita memang tidak mengenal keduanya. Padahal kita adalah nenek moyang mereka berdua. Kitalah yang menyebabkan mereka ada. Hanya orang sombonglah yang tidak mau mengenal mereka berdua……!

Coba kita kembali lagi kepada ayat tadi di atas.

Ada dua rumusan yang kita dapatkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas.

Beriman dan bertaqwa             = berkah

Tidak berimana dan bertaqwa  = siksa

Mana yang kita pilih….? Berkahkah….., atau siksakah…..? karena memang, hanya itulah yang tersedia. Dan itu semua diperuntukan kepada semua penduduk bumi ini. Bagi ulama dan peminum, itulah pilihannya. Bagi pejabat dan masayarakat biasa, itulah pilihannya. Tidak ada yang berbeda dalam hal ini.

meskipun hanya terdapat dua pilihan, terkadang bagi seorang bodoh seperti penulis, jangankan untuk memilih diantara keduanya. Bahkan seorang bodoh tidak dapat membedakan, yang mana sebenarnya berkah, dan yang mana sebenarnya siksa…! Dan sebenarnya, itulah kesalahan utama seorang bodoh.

Ketika orang bodoh ini mendapatkan kesenangan, itu pasti dianggapnya sebagai sebuah berkah, karena keimanan dan ketaqwaannya. ( meskipun sesuatu yang menyenangkan itu belum terntu berarti berkah ). Tapi….., bagaimana kalau orang bodoh ini mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan….? Maukah si bodoh ini menganggapnya sebagai sebuah siksa….? ( meskipun sesuatu yang tidak menyenangkan itu belum tentu siksa ). Tentu tidak dong….! Tapi sesuatu yang tidak menyenangkan itu, saya anggap sebagai ujian. Untuk menaikan level keimanan dan ketakwaan kita tentunya …..!

 

COBAAN ATAU SIKSAAN

Satu lagi temennya siksa dan berkah, yaitu ujian. Kalau tadi saya katakan di atas bahwa banyak diantara kita yang tidak bisa membedakan antara siksa dan berkah, apalagi dengan  membedakan siksa dan cobaan. Karena memang keduanya bukanlah sesuatu yang harus dibedakan ( bagi yang tidak berilmu ). Karena dalam hal ini, perbedaan antara siksaan dan cobaan bukanlah sesuatu yang penting. Yang terpenting dalam hal ini adalah, bagaimana kita menyikapi keduanya. (jangan kesampingkan pelajaran agama dan jangan mempermudah sebuah persoalan)

Alangkah baiknya kalau kita selalu menganggap setiap permasalahan yang menghampiri kita sebagai siksaan. Karena memang, hanya dengan begitulah kita bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada sang pencipta. ( lebih banyak positifnya dari pada negatifnya ).

Contoh kasus

Dalam kasus ini, saya ambil contoh bagaimana ketika kita menyikapi perubahan sikap daripada pasangan kita.

Seandainya kita menyikapi perubahan pasangan kita itu sebagai cobaan ataupun ujian, maka kita tidak akan mendapatkan suatu manfaatpun dari permasalahan tersebut. Karena dengan menempatkan setiap permasalahan sebagai ujian ataupun cobaan, maka permasalahan itu tidak akan menjadi penggerak daripada keimanan dan ketakwaan kita kepada sang pencipta. Dan selain itu, kita akan selalu merasa benar, yang memang layak untuk mendapatakan ujian dan cobaan daripada-Nya.

Beda dengan ketika kita menempatkan permasalahan itu sebagai siksaan. Karena secara logika (dimana logika itu sendiri adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala), Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan siksaan kepada seseorang, tanpa kesalahan yang dia perbuat. Ketika kita bersalahlah, datangnya siksaan itu. Oleh karena itu, hanya ada satu cara dalam menyelesaikan permasalahan siksa, yaitu dengan memperbaiki kesalahan kita tadi. Dan tahukah anda, bahwa dengan kita mencari-cari kesalahan diri sendiri guna mencari ridha-Nya sang maha pencipta, adalah salah satu penggerak dalam hal meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya.

Sekarang…., kita kembali ke kasus tadi.

Begitu kita menyadari akan perubahan sikap pasangan kita tadi, saat itu juga kita harus mulai berfikir, kesalahan apa kira-kira yang membuatnya seperti itu….? Karena memang dalam hal ini, pasangan kita berbuat seperti itu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya seperti itu. Maka pertama-tama  yang harus kita  pikirkan adalah, bagaimana caranya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berkehendak seperti itu. Dan salah satu caranya yaitu,  dengan mencari-cari kesalahan yang telah kita perbuat.

Dan setelah orang bodoh ini pikirkan, mungkin karena orang bodoh ini mengabaikan  perintah orang tua  sebelum pertengakaran terjadi. Dan karena pertimbangan itulah, orang bodoh inipun bersedia meminta maaf kepada mereka. (bukan karena kesadaran lho…! Tapi karena gadis pujaan). tapi apa yang terjadi setelahnya….? Pasangan kita masih tetap dengan kemarahannya. Dan sebagai orang bodoh yang  tahu diri, kembali sibodoh ini berfikir tentang kesalahan apa lagi yang telah saya perbuat…? Dan terbayanglah oleh sibodoh ini, saat-saat terakhir kencan dengan pasangan kita itu. Si bodoh ini dengan tanpa rasa bersalah, berani melalaikan shalat dzuhur  karena keasikan dengan kencannya. Dan seperti tadi, si bodoh inipun kembali meminta maaf kepada yang mewajibkannya shalat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dilain waktu. (dan sekali lagi, bukan karena kesadaran). Dan hasilnya…., seperti tadi, nggak ada yang berubah. Sang pujaan hati masih dengan kemarahannya. Dan waktupun berlalu bersama ketahu dirian si bodoh ini. Dan karena ketahu diriannyalah yang menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sedikit titik terang bagi si bodoh. Dia tunjukan penyebab daripada kemarahan pasangan kita itu. Ternyata, cerita punya cerita dari teman-teman sipujaan hati kita, dia telah mengetahui, bahwasanya kita mempunyai selingkuhan. Dan sebagai orang bodoh yang tahu diri, kembali saya berfikir, kesalahan apa yang telah kuperbuat, sehingga ketahuan………???

Kesimpulan

  • Menganggap sebuah permasalahan sebagai siksa akan lebih baik, daripada menganggapnya sebagai ujian. Dalam hal meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap_nya.
  • Menganggap sebuah permasalahan sebagai ujian, hanyalah akan membawa kita kepada perasaan selalu benar dimata sang pencipta.
  • Setiap permasalahan yang menimpa manusia di dunia ini, pastilah karena perbuatannya sendiri dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak begini, karena memang kita begini. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak begitu, karena memang kitanya juga begitu. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala maha adail dalam segala sesuatunya.
  • Dalam bahasan ini saya sengaja mengenyampingkan “ peringatan”. Karena memang bagi seorang bodoh, peringatan dan siksa akan terasa sama. Dan yang terpenting dalam kedua istilah tadi ( peringatan dan siksa ) bukan pada artinya, tapi…., mengapa Allah menurunkan keduanya…..?

 

 

 

ELO AJA KALI…,GUE KAGA….!

Allah Subahanu wa Ta’ala berfirman :

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Kalau orang bodoh ini lihat, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan  jikalau sekiranya para pemimpin beriman dan bertaqwa, atau…, jikalau sekiranya para anggota DPR bertaqwa, (dan lain sebagainya) kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Dan juga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan, tetapi para ulamanya mendustakan (ayat-ayat kami) ataupun, tetapi para menterinya mendustakan (ayat-ayat kami) sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan siksa. Tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas mengatakan, “sekiranya penduduk negeri beriman”. Bukan presiden, bukan juga wakilnya, menteri, anggota DPR dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bukan pada tempatnya kalau kita berusaha untuk saling menyalahkan. Karena memang, orde lama, orde baru, orde reformasi dan orde-orde yang lainnya (kalau masih ada) bukanlah sebuah sebab dari pada keterpurukan negara ini. Begitu juga dengan mantan presiden, presiden, mantan gubernur, gubernur, kesemuanya itu bukanlah penyebab daripada keterpurukan negara ini. Bahkan seorang koruptor sekalipun, mereka tidak akan dapat membuat negara ini terpuruk seandainya…., penduduk negerinya beriman. Itu janji Allah Subhanahu wa Ta’ala…, menurut saya…., orang bodoh…!

Dan hal ini akan menjadi sangat terasa penting, dikala kita menginginkan janji_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kebiasaan kita bertengkar dan saling menyalahkan, hanya akan semakin menjauhkan kita dari jani_Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

Coba kita perhatikan…!

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan diantara penduduk negeri ini pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah_Nya. (pemimpin yang baik) selama penduduk negeri ini sabar dalam menegakan kebenaran dan meyakini ayat-ayat_Nya. ( masyarakat yang baik)

Dan sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan diantara penduduk negeri ini pemimpin-pemimpin yang dzalim ( tidak baik) selama penduduk negeri ini tidak sabar dalam menegakan kebenaran dan tidak meyakini ayat-ayat_Nya.     ( masyarakat yang tidak baik).

Oleh karena itu, seandainya kita berani menyalahkan para pemimpin kita atas keterpurukan negeri ini, maka kita akan kembali terbentur dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kedua. (As_Sajdah : 24). Karena memang semuanya akan berpulang kepada kita sebagai penduduk negeri.

Satu hal yang musti kita ingat…, para pemimpin yang dzalim itu adalah salah satu janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para pemimpin yang dzalim itu satu paket dengan semua bencana yang telah menimpa negeri ini. ( itupun kalau memang mereka itu adalah pemimpin yang dzalim). atau dengan kata lain, para pemimpin yang dzalim itu adalah sebuah akibat bukan sebuah sebab. Karena kebiasaan kita melalaikan kewajiban kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lah, yang menyebabkan kita mempunyai pemimpin yang selalu melalaikan tugas dan kewajibannya. Karena kecurangan kita dalam berniagalah, yang menyebabkan para pemimpin kita curang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. dan lain sebagainya. Begitu juga dengan sebaliknya. Pemimpin yang baik adalah sebuah rahmat. yang merupakan sebuah akibat dari pada sebab kita (sebagai penduduk negeri ) sabar dalam kebenaran dan meyakini ayat-ayat_Nya.

kesimpulan :

  • Penduduk negeri baik           = berkah

Penduduk negeri tidak baik  = siksa

  • Penduduk negeri baik            = pemimpin baik

Penduduk negeri tidak baik   = pemimpin tidak baik

  • Pemimpin adalah sebuah akibat bukan sebab
  • Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak musti membuat para pemimpin yang dzalim untuk sebuah negara, seandainya Dia menginginkan keterpurukan negara itu.

 

Orang bodoh berlogika 1

Suatu ketika, kita mendengar cerita dari temennya temen kita, bahwa ada sebuah negara yang kaya raya. Kekayaan alamnya melimpah ruah. Selain itu, mereka sebagai penduduk negeri, memiliki pegangan hidup yang sempurna (islam). Tapi anehnya, mereka hidup dalam kesusahan. Kelaparan dimana-mana. Kekurangan sandang, pangan dan papan adalah sesuatu yang biasa di negara itu. Begitu juga dengan bencana. Bencana seakan akrab dengan kehidupan mereka. Belum lagi dengan para pemimpinnya…! Negara itu, selalu dan selalu mendapatkan pemimpin yang dzalim. Dari dulu sampai sekarang. Pokoknya, siapapun yang memimpin di negara itu selalu saja salah….! ( katanya)

Logika orang bodoh

Sampai kapanpun negara itu tidak akan mendapatkan pemimpin yang baik. Karena apa…? Karena memang pabrik pemasoknya juga nggak baik. Karena siapapun yang memimpin, itu berasal dari pasokan yang sama. Jadi, selama kita tidak memperbaiki pabriknya, tidak mungkin mendapatkan hasil yang baik.

Dan satu hal yang musti diingat, siapapun dia yang menjadi presiden, menteri, guru, ulama, dan lain sebagainya, semuanya itu bersumber dari satu pengolahan yang sama. Mereka yang selalu musti tidak baik itu,  sekolah dengan guru dan tempat yang sama seperti kita yang pedagang, seperti kita yang petani, dan seperti kita yang perampok. Sekolah menengahnyapun sama. Begitu juga dengan perguruan tingginya. Nggak beda. Karena memang, nggak ada yang pernah tahu, akan mendapatkan peran apakah kita kelak. Oleh karena itu, karena pabrik yang mengolahnya juga sama, maka hasilnya pun nggak bakal jauh berbeda. Karena memang pabrik yang baik akan menghasilkan produk yang baik pula. Kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain.

Jadi kesimpulannya, selama kita tidak dapat merubah prilaku kita sebagai masyarakat (pabrik), maka kita jangan pernah berharap untuk mendapatkan produk (pemimpin) yang berkualitas.

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

 

Orang bodoh berlogika 2

Kalau hitung-hitungan sejarah, kita merdeka sudah 65 tahun. Dan inilah hitung-hitungan orang bodoh seandainya penduduk negeri ini baik.

maaf kepada para pendiri bangsa, ini hanya pemisalan sebagai pendukung sebuah teori. Mudah-mudahan para pendiri bangsa ini, mendapatkan tempat yang teristimewa di alamnya yang nyata

Dalam hitung-hitungan ini, saya misalkan semua pemimpin pada awal kemerdekaan adalah orang-orang yang nggak baik. Presiden, menteri,anggota dewan, gubernur, semuanya nggak baik. tapi, seandainya kita mempunyai masyarakat yang baik, maka inilah hitung-hitungannya,

  • Awal pemerintahan kita misalkan negara ini berisi 100 orang pemimpin yang nggak baik.
  • Seandainya pada pemilu yang pertama berhasil memasukan lima persen orang baru dijajaran pemerintahan dan dewan, maka komposisinya akan berubah jadi 95 orang nggak baik dan 5 orang baik.
  • Seandainya pada pemilu kedua kita dapat memasukan lima persen orang baru lagi, maka komposisinya akan beruban menjadi 90 orang nggak baik dan 10 orang baik.
  • Maka secara hitungan matematis, pada tahun 2005, kita sudah mempunyai pemerintahan dan dewan dengan komposisi 60 orang baik dan 40 orang yang nggak baik.

Itu baru lima persen, apalagi kalau sepuluh dan seterusnya. Apalagi kalau kita hitung,  berapa kali sebenarnya kita melakukan pergantian pemerinatahan “ seandainya masyarakatnya baik”

Mungkin diantara pembaca ada yang berfikir seperti ini,” itu kan Cuma itung-itungan saja, tapi  dalam prakteknya banyak kendala yang harus dihadapi”.

Iya memang. Ini disajikan hanya untuk memperpanjang halaman saja ko…!! Tapi yang pasti, janji Allah tetaplah janji Allah. Tidak ada logika untuk itu.

 

PENGOBAT KECEWA

Tulisan ini penulis persembahkan bagi penulis sendiri, sebagai pelipur lara dan pengobat kecewa. Apa sebab….?

Kadang penulis sendiri suka berfikir dan merenung. Kalau memang Allah Subhanahu wa Ta’ala itu akan memberikan berkah kepada penduduk negeri yang sabar dalam menegakan kebenaran dan mempercayai ayat-ayat_Nya, tapi kenapa Dia memberikan berkah kepada mereka yang diluar islam ( kesenangan dan kemudahan hidup ), sedangkan kita yang sudah jelas-jelas sebagai penyembah_Nya ( meskipun terkadang kita titik-titik ) mendapatkan siksa ( tolak ukur kesenangan dan kemudahan hidup).

Dan inilah pengobat kecewanya.

Dalam uraian nanti, saya ibaratkan agama islam adalah benar (B). prilaku yang berdasarkan agama islam adalah benar (B). agama selain islam adalah salah (S) dan prilaku yang di luar islam adalah salah (S). kesenangan dan kemudahan hidupa yang banyak (B) dan kesenangan beserta kemudahan hidup yang kurang(S)

Dan inilah rumusan pengobat kecewa itu.

Rumusan untuk kita (orang indonesia)

Agama kita benar                             = B

Prilaku kita yang seperti mereka      = S

Materi kurang                                   = S

Rumusan untuk yang di luar islam

Agama menurut kita                                                    = S

Prilaku mereka menurut kita                                       = S

Kesenangan dan kemudahan hidup                            = B

Coba kita perhatikan rumusan tadi di atas. Kita yang katanya orang islam (B) berprilaku seperti orang non islam ( s) mengharapkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh…, itu akan bertentangna dengan firman_Nya.

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Karena memang seandainya kita mengharapkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka inilah rumusannya,

Agama kita benar                                              = B

Prilaku kita seperti orang islam                         = B

Kesenangan dan kemudahan hidup                   = B

Catatan kalau-kalau pembaca lupa

Rumusan pertama (+) * (-) = (-)

Rumusan kedua       (-) * (-) = (+)

Rumusan ketiga      (+) * (+)= (+)

Betul kan…..? padahal yang bikin rumusan ini manusia ( katanya…, kata orang bego). Dan kita telah belajar rumusan ini sedari sekolah dasar. Sungguh…, sebuah rumusan yang gampang dimengerti dan susah di implementasi.

Ko jadi ngelantur yah…..! pake rumus-rumus yang nggak karuan segala. Tapi sudahlah, anggaplah rumusan itu sebagai penghias tulisan ini biar nampak sedikit ribet kaya matematika dan fisika. Kan keren….!! Tapi inti sebenarnya dari rumusan di atas adalah, kita akan selalu berprasangka baik kepada sang pencipta. Karena kita akan selalu berfikir, bahwa seandainya kita berprilaku seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan (B), maka kita secara otomatis akan mendapatkan berkah daripada_Nya (B). kita tidak akan menyalahkan orang lain, apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas sesuatu yang menimpa kita.

Mengapa demikian….?

Karena setiap kita mendapatkan hal-hal yang di luar keinginan kita, atau dengan kata lain kita tidak mendapatkan berkah daripada_Nya ( kasat mata kesenangan dan kemudahan hidup ), kita akan terus dan terus berfikir, bahwa itu di karenakan kita belum menunaikan hidup ini sesuai dengan keinginan_Nya. Oleh karena itu, kita akan terus dan  terus untuk berusaha mendapatkan berkahnya, dengan cara terus dan terus memperbaiki kualitas hidup kita.

Dan saya kira, di luar benar dan tidaknya rumusan tadi, alangkah baiknya kalau pemikiran tersebut kita tanamkan dalam hati kita sebagai umat_Nya.

Catatan : meskipun arti berkah bagi orang-orang bijak bukanlah hanya materi belaka, tapi biarah orang bodoh seperti penulis ini menganggap berkah adalah kesenangan dan kemudahan hidup. Karena memang, itu yang selalu terlintas dalam benak orang-orang bodoh seperti penulis ini. (untuk arti berkah sebenarnya, carilah di buku-buku yang lain, yang penulisnya orang-orang yang lebih kompeten di bidangnya).

 

Istidraj

Menurut orang-orang pintar, istidraj adalah : anugrah atau rizki yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka yang berbuat maksiat. Pemberian seperti itu akan berakhir dengan penderitaan. Kalaupun penderitaan itu tidak dirasakan di dunia, pasti didapatkan di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.Al-An’am;44)

Lalu…, apa kira-kira arti dari istidraj menurut orang bodoh…?

Baiklah, saya akan coba menerangkan arti kata istidraj sekemampuan saya sebagai orang bodoh. Yang mudah-mudahan dapat lebih dimengerti oleh orang –orang bodoh yang lainnya.

Inti daripada istilah istidraj menurut orang pinter adalah, anugerah atau rizki yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka yang berbuat maksiat. Atau dengan kata lain, kita sering menemukan, atau bahkan mungkin sangat sering menemukan, seorang koruptor yang hidup bahagia. Materi banyak, pendidikan bagus, kesehatan OK, isteri dan anak OK juga, dan lain sebagainya. Padahal kan menurut rumusan tadi, B*S kan harus dapet S ko…., ini jadi B…..?

Baiklah, kalau saya boleh berpendapat, yang namanya maksiat tidak musti dari A sampai Z orang itu lakukan semua. Malahan dalam segi ibadah yang lainnya, orang-orang itu, terkadang melebihi orang yang tidak istidraj.

untuk lebih jelasnya kita kembali kepada istilah-istilah yang ada pada bahasan terdahulu. Yaitu, berkah, siksa dan ujian. ( kasat mata kesenangan dan kemudahan hidup ).

  • berkah. diberikan kepada orang-orang yang baik. Berupa harta dan kesenangan, atau mungkin sebaliknya.
  • Siksa. Ini diberikan kepada orang-orang yang nggak baik. Berupa kurang harta dan banyaknya permasalahan hidup, ataupun sebaliknya.
  • Ujian. Ini diberikan kepada orang-orang yang baik , berupa banyak harta ataupun kurang harta, dan permasalahan hidup.
  • Istidraj. Ini deberikan kepada orang-orang yang suka bermaksiat, bahkan jauh dari kebenaran agama, namun mendapatkan kesenangan hidup dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Biasanya orang seperti ini, bertuhankan akal dan fikirannya. Contoh, Qorun dan fir’aun. Dan inilah sebenar-benarnya istidraj.

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Jika kamu melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba, yang bermaksiat sesuai kesenangannya, maka itu merupakan istidraj”. ( HR. Ahmad )

Lalu…., adakah istidraj model lain…..?

( ini adalah istidraj hasil daripada pemikiran penulis, harap untuk lebih serius lagi memikirkannya ).

Contoh :

Ada tiga orang pemuda yang mengikuti test pegawai negeri sipil. Dimana ketiga pemuda tersebut adalah ahli ibadah, dan berprilaku baik, menurut pandangan kita sebagai manusia. Yang hasilnya dapat dilihat dari uraian di bawah ini,

  • Pemuda yang pertama. Dia lolos seleksi tanpa uang suap. Maka itu dinamakan berkah. Dimana berkah tersebut dia dapatkan karena prilakunya. Atau….., itu bisa juga disebut ujian. Dimana ujian tersebut bertujuan menaikan level keimanan pemuda tadi. Dimana setelah ujian tersebut, ada dua kemungkinan yang akan diperoleh oleh pemuda tadi, peningkatan keimanan ataupun penurunan.
  • Pemuda yang kedua, dia tidak lolos seleksi. Maka itu dinamakan berkah. Karena mungkin, bilamana pemuda tadi lolos seleksi, maka akan merubah prilaku baiknya. Atau ujian. Dimana ujian tadi bertujuan sama seperti pemuda satu. Dan yang terakhir, mungkin itu adalah sebuah siksa. Karena dari kesehariannya yang baik-baik saja ( menurut pandangan kita sebagai manusia ), mungkin ada beberapa prilaku yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Pemuda yang ketiga, dia lolos seleksi dengan uang suap. ( uang suap sudah biasa di negara ini ). Maka untuk pamuda yang ke tiga ini hanya di kenakan satu istilah, yaitu siksa. Tapi…., tidak menurut si pemuda tiga, itu namanya berkah. Jadi…., istidraj itu ada, karena pergeseran persepsi dari siksa kepada berkah. Sudah termasuk istidrajkah pemuda tadi……? belum, sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan…..!

Misal :

Setahun setelah di diangkat menjadi PNS, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mulai memberikan peringatan pertama_Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala kasih gagal perkawainannya. Tapi apa tanggapan pemuda tadi, dia anggap ini sebagai ujian. Lalu tiga bulan setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun kembali kasih peringatan berupa sakit. Dan kembali dia anggap sebagai ujian. Dan lain sebagainya. Lalu apa yang terjadi setelah itu…..? Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; karir naik cepat, peluang untuk korupsi banyak, pernikahan tinggal tunggu waktu, dan lain sebagainya. Dan apa pendapat pemuda tadi tentang kesemuanya itu…? Ini adalah sebuah berkah…..! dan sejak itulah pemuda tersebut bisa digolongkan kepada manusia-manusia yang istidraj. Oleh karena itu, jika pada bahasan tadi saya katakan lebih baik menganggap setiap ujian itu sebagai siksa, maka begitu juga dengan berkah dan siksa. Alangkah baiknya, kalau kita selalu menganggap diantara keduanya itu sebagai siksa, supaya kita bisa terus dan terus mengoreksi diri, guna terhindar dari yang namanya istidraj.

inilah rumusan- rumusan dasar untuk seorang manusia (orang baik dan orang nggak baik ada disini)

B*B=B

B*S=S

S*S=B

Dan inilah rumusan orang dalam keadaan duji ( diperuntukan khusus untuk orang baik atau dengan kata lain, ketetapan lanjutan bagi orang-orang baik )

B*B=S

B*B=B

Dan inilah rumusan orang dalam keadaan istidraj ( diperuntukan khusus untuk orang nggak baik atau dengan kata lain, ketetapan lanjutan bagi orang-orang yang ggak baik )

B*S=B

Penjelasan :

  • Rumusan yang pertama merupakan dasar daripada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas manusia. ( telah diterangkan dibelakang)
  • Rumusan yang kedua adalah ketetapan atas rumusan yang pertama. Ataupun ketetapan lanjutan kepada seorang manusia. Bahwasanya manusia itu musti di uji. Sehingga dalam rumusan di atas, hanya terdapat orang-orang baik. Karena memang orang baiklah yang layak untuk mendapatkan ujian.
  • Rumusan yang ketiga adalah, ketetapan lanjutan atas rumusan yang pertama. Ataupun ketetapan lanjutan kepada seorang manusia. Bahwasanya akan ada manusia yang berada dalam keadaan istidraj. Dan dalam rumusan ini hanya ada orang yang nggak baik.

Di luar benar tidaknya rumusan yang telah saya buat tadi, mungkin ada beberapa ganjalan yang berkecamuk di benak pembaca, yang diantaranya, kriteria apa kira-kira yang menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mamasukan seseorang kepada siksa     ( B*S=S) dan memasukan seseorang itu kepada istidraj (B*S=B)…..?

Untuk lebih jelasnya, saya mulai dari rumusan ( B*S=S ) yaitu, seseorang yang beragama islam, tapi susah berprilaku layaknya muslim, yang akhirnya mendatangkan siksa bagi si orang tersebut.       Dalam kondisi yang seperti ini, biasanya seorang muslim mempunyai banyak kekurangan. Misal : shalat masing belang, shalat belum berjam’ah, shalat belum khusyu, atau mungkin shalatnya masih belum karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu baru bab shalat. Atau….., memberi masih dicampuri perasaan riya, suka ngomongin orang dan lain sebagainya. Namun demikian, orang-oang tersebut tahu akan kesalahannya. Dalam kondisi yang seperti ini, ada dua golongan muslim yang mengisinya. Yaitu, golongan yang berilmu dan golongan yang tak berilmu. Di mana kedua golongan tersebut, mempunyai kadar keimanan yang sama. Keduanya, akan sangat terpengaruh dengan faktor keturunan dan lingkungan. ( ciri-ciri utama golongan ini adalah, tidak teguh dalam ketidak baikan dan tidak teguh dalam kebaikan ).

Sedangkan untuk rumusan selanjutnya adalah istidraj  ( B*S=B ). Di mana dalam rumusan ini, ada dua type muslim yang mengisinya.

  • Type yang pertama adalah, yang sepanjang umurnya jauh sekali daripada islami. Bahkan terkadang, lebih jahat dari yang non muslim. Orang seperti ini bisa di sebut, orang yang bisa melakukan semua kejahatan dan tidak pernah melaksanakan keislamannya. Dan ada kecenderungan orang yang seperti ini istidraj sampai akhir hayatnya. Kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ketentuan lain. Dan dikarenakan orang ini melakukan hampir semua maksiat yang mungkin dia lakukan tanpa memperdulikan agamanya sama sekali, maka orang ini bolehlah masuk rumusan S*S=B. karena memang kemudahan hidup yang mereka terimapun, hampir sama bahkan sama dengan orang-orang yang non muslim.
  • Type yang kedua adalah, yang tahu akan kebenaran. Bahkan mungkin dalam hal ibahdah, orang itu lebih baik dari orang yang tidak istidraj.

Baiklah, supaya lebih mudah untuk di fahami, kita kembali lagi kepada permasalahan suap. Dimana dalam hal suap ini, sebagian penduduk negeri ini sudah menganggapnya biasa. Adapun alasan mereka ( yang saya ketahui ) adalah sebagai berikut,

  • pada jaman sekarang ini, suap adalah biasa. Karena kalau nggak nyogok nggak bakalan bisa kerja. Dan kalau sudah tidak kerja, tidak dapat penghasilan. Dan kalau tidak dapat penghasilan……, bagaimana kita hidup……?

Sanggahan : orang seperti ini, sudah benar-benar tidak mengikut sertakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupannya.

“ Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?” ( Yaasiin : 23 )

  • nyogok sama dengan menjemput takdir. Karena pada dasarnya, berapapun uang yang dikeluarkan untuk suap, seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berkehendak, maka tidak akan terlaksana. And so….., jadilah nyogok supaya dapet kerja itu nggak dosa. Karena memang sudah takdirnyalah sehingga orang itu dapet kerjaan. Bukan karena nyogoknya.

Sanggahan : kalau memang orang yang nyogok tadi percaya akan kekuasaan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengapa orang itu meminta pertolongan kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala   ( orang yang menerima uang sogok)……? Dan kenapa orang tadi tidak menyogok Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadahnya. Kalau memang orang itu percaya akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menentukan takdir. Selain itu, kalau memang kita percaya bahwa menjadi PNS itu sudah menjadi takdir kita, lalu kenapa musti nyogok segala…..? lagian siapa yang tahu takdir…..? dan yang terakhir, saya ibaratkan jatah PNS untuk suatu tahun ada 6 orang. Dimana komposisi sebelum terjadinya si Z nyogok adalah, untuk si A,B,C,D,E, dan si F. tapi karena si Z tadi nyogok, maka dari keenam yang sudah ditadirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan kursi itupun akan berubah. Misal si A,B,C,D,E dan si Z. Lalu…, apakah itu sudah merupakan takdir dari si F dan si Z. ya….! Itu sama dengan si F yang dirampok dan si Z yang merampok……! Karena memang, takdir dapat berubah oleh kebaikan dan dosa.

  • Nyogok hanya berdosa saat kita menyerahkan uang tersebut          ( pada saat nyogoknya). Sama seperti kita tidak shalat, lupa zakat dan sebagainya.

Sanggahan : telah saya katakan pada point yang kedua, bahwa si Z mengambil bagiannya si F. itu bisa diibaratkan, ada sebidang tanah subur yang banyak menghasilkan. Dimana, tanah subur yang notabene secara takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala bagian si F, tapi diambil oleh si Z dengan tidak halal.  maka, setiap hasil yang keluar dari kebun itu adalah haram adanya.

Dan contoh-contoh di atas itulah yang mengakibatkan seseorang ataupun pemuda tadi menganggap materi yang dia dapat dari nyogok itu sebagai berkah. Dan biasanya, besaran kesenangan hidup yang mereka raih, akan berbanding lurus dengan istidraj mereka. Semakin lupa mereka, maka semakin dibuka pula pintu-pintu kesenangan atas mereka.

Jadi kesimpulannya, orang yang mendapatkan siksa (B*S=S) atas perbuatannya dalam tanda kutip adanya kekurangan dalam kesenangan hidup, adalah orang-orang yang memang mereka sendiri tahu akan kesalahan mereka. Mereka tidak pernah membenarkan perbuatan mereka. Sedangkan orang yang mendapatkan istidraj (B*S=B), adalah orang-orang yang membenarkan tindakan mereka. Yang biasanya berdasarkan hawa nafsu mereka.

Contoh :

orang yang jarang shalat, puasanya nggak betul, dan lain sebagainya, biasanya mereka tahu akan kesalahan mereka prihal shalat dan puasanya itu. Beda dengan orang yang nyogok, dipakainya demokrasi, gender dan lain sebagainya. Biasanya hal-hal tersebut, mempunyai pembenaran yang disesuaikan dengan hawa nafsunya. Dan cenderung tidak menyadari keslahannya itu.

 

ISTIDRAJKAH NEGARA INI……?

Kalau ada orang yang bertanya, istidrajkah negara ini….? Maka saya bilang, tidak….! Mengapa demikian….? Karena memang negara ini, baru mendekati istidraj….!

Dan untuk memperjelas pendapat saya itu, saya uraikan dari sebagian kecil kebiasaan kita sebagai penduduk negeri.

  • mereka para orang tua di negara ini, merasa khawatir akan masa depan anak-anak mereka. seandainya hidup susah sepeninggal mereka kalak. Oleh karena itu, mereka persiapkan semuanya sedini mungkin. Tabungan, asuransi, dan harta benda yang lainnya. Yang akan diwariskan kelak kemudian hari, seandainya mereka telah tiada. Apakah hanya sampai disitu….? Tidak…..! para orang tua beranggapan, pendidikan yang tinggi adalah jaminan masa depan. Mending kalau pendidikannya itu pendidikan agama…….!
  • Generasi penerus bangsa inipun nggak mau kalah. Ada yang mempelajari hukum orang-orang kafir, ada yang mempelajari seni tarik suara, ada yang belajar akting, dan lain sebagainya. Untuk apa itu…..? supaya mereka bisa eksis kelak di kemudian hari. Supaya nanti bisa jadi penyanyi dangdut, terkenal dan kaya. Supaya nanti bisa jadi artis, terkenal dan kaya. Dan yang parah, para orang tua mendukungnya sepenuh hati.
  • Sangat mengagung-agungkan demokrasi
  • Sangat mengagung-agungkan HAM
  • Sangat mengagungkan gender
  • riba
  • Dan lain sebagainya.

Lalu mengapa saya katakan bahwa negara ini belum istidraj….? Tapi baru mendekati istidraj…..?

Karena kalau saya terangkan satu-satu kepanjangan, jadi intinya begini,

Seperti yang nyogok tadi, kita sebagai penduduk negeri, mempunyai pembenaran masing-masing dalam hal melaksanakan uraian saya tadi di atas. Atau dengan kata lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala merestui setiap tindakan kita itu. Maka ketika ada kebaikan        ( kalau memang benar  kebaikan) dari tindakan kita itu, maka kita akan menamakannya sebagai berkah. Dan karena kesalahan itu pulalah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan peringatan_Nya. Sunami, banjir, kelaparan, dan lain sebagainya. Yang akhirnya akan berujung kepada yang namanya istidraj.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.Al-An’am;44)

Coba renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, tinggal satu langkah lagi negara ini menuju kepada istidraj. Yaitu, dibukanya semua pintu-pintu kesenangan untuk bangsa ini.

Pemisalan :

  • Pada keadaan istidraj, demokrasi akan bisa membawa negara ini kepada yang namanya kemakmuran. Sehingga seluruh elemen bangsa ini, akan melupakan yang namanya hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Pada keadaan istidraj, persamaan gender akan diakui oleh seluruh elemen bangsa ini. Sehingga akan memperbanyak wanita yang durhaka.
  • Dan lain sebagainya.

 

Ujian, siksaan, atau peringatankah…..? apa mungkin berkah…..?

sebagai unek-unek terakhir, mungkin banyak orang yang bertanya, “ semua bencana ini termasuk ujian, siksaan, peringatan atau berkah……?”

Dan untuk lebih jelasnya, saya pakai pemisalan sewaktu terjadi bencana sunami di aceh. Yang notabene menurut pandangan kita sebagai manusia, masyarakat di sana termasuk masyarakat yang bagus dalam beragama.

Sunami di tanah rencong adalah sebuah ujian untuk orang-orang baik yang ada di sana. Dan juga sebuah siksaan untuk orang-orang yang tidak beriman di sana. Atau mungkin itu adalah sebuah peringatan bagi mereka yang masih mengerjakan maksiat dan kebaikan secara bersama-sama. Dan bukan mustahil itu adalah sebuah berkah, bagi orang-orang baik yang akan tergelincir kepada suatu kemaksiatan sebelum terjadinya sunami tadi….! Siapa tahu….!

Lalu bagaimana dengan firman Allah di bawah ini…..?

“jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.AL-A’raf:96)

Apabila  konteksnya negara bukan wilayah, maka saya katakan bahwa semua bencana yang terjadi selama ini adalah sebuah siksa ( secara umum ). Selain teori yang telah saya sebutkan tadi. yaitu ujian, peringatan dan berkah. Karena memang, di negara ini juga pasti ada orang baiknya, ada pula orang yang maksiat dan kebaikannya bareng dan tentu juga ada orang baik yang akan tergelincir kepada kemaksiatan.

Namun demikian, mengapa saya pada bahasan istidraj tadi mengatakan bahwa negara ini lagi di beri peringatan, bukan siksa….?

Coba baca lagi bahasan saya mengenai siksa dan ujian. Apabila tujuan kita hidup di dunia ini dalam mencari ridho_Nya Allah, maka alangkah baiknya kalau kita menganggap keduanya itu sebagai siksa. Karena hanya dengan begitulah kita dapat meningkatkan kadar keimanan kita kepada Sang Pencipta. Apalagi dengan siksa dan peringatan…..? karena memang keduanya mempunyai sebab yang sama, “ Allah tidak menyukai perbuatan makhluk_Nya”. Atau dengan kata lain, seandainya semua bencana itu adalah sebuah siksa ataupun peringatan, kita sebagai penduduk negeri tetap menjadi penduduk negeri yang tidak baik di hadapan Allah.

Meskipun hukuman dan peringatan tadi mempunyai alasan yang sama,  “ Allah tidak menyukai perbuatan makhluknya”, tapi untuk outputnya ada perbedaan        ( yang terasa oleh makhluk_Nya di dunia ). Sebuah peringatan pasti akan berbentuk siksa            ( kepedihan, kegetiran, kesusahan hidup dan lain sebagainya ). Tapi tidak demikian halnya dengan hukuman. Sebuah hukuman bisa berbentuk siksa ( kepediahan, kegertiran, dan kesusahan hidup ), ataupun kesenangan hidup yang mungkin akan semakin menjauhkan kita dari ridho_Nya.

Oleh karena itu, kita yang berada pada daerah –daerah yang tidak terkena bencana, bukan berarti kita lebih baik daripada mereka yang tinggal di daerah-daerah yang kena bencana.

Baiklah supaya lebih mengena dan tidak menyinggung seseorang, saya akan membandingkan antara aceh dan las vegas. Yang intinya kenapa bencana di turunkan di Aceh bukannya di Las Vegas….., daerah yang notabene mempunyai tingkat maksiat yang tinggi.

  • Las Vegas adalah sebuah kota yang sedang berada dalam keadaan istidraj. Dimana kesenangan dan kemudahan hidup disana adalah bentuk daripada siksa_Nya. Supaya mereka semakin jauh daripada kebenaran yang ada.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.Al-An’am;44)

  • Allah menurunkan bencana di Aceh, karena Allah ingin memperingatkan penduduk Aceh, agar mereka tidak seperti Las Vegas.
  • Dan tulisan terakhir orang bodoh pada bahasan ini adalah, jangan-jangan…, kota ataupun daerah tempat kita tinggal sudah jadi Las Vegas…….!!!!

Jadi bagaimana jawabannya, apakah Indonesia ini sedang mendapatkan siksa ataukah peringatan….!

Pada dasarnya, Allah Subanahu wa Ta’ala tidak usah mencari-cari alasan menurunkan sesuatu pada umatnya. Apakah itu siksa, berkah, peringatan dan lain sebagainya. Karena itu benar-benar hak_Nya Allah. Dan dilain pihak, kita sebagai manusai ciptaan_Nya, lebih baik mencari hikmah dari semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan, daripada kita mereka-reka apa yang sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan. Atau dengan kata lain, kita sebagai manusia lebih baik mengetahui tujuan daripada penurunannya dari pada cuman sekedar nama ataupun istilah dari penurunan itu. Lalu apa tujuan Allla Subahanahu wa Ta’ala menurunkan semuanya itu….? Supaya kita lebih mendekatkan diri kepada_Nya.

Namun meskipun begitu, baiklah. Meskipun saya cuman orang bodoh, tapi saya nggak ingin agama ini di sebut agama yang tidak jelas. Dan inilah alasan saya,

  • Pada dasarnya, semua yang ada di dunia ini tersaji dalam bentuk ujian. Kenapa begitu…..?  karena semua manusia pada awalnya adalah baik. Sesuai dengan fitrahnya.
  • Waktupun terus berlalu. Bersamaan dengan berubahnya sifat-sifat yang ada pada manusia itu. Dan untuk mengantisifasi perubahan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan berkah yang berbentuk keimanan dan kemudahan hidup, peringatan dalam bentuk siksa, azab dalam bentuk siksa dan kemudahan hidup, dan terakhir adalah ujian, yang tersaji dalam bentuk siksa dan kemudahan hidup.
  • Oleh karena itu, siksa yang saya katakan di depan adalah sebuah peringatan. Dan peringatan yang saya katakan selanjutnya adalah sebuah siksa.

 

 

 

Ketika sibodoh sakita kepala  (selingan)

Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu ciri orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. “Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikai (pengobatan dengan besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial dengan tanda burung atau lainnya) dan mereka hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka.” (Muttafaqun alaihi)

Ketika kita sakit kepala, apa yang pertama terpikirkan……? Tentu obat sakit kepala. Padahal kita semua tahu, siapakah yang mempunyai kepala kita ini…., siapakah yang memberikan penyakit….., dan siapakah yang dapat menyembuhkannya….? Dan kita semua pasti tahu jawabannya. Kesemuanya itu adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sang maha pencipta. Dan saya yakin, semuanya setuju akan hal itu.

Setelahnya kita setuju dan sepakat akan semua kekuasaan-Nya, kembali kepala kita berdenyut. Apa yang ada di benak kita….? Tentu obat sakit kepala. Kita tidak akan merasa tenang sebelum mendapatkan obatnya. Seolah-olah kita menomor duakan sang empunya penyakit dan sang empunya obat.

Tapi, benarkah demikian….?

Orang bodoh hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Pertanyaan itu, benar-benar di luar jangkauan dan kemampuan otaknya. Biarlah orang-orang pintar dibidangnya yang memikirkan hal-hal yang seperti itu.

Namun demikian, sebagai seorang bodoh yang selalu mengharapkan ridho_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya selalu  memikirkan, bagaimana kiranya supaya sibodoh ini tidak menomor duakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan inilah hasil daripada pemikiran si bodoh, dalam menyikapi sakit kepalanya.

  • Carilah kesalahan anda sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penyakit seperti itu.
  • Mintalah ampun atas kesalahan yang kita sadari dan juga yang tidak kita sadari. dan mungkin yang salah satunya telah menyebabkan kita sakit kepala.
  • Mintalah kesembuhan daripada_Nya.
  • Dan setelah itu, barulah kita mencari obat sebagai pengejawantahan logika kita sebagai manusia.

Ingat…! Bagi siapa saja pembaca yang menganggap mencari penyembuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebuah syirik, ini adalah tahapan awal untuk menuju kearah yang anda anggap benar. Adapun seandainya anda mempunyai pemikiran bahwa hal itu terlalu berlebihan dan menganggap obat hanyalah jalan dalam kita berikhtiar, anggaplah ini sebagai tempat kita meningkatkan kadar keimanan kita.

Maka dengan demikian, saya harapkan tidak akan ada lagi penduduk negeri ini  yang menyalahkan orang lain karena kepahitan hidupnya. Saya harapkan, tidak akan ada lagi penduduk negeri ini yang menyalahkan pemimpinnya karena bencana yang datang silih berganti. Dan saya harapkan, tidak ada lagi isteri-isteri yang menyalahkan suami mereka karena selalu pulang telat sehabis kerja. Cobalah para isteri berfikir, apa salah saya sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak demikian…?  Mungkinkah karena saya selalu melalaikan shalat lima waktu mungkin …..? atau…., mungkinkah karena saya kurang baik sama tetangga…..? dan ketika anda( para isteri ) tahu bahwa suami anda punya selingkuhan….., jangan pernah menyalahkan apalagi memarahi suami anda, tapi…., renungkanlah, apa kesalahan anda hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkendak demikian…..…!

Jadi intinya adalah, teruslah mengoreksi dan memperbaiki diri sendiri baru berharap. Maka dengan demikian, mudah-mudahan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala akan segera menghampiri kita. Semoga….!

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: