Home > Uncategorized > SOLUSI VERSI ORANG BODOH BAG 1

SOLUSI VERSI ORANG BODOH BAG 1

Dakwah

            “siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, “ sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” ( fushshilat : 33 )

Seperti halnya bahasan-bahasan yang lain, dalam bahasan inipun penulis tidak akan membahas dakwah secara terperinci. Biarlah itu menjadi tugasnya orang-orang pinter dibidangnya. Namun begitu saya ingatkan, namun bila kita ingin menjadi orang yang terbaik perkataannya di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdakwahlah….! Orang bodoh dan orang pinter sama saja, begitupun dengan orang kaya dan orang miskin. Pokoknya, perkataan yang terbaik di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah, orang yang menyeru menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu timbul pertanyaan…, benarkah semua orang diwajibkan untuk berdakwah…?

Ya memang wajib. ( untuk lebih jelasnya lihat penjelasan tentang amar ma’ruf nahi munkar pada bab-bab sebelumnya. Karena kalau orang bodoh ini lihat, orang-orang pinter membahas permasalahan dakwah ini sama dengan permasalahan amar ma’ruf nahi munkar).

Namun demikian, saya akan coba menguatkan pendapat saya dengan keterangan yang berbeda.

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

            “siapa saja yang bangun pagi, sementara ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka ia tidak berguna apa-apa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa saja yang tidak memperhatikan kaum muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka.” ( HR.Ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari)

Di mana dalam hadist tadi di sebutkan “ siapa saja yang tidak memperhatikan kaum muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka.” Apakah ini hanya berlaku untuk orang-orang pinter saja…..? saya kira enggak. Dan…., apakah ini hanya berlaku hanya untuk orang- orang khusus saja….,. dan lain sebagainya. Dan pertanyaan yang terakhir, apakah hanya memperhatikan saja……?

Baiklah, anggap saja itu sebagai persembahan seorang bodoh. Karena memang, pada bahasan ini, penulis akan lebih memfokuskan bahasannya kepada cara dan materi berdakwah, daripada dakwahnya itu sendiri.

Dan inilah menurut penulis kelemahan dakwah-dakwah yang kita lakukan. Kebanyakan dari kita melakukan dakwah dengan kita berbicara dan mereka mendengar. Dan itupun dengan materi yang itu-itu juga. Sehingga memberi kesan bahwa islam itu hanyalah shalat dan shalat, zakat dan zakat, dan lain sebagainya. Bandingkan dengan cara dakwah agama lain, mereka dakwah dibidang kesehatan, mereka dakwah dibidang kesenian, pendidikan dan lain sebagainya.

Adapun cara dan materi dakwah yang terlintas di benak penulis adalah sebagai berikut,

  • Sesuai dengan ajaran islam. Sudah barang tentu.
  • Mengetahui objek penerima dakwah.

Kalau boleh orang bodoh ini kasih saran, setiap orang yang berdakwah terlebih dahulu harus mengetahui objek penerima dakwahnya. Karena seseorang yang mau menerangkan hal shalat di majelis ta’lim, harus berbeda dengan bilamana kita menerangkan prihal shalat kepada orang-orang yang jarang shalat atau bahkan mungkin nggak pernah shalat. Karena itu akan sangat mempengaruhi kepada berhasil tidaknya dakwah kita.

Contoh :

Ketika kita memberikan dakwah prihal shalat di sebuah majelis ta’lim, yang notabene orang-orang di majelis ta’lim itu sudah rajin shalat, sedangkan materi dakwah kita adalah prihal wajibnya menjalankan shalat, maka itu akan terasa sedikit mubadzir ( meskipun tidak musti ). Karena memang mereka-mereka itu sudah shalat. Bahkan yang lebih ekstrimnya akan ngomong seperti ini,                  “ ngomong apaan tuh ustadz, lawong sebelum kesini juga kita mah sudah tahu bahwa shalat itu wajib….!” Karena memang orang-orang di majelis ta’lim lebih menyukai sesuatu yang baru. Dan itu akan lebih terasa. Misal, kasihlah mereka tips-tips shalat khusyu, bagaimana caranya ikhlas dan sebagainya.

Dan ini akan sangat terasa berbeda, manakala kita menerangkan prihal shalat kepada orang-orang yang jarang shalat bahkan mungkin tidak pernah shalat. Misalkan dalam dakwah kita kutip keterangan  yang seperti ini,

            “sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima semua jenis amalan kecuali yang murni ( ikhlas ) untuk_Nya dan untuk mencari wajah_Nya.” ( HR. Nasai )

Dengan keterangan yang seperti ini, jangankan untuk mengajak orang yang tidak pernah shalat untuk menjadi shalat, malah alih-alih, yang sudah shalatpun menjadi enggan shalat. Karena apa….? Karena kita sebagai pendakwah terlalu membebani mereka dengan kesempurnaan islam.

  • Mengetahui sesuatu yang menguntungkan dan merugikan islam

Pada saat ini, dimana permasalahan umat sudah begitu komplex, maka sepantasnyalah kalau para pendakwah agama, bisa mendalami berbagai disiplin ilmu.

Contoh :

Perbanyaklah dakwah dibidang kesehatan secara islam. Atau…., bagaimana caranya menjadi pengusaha muslim. Dan lain sebagainya. Ataupun contoh yang lebih sederhana adalah, anjurkanlah mereka untuk membeli produk-produk orang islam. Mau produknya itu islami ataupun nggak, mau pengusahanya itu suka beribadah ataupun nggak, tapi saya yakin…., membeli produk-produk yang dihasilkan orang islam lebih baik dari pada yang lainnya.

  • Akan sangat sulit rasanya kalau kita harus melawan “nyanyi” dengan “ngaji”. Maksudnya apa….?

Di luar hukum haram tidaknya nyanyi, tapi saya kira nggak ada salahnya juga kalau kita memanfaatkan kegemaran orang nyanyi, menjadi lahan dakwah kita. Ya meskipun begitu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa para istri ustadz harus ikutan kontes dangdut, ataupun para kiai bikin grup band, cukuplah dengan anda-anda orang yang berilmu untuk lebih mendekatkan diri ataupun memprioritaskan dakwah kepada para penyanyi muslim yang lagi ngetop.  Karena dengan demikian mudah-mudahan mereka bisa menyisipkan materi dakwah kita pada satu dua lagu mereka. Dan bahkan mungkin, kita akan mendapatkan bonus berupa perubahan sikap mereka ( para artis yang lagi ngetop itu )  dalam setiap tindakannya. Dan bonus yang lebih besarnya lagi, adalah perubahan sikap yang diikuti oleh para pengagumnya. Dan begitupun dibidang olah raga dan sebagainya.

  • Terkadang saya suka berhayal, seandainya saya mempunyai dana yang berlebih, saya akan membikin saingan untuk tempat mangkal kawula muda. Saya akan bikin tempat rekreasi yang islami, mall yang islami atau kalau mungkin, saya akan bikin diskotik yang islami…..! mungkin nggak ya…..?
  • Dibidang kesehatan, perbanyaklah kursus-kursus ataupun pelatihan-pelatihan kesehatan yang islami. Kalau nggak bisa gratis, murahpun nggak apa. Yang penting maksud dan tujuan kita tercapai.
  • Selain itu jangan lupakan media. Media cetak, elektronik ataupun internet. Kalau bisa, bikinlah film-film dan sinetron yang islami.
  • Untuk beberapa kalangan, jangan lupakan juga dunia ( kasat mata materi). Dan ini akan dibahas secara terpisah dengan judul materi dan agama.
  • Dan lain sebagainya. Dan kewajiban kitalah untuk terus dan terus memikirkannya.

mungkin banyak pembaca yang berfikiran seperti ini, “ bagaimana hukum dari nyanyi itu sendiri, olahraga ( apalagi yang putri ), film, sinetron, bahkan mungkin televisi itu sendiri…,”

 

Sebuah dongeng

Dikisahkan di sini, ada seorang pemuda yang sangat mencintai seorang gadis. Sebut saja pemuda itu Entong. Sayang, karena sesuatu hal pemuda itu tidak berani menyatakan rasa cintanya kepada gadis pujaannya itu. Karena apa…..? karena dia merasa tidak pantas untuk mencintai seorang gadis yang soleha. Sedangkan dianya sendiri, jauh dari baik. Bagi pemuda itu, melaksanakan agama hanyalah sebatas kewajiban. Itupun hanya sebagai pengisi waktu senggang.

Dan entah karena apa, akhirnya si pemuda tadi mempunyai keberanian untuk menyatakan rasa sayangnya kepada gadis pujaannya itu. Dan apa jawaban si gadis pujaannya itu….?

“ kalau saya sih terserah ayah saja.” Kata gadis itu.

Dan kembali nyali pemuda itu menjadi ciut. Dia yang tidak ada apa-apanya di bidang agama, harus berhadapan dengan tokoh agama dimana dia tinggal.

Dan entah karena apa pula, akhirnya keberanian pemuda itu pun kembali muncul. Akhirnya dia memberanikan diri untuk meminta restu dari ayah gadis pujaannya. Dia datangi rumah gadis pujaannya itu. Dengan pakaian bak seorang ustadz yang ada panggilan ceramah agama di suatu tempat. Kalung rantai yang biasa melingkar di lehernya sudah berganti dengan kalungan sorban. Sengaja dia memilih sorban yang terpanjang yang ada di negara ini. Gelang dan cincin yang menghiasi kedua tangannya, sudah berganti dengan untaian tasbih. Dan karena takut nggak kelihatan, sengaja dia memilih tasbih yang besar, seperti layaknya di film-film shaolin. Begitupun dengan baju dan celananya. Pokoknya mulai malam itu, pemuda yang bernama Entong berpakaian sangat ustadz sekali……!  ( satu point kita dapat. Meskipun tidak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi saya percaya kebaikan bisa datang dimana, kapanpun dan karena sebab apapun).

Dan singkat cerita pertemuan itupun terjadi. Mereka bicara ngalor-ngidul sebagai basa-basi. Dan di ujung percakapan, tokoh agama tadi berharap agar si pemuda tadi mau menyempatkan diri untuk shalat berjama’ah di mesjid. Sebagai keseriusan dari keinginannya untuk mempersunting anaknya.

Dan sepulang dari pertemuannya dengan calon mertua, pemuda itupun sibuk berbenah. Kamar yang tadinya penuh dengan gambar-gambar bagian tubuh manusia, yang khususnya perempuan…., sekarang sudah berganti dengan tulisan kaligrafi. Cd yang tadinya cuman lagu-lagu barat yang nggak karuan, sekarang telah berganti dengan cd-cd ceramah. Sedangkan iqra kecil dan juz amma yang sudah kucel, bekas dia dulu waktu belajar ngaji, sekarang sudah berganti dengan Qur’an dan buku-buku tentang agama. ( sampai di sini, sudah banyak kebaikan yang pemuda itu dapatkan. Belum lagi kebaikan-kebaikan yang lainnya, seperti, memberikan salam setiap bersua seseorang, tidak lagi bicara kotor, dan sebagainya. Dan saya katakan disini, semua itu karena gadis pujaan, bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Dan waktupun terus berlalu. Dan diapun banyak dikenalkan kepada keluarga dan rekan-rekan calon mertuanya. Dan karena kebutuhan pergaulan, maka diapun terus dan terus mempelajari agamanya. Dan semua itu karena apa…? Karena gadis pujaan. Bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau kita perhatikan cerita tadi di atas, maka initinya adalah, “ biarkan seseorang itu masuk dulu”. Dan kalau sudah begitu, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala  berkenan untuk memberikan hidayah_Nya. Dan saya kira, inilah cara dakwah yang terbaik, untuk saat ini, di negeri ini.

 

Materi dan agama

Ada kebiasaan di negara ini, dimana orang-orang yang mempunyai keperluan ataupun hajat, dia suka meminta petunjuk dari para kiai, prihal apa yang harus mereka lakukan, guna memperoleh keperluan dan hajatnya itu. Di luar hukum yang berlaku atas kebiasaan tersebut, saya kira, hal ini bisa kita jadikan lahan dakwah yang menjanjikan. Karena memang, mau tidak mau, terima tidak terima, lebih dari separo penduduk muslim negeri ini melakukannya.

Namun sebelum saya melanjutkan bahasan ini, pertama-tama saya akan membagi dulu umat muslim di negara ini menjadi beberapa tingkatan,

  1. Orang yang bener-bener takut dosa. Ini haram dan itu nggak boleh.
  2. Orang-orang yang sedikit longgar. Dan mereka biasanya toleran dengan beberapa yang haram dan yang tidak boleh. Namun pada tingkatan ini, orang-orangnya masih termasuk kepada golongan yang rajin beribadah.
  3. Orang yang kebaikan dan maksiat jalan bareng.
  4. Orang yang gemar maksiat dan tidak tahu kebaikan. Tapi dia muslim.

Dan kalau kita mau jujur, maka di negara ini di dominasi oleh muslim no.3 ( orang yang kebaikannya dan maksiatnya jalan bareng). Disusul oleh oleh no.2 ( orang-orang yang sedikit longgar), terus no.4 dan yang terakhir no.1

Dan dakwah semacam ini ( memberi iming-iming dunia) akan sangat mengena kepada orang-orang seperti pada no. 3, no.4 dan sebagian no.2. dan saya kira, itu lebih dari 75 persen penduduk muslim di negara ini.

Maka pada tempatnyalah kalau saya bilang, ini adalah lahan dakwah yang sangat besar dan menjanjikan. Tapi dengan syarat, adanya kelanjutan dari do’a ataupun sesuatu yang telah diberikan kepada mereka berupa “ pengajaran agama yang lebih mendalam terutama tauhid”. yang mudah-mudahan nantinya akan berdampak pada kenaikan level keimanan mereka. Misal dari no.2 ( sedikit longgar dan toleran) menjadi no.1, yang tadinya no.3 jadi no. 2 dan seterusnya. Karena yang terpenting biarkan mereka masuk dulu. untuk kesananya kita pikirkan bersama.

Contoh,

Ketika datang seseorang yang mempunyai keluhan prihal usahanya, dan dia meminta petuah ( ini hanya karangan penulis saja. Karena penulis juga nggak tahu kalau pengen usaha maju harus baca apaan) maka, misalkan kita bilang “ bacalah surat ini setelah shalat shubuh, bacalah itu setelah shalat dzuhur, dan lain sebagainya”. Sampai shalat tahajud dan dhuha sekalian. “Dan kalau mau lebih manjur lagi, cobalah untuk memahami arti dari surat-surat tadi”. Apakah kita salah dengan mengatakan hal yang demikian….? Saya kira nggak. Karena saya bigitu meyakini, bahwa B*B=B ( untuk mendapatkan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala  maka kita harus berprilaku islami ). Ya seperti anjuran kita tadi. Apalagi kalau setelahnya, orang itu bisa kita bujuk untuk rajin mengikuti ceramah yang kita lakukan. Dimana dalam ceramah-ceramah kita itu, mengedepankan permasalahan tauhid.

Sebagai contoh konkritnya saya akan mengulas sedikit mengenai ustadz yang lumayan lagi ngetop sekarang ( kaya artis aja….! ). Yaitu Ustadz Yusuf Mansyur dan teori sedekahnya.

Hampir setiap pengajaran yang disampaikan olehnya, beliau selalu mengedepankan iming-iming duniawi bagi setiap amalan yang musti dilakukan oleh jama’ahnya. Harus shalat tahajud, dhuha, shalat berjama’ah, sedekah dan lain sebagainya. Adapun iming-iming yang dia tawarkan bisa berupa punya anak bagi yang belum punya anak, dapet pekerjaan, kekayaan, dan lain sebagainya.

Ada dua pertanyaan yang tersirat dalam benak saya, melihat fenomena seperti di atas, yaitu, baguskah….., dan benarkah……?

Untuk masalah baguskah, saya akan menguraikan apa yang telah saya alami secara pribadi.

Sebelum lanjut kepada bahasan, ada baiknya saya terangkan dulu siapa saya. Dimana ini akan terasa penting karena para pembaca akan lebih mudah memahami maksud daripada cerita ini nantinya.

Pertama kali saya mengenal pengajaran ala Ustadz Yusuf mansyur, saya termasuk orang yang kurang suka beribadah. Saya nggak pernah mengenal yang namanya shalat dhuha, tahajud, shalat sunat, shalat berjama’ah, apalagi sedekah dan lain sebagainya. Bahkan pada waktu itu, saya hanya hapal dua buah surat pendek yaitu, An-Naas dan Al-Falaq. Yang mana kedua surat pendek itu, saya pakai untuk menunaikan setiap shalat dalam kehidupan saya. ( yang mudah-mudahan akan menjadi penolong saya di akhirat kelak….! Kenapa tidak…., toh saya ini kan penggemarnya…..!)

Singkat cerita, setelahnya saya membaca buku-buku karyanya beliau, saya mulai mau menghapal beberapa surat pendek yang lainnya. Karena apa….? karena saya mengharapkan Allah swt secepatnya dapat mengabulkan permintaan saya. Karena saya ingin Allah swt lebih menghargai ibadah saya. Saya takut Allah swt merasa bosan dengan apa yang saya kerjakan, shalat shubuh An-Naas dan Al-Falaq, shalat dhuha dari raka’at pertama sampai raka’at keenam ataupun kedua belas seperti anjurannya beliau, surat An-Naas dan Al-Falaq, dan seterusnya. Saya merasa malu pada Allah swt, pengharapan besar, ngirimnya An-Naas lagi…., Al-Falaq lagi…..!

Dan mulailah saya menghapal beberapa surat pendek lainnya. Dengan sebab apa….? karena alasan materi yang sedang saya usahakan, bukan karena Allah swt. Begitupun dengan shalat dhuha dan tahajud saya, semuanya karena materi. Bukan karena Allah swt. bahkan saya pun mulai menghapal beberapa surat panjang yang dianjurkan oleh beliau. Seperti surat yaa-siin, Al-waaqi’ah dan lain sebagainya. Karena apa itu….., karena materi.

Haripun berganti minggu, dan bulanpun berganti dengan tahun. Akhirnya saya bosan dengan rutinitas yang telah beliau anjurkan. Dhuha yang saya kerjakan tidak mempunyai dampak yang signifikan dalam meningkatkan taraf hidup saya. Begitupun dengan sedekah dan yang lainnya.dan inilah saya kira, salah satu kelemahan terbesar dakwah model seperti ini. Lalu bagaimana selanjutnya….?

Kalau dulu saya membaca Al-qur’an itu untuk mendapatkan materi, tapi sekarang saya membaca Al-Qur’an itu karena memang saya kangen untuk membacanya. Kalau dulu saya shalat dhuha itu untuk mendapatkan materi, tapi sekarang, saya melakukan shalat dhuha karena memang saya ingin melakukannya. Dan lain sebagainya. Dan yang terpenting saya yakin sekarang, Allah swt tidak akan memanggil saya ( di akhirat kelak ) dengan nama An-naas bin Al-falaq, karena memang sekarang sudah bisa menghapal banyak surat pendek dan beberapa surat yang agak panjang. Karena siapa itu…..?  karena pengajaran dari Ustadz Yusuf Mansyur…..!

Dan sekarang kita beralih kepada permasalahan yang kedua, benarkah…..?

            “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya, hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia, yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”           ( HSR.Bukhari-Muslim )

Berkata An-Nawawy dalam Syarh Muslim “ sesungguhnya telah datang bahwa sebab keluarnya hadits ini adalah tentang seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois. Maka diapun dipanggil dengan sebutan Muhajir Ummu Qois ( orang yang berhijrah karena Ummu Qois)”.

Meskipun  banyak orang yang mempertentangkan akan kebenaran sebab akan keluarnya hadist tadi, (Diluar dari hadits nya sendiri yang memang shahih). Tapi saya lebih tertarik kepada bagaimana Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  berdakwah.

Dalam hadits di atas di katakan, “ barang siapa yang hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya, hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”

Lalu timbulah pertanyaan di benak saya.

“ benarkah seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois menjadi penyebab turunnya hadits ini….?”

“ adakah orang lain yang berhijrah pada waktu itu untuk tujuan yang serupa         ( dunia dan wanita) yang menyebabkan turunnya hadits ini…..?”

Dan inilah hasil pemikiran orang bodoh…!

Sama seperti ucapan saya mengenai hadits-hadits yang terdahulu. Setiap perkataan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam pastilah perkataan yang benar adanya dan nyata.  Bukan perkataan iseng. Seandainya Beliau berkata bahwa “ barang siapa yang hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya, hijrahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.” Maka saya yakin pada waktu itu, bahkan sampai sekarang akan ada ( bahkan mungkin kebanyakan) yang melakukan hijrah seperti itu. Karena memang pada dasarnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai sifat jeleknya untuk manusia jaman dulu dan juga jaman sekarang. Di luar benar tidak nya mengenai cerita seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois.

Dari Sa’ad  r.a, katanya “

            “Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi-bagikan suatu barang kepada orang yang tak mendapat bagian ; banyak; tetapi ada pula orang yang tak mendapat bagian; dan sa’ad sendiri berpendapat bahwa orang itu baik dan harus diutamakan dalam pembagian itu. Oleh sebab itu dia bertanya kepada Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang sebab beliau meninggalkan si Anu itu dari pembagian; katanya, “ demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya tahu benar bahwa Dia mu’min     ( beriman ). Jawab Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam : “ lebih baik katakan saja muslim.” Kata Sa’ad, saya terdiam sejurus; kemudian saya desak beliau lagi agar memberi bagian kepada orang itu, karena saya tahu benar akan keimanannya. Demikian Sa’ad berulang-ulang sampai tiga kali menegaskannya; tetapi Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu menjawab: “ katakanlah muslim.” Akhirnya beliau berkata: “ sesungguhnya kuberi orang-orang itu karena khawatir berubah imannya, lalu dimasukan kedalam api neraka, sedangkan sebenarnya, ada orang lain yang lebih aku cintai.” ( HR. Muslim )

Hadits di atas menandakan, pada jaman dulu juga tidak semua orang memeluk islam karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sampai-sampai Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam harus menjaganya dengan materi. Dan mungkin masih banyak hadits-hadits lain yang menceritakan kejelekan muslim pada waktu itu. Dan itu dapat terlihat dari kisah-kisah yang menceritakan kejadian-kejadian penting sepeninggal Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun inti dari bahasan saya ini adalah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah sesuatu yang harus di capai. Bukan prasyarat seseorang dalam beribadah. Hal itu dapat dilihat dari tindakan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  sendiri yang membiarkan lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois tadi. Sehingga diapun dipanggil dengan sebutan Muhajir Ummu Qois. ( terlepas dari benar tidaknya cerita ini yang menyebabkan turunya hadits ini).

Dan apa hasilnya….? Islam berjaya pada masa itu.

Oleh karena itu saya mengharapkan, kita jangan melihat darimana arah mereka masuk. Tapi bagaiman memanage mereka yang telah masuk itu, supaya menjadi lebih baik.

 

Sesuatu yang terlewatkan

Kalau saya cermati dari cerita para nabi dan rasul yang di utus Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umatnya, maka ada kecenderungan Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan kelebihan kepada mereka. Yang kasat mata dapat terlihat oleh umatnya. Nabi Musa AS dapat merubah tongkatnya menjadi ular. Nabi Ibrahim AS, di bakar tapi nggak apa-apa. Dan lain sebagainya. Dan dengan begitupun pembangkangan dari pada umatnya masih terus saja berlanjut. Apalagi jaman sekarang….?

Oleh karena itu, saya berharap bagi orang-orang yang ingin mengabdikan hidupnya di dunia dakwah, ilmu agama saja tidaklah cukup. Carilah sesuatu dari hal keduniaan yang dapat membuat mereka ( objek dakwah kita ) menghargai kita. Ya nggak usah belajar membelah laut…., tapi…., jadilah pengusaha muslim yang sukses misalkan, atau…., jadilah pejabat, atau mungkin….., jadi pengobat juga bisa. Dan lain sebagainya.

Contoh :

Ketika kita mengerti ilmu-ilmu kesehatan ataupun kedokteran atau dalam tanda petik kita bisa mengobati orang yang sakit, maka dakwah kita kepada pasien yang telah kita sembuhkan itu, akan lebih mudah mengena dari pada kita yang hanya berbekal ilmu agama saja. Karena memang begitulah manusia. Dan saya yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tahu itu. Makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menurunkan utusan_nya lengkap dengan kelebihannya masing-masing.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: