Home > Uncategorized > SOLUSI VERSI ORANG BODOH BAG 2

SOLUSI VERSI ORANG BODOH BAG 2

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Memasyarakatkan amar ma’ruf nahi munkar adalah solusi kedua yang ditawarkan penulis guna menanggulangi krisis bangsa ini. Namun demikian, dikarenakan amar ma’ruf nahi munkar telah penulis bahas pada bab-bab sebelumnya, maka pada bahasan kali ini penulis mencoba untuk memuat apa itu amar ma’ruf nahi munkar menurut orang-orang yang mengerti di bidangnya. Anggaplah ini sebagai pengimbang, seandainya tulisan saya tadi banyak yang menyimpang dari pada keilmuan yang sebenarnya.

Dari Abu sa’id Al-Khudry radhiyallahu‘anhu berkata, saya mendengar Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“barang siapa diantara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah ( mengingkari ) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah ( mengingkari ) dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah” ( HR.Muslim : 49 )

Dalam riwayat lain,

“tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”

Hadist ini adalah hadist yang jami’ ( mencakup banyak persoalan ),dan sangat penting dalam syari’at islam, bahkan sebagian ulama mengatakan, “ hadist ini pantas untuk menjadi separuh agama (syari’at ). Karena amalan-amalan syari’at terbagi dua : ma’ruf ( kebaikan) yang wajib diperintahkan dan dilaksanakan, atau munkar                    ( kemunkaran) yang wajib diingkari, maka dari sisi ini, hadits tersebut adalah separuh dari syari’at.” ( lihat At Ta’yin fi Syahril Arba’in, At Thufi, hal 292 ).

Syaikhul islam ibn Taimiyah berkata, “ sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah : tidak tinggal sesudah batas  pengingkaran ini ( dengan hati ). Sesuatu yang dikatagorikan sebagai iman sampai seseorang itu melakukannya. Akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terakhir dari keimanan. Bukanlah maksudnya, bahwa barang siapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali. Oleh karena itu Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “tidaklah ada sesudah itu” maka beliau menjadikan orang-orang yang beriman menjadi tiga tingkatan. Masing-masing diantara mereka telah melakukan keimanan yang wajib atasnya. Akan tetapi yang pertama ( mengingkari dengan tangan ) tatkala ia yang lebih mampu diantara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang kedua ( mengingkari dengan lisan ). Dan apa yang wajib atas yang kedua, lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka dengan demikian diketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan. Yang wajib atas mereka, sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab ( perintah ) kepada mereka. ( Majmu’ fatawa, 7/427)

Hadist dan perkataan syaikhul islam di atas, menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar, merupakan karakter seorang yang beriman. Dan dalam mengingkari kemunkaran tersebut ada tiga tingkatan :

  • Mengingkari dengan tangan
    • Mengingkari dengan lisan
    • Mengingkari dengan hati

Tingakatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas. Dalam hal ini, seseorang apabila melihat suatu kemunkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya. Seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap isteri, anak dan keluarganya. Dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.

Kemudian dalam amar ma’ruf dan nahi munkar ada beberapa kaidah penting dan prinsip dasar yang harus di perhatikan. Jika tidak diindahkan niscaya akan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar dan banyak. Diantaranya :

  • Mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah. Ini adalah kaidah yang sangat penting dalam syari’at islam secara umum. Dan dalam beramar ma’ruf nahi munkar secara khusus. Maksudnya ialah, seseorang yang beramar ma’ruf nahi munkar, ia harus memperhatikan dan mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadat dari perbuatannya tersebut. Jika maslahat yang ditimbulkan lebih besar dari masfadatnya maka ia boleh melakukannya. Tapi jika kebalikannya. Maka haram dilakukan……dst.

Syaikhul islam ibn taimiyah berkata, “ jika amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan kewajiban dan amalan sunah yang sangat agung ( mulia ) maka sesuatu yang wajib dan sunah hendaklah maslahat di dalamnya lebih kuat atau besar dari masfadatnya. Karena para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan dengan membawa hal ini. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai kerusakan. Bahkan setiap apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah kebaikan. Dan dia telah memuji kebaikan dan orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, serta mencela orang-orang yang membuat kerusakan dalam beberapa tempat. Apabila masfadat amar ma’ruf dan nahi munkar lebih besar dari maslahatnya, maka ia bukanlan sesuatu yang di perintahkan. Sekalipun telah ditinggalkan kewajiban dan dilakukan yang haram. Sebab seorang mukmin hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menghadapi hamba_Nya. Karena ia tidak memiliki  petunjuk untuk mereka. Dan inilah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah dirimu. Orang yang sesat tidak akan membahayakanmu, jika kamu mendapat petunjuk.” ( QS Al-Maa’idah : 105 )

Dan mendapat petunjuk hanya dengan melakukan kewajiban. ( Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar hal 10. Cet. Wizarah syuun al Islamiyah )

Dan beliau pun menambahkan “………ukuran dari maslahat dan mafsadat  adalah kacamat syari’at.”

Karateristik orang yang beramar ma’ruf nahi munkar.

Sekalipun amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan kewajiban setiap orang yang mempunyai kemampuan untuk itu sesuai dengan maratib ( tingkatan-tingkatan ) di atas, akan tetapi orang yang melakukan hal itu harus memiliki criteria berikut ini.

  • Berilmu
  • Lemah lembut dan penyantun
  • Sabar

Berilmu

Amal ma’ruf dan nahi munkar adalah ibadah yang sangat mulia. Dan sebagaimana yang dimaklumi bahwa suatu ibadah tidak akan di terima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali apabila ia ikhlas kepada_Nya dan sebagai amal yang saleh. Suatu amalan tidak mungkin menjadi amal saleh kecuali apabila berlandaskan ilmu yang benar. Karena seseorang yang beribadah tanpa ilmu maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Karena ilmu adalah imam amalan. Dan amalan mengikutinya.

Syaikhul islam berkata, “ jika ini merupakan definisi amal saleh ( yang memenuhi persyaratan ikhlas dan ittiba’) maka seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar wajib menjadi seperti ini juga terhadap dirinya. Dan tidak akan mungkin amalannya menjadi amal saleh. Jika ia tidak berilmu dan paham. Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz, “ barang siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang diperbaikinya.” Dan dalam hadits Mu’adz bin Jabal mengatakan “ ilmu adalan imam amalan, dan amalan mengikutinya”. Dan ini sangat jelas, karena sesungguhnya niat dan amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka ia adalah kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu……dst. Dan inilah perbedaan orang-orang jahiliyah dan orang-orang islam. ( Al Amru bil Ma’ruf wan Nahil anil Munkar, hal 19 cet. Wizarah Syuun al islamiyah ).

Ilmu disini mencakup ilmu tentang kebaikan dan kemunkaran itu sendiri, bisa membedakan antara keduanya dan berilmu tentang keadaan yang diperintah dan yang dilarang.,

Lemah lembut dan santun

Seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar hendaklah mempunyai sifat lemah lembut dan penyantun. Sebab segala sesuatu yang disertai lemah lembut akan bertambah indah dan baik dan sebaliknya,  jika kekerasan menyertai sesuatu maka akan menjadi jelek sebagai mana sabda Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“sesungguhnya tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah dicabut ( hilang ) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.” ( HR. Muslim no. 2594 )

“sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penyantun. Ia menyukai sifat penyantun ( lemah lembut ) dalam segala urusan. Dan memberikan dalam lebah lembut apa yang tidak diberikan dalam kekerasan. Dan apa yang tidak diberikan dalam selainnya”. ( HR. Bukhori dan Muslim )

Imam Akhmad berkata, “ manusia butuh kepada Mudaaraah ( menyikapinya dengan lembut ) dan lemah lembut dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar. Tanpa kekerasan. Kecuali seseorang yang terang-terangan melakukan dosa, maka wajib atasmu melarang dan memberitahunya, karena dikatakan, “ orang fasik tidak memiliki kehormatan maka mereka tidak ada kehormatannya.” …..dst.

Sabar

Hendaklah seseorang yang beramar ma’ruf nahi munkar bersifat sabar, sebab sudah merupakan sunatullah bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan serta mencegah dari kemunkaran pasti akan menghadapi bermacam bentuk cobaan. Dst…….

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)”.  ( Luqman : 17 )

Syaikhul islam Ibn Taimmiyah berkata, “ sabar terhadap cobaan dari manusia dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar jika tidak dipergunakan pasti akan menimbulkan salah satu dari dua permasalahan ( kerusakan ). Boleh jadi ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, atau timbulnya fitnah dan kerusakan yang lebih besar dari kerusakan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Atau semisalnya. Atau mendekatinya. Kedua hal ini adalah maksiat dan kerusakan.

Maka harus ada ketiga karakter di atas : ilmu, lemah lembut, dan sabar. Ilmu sebelum menyuruh dan melarang, dan lemah lembut bersamanya dan sabar sesudahnya.

Penulis : Ustadz Muhammad Nur Ihsan, M.A

Artikel www.muslim.or.id

Catatan : naskah diatas sudah melalui proses penyuntingan. Adapun lengkapnya baca pada sumber yang tertera.

Pendapat penulis

Kalau mellihat uraian tadi di atas, boro-boro saya mengomentari prihal benar salah ataupun setuju nggak setuju, lawong untuk mengerti kalimatnya saja, saya harus membacanya berulang-ulang. Mendingan kalau ngerti, inimah nggak tahu ngerti nggak tahu enggak.

Lalu siapa yang salah….?

Ya nggak ada yang salah. Lawong orang pinter, berbicara layaknya orang pinter, dan mereka sudah barang tentu berada pada dunianya orang pinter. Dan orang bodoh, berbicara layaknya orang bodoh, dan sudah barang tentu berada pada dunianya orang bodoh. Yang diperlukan di sini adalah ( dan itu termasuk tugas pendakwah) penghubung antara dunianya orang-orang pintar dan dunianya orang-orang bodoh.

Contoh :

Ketika saya kuliah dulu, ada seorang dosen kalkulus dengan gelar profesor. Dia menerangkan mata kuliah tersebut dangan cara dan bahasanya. Lalu apa yang terjadi…..? ya begitu, mahasiswa…., mahasiswa, dosen…., dosen. Sang profesor sibuk dengan rumusannya, dan kita sebagai mahasiswa sibuk dengan ketidak mengertian kita. Lalu singkat cerita, beberapa hari kemudian, karena suatu alasan sang profesor itupun tidak dapat mengajar. Dan dia digantikan oleh sang asisten dosen, yang masih jauh dari profesor. Dan bagaimana hasilnya….? Ternyata apa-apa yang di terangkan oleh sang profesor kemarin-kemarin itu, nggak terlalu sulit. Bahkan untuk seorang bodoh sekalipun.

Begitupun dengan tulisan tadi di atas, bagi seorang bodoh, itu hanya akan mempersulit. Dan saya yakin…., apabila seorang bodoh membaca tentang amar ma’ruf nahi munkar tadi di atas, tidak akan ada orang bodoh ( yang mendominasi negeri ini ) yang mau beramar ma’ruf nahi munkar. Seorang bodoh mungkin akan berfikir, bahwa untuk beramar ma’ruf itu seseorang harus gimana…., gitu. Bisa bahasa arab mungkin, atau…, tahu ratusan hadits…., hafal qur’an dan lain sebagainya. Belum lagi dengan ikhlas, sabar dan mengetahui maslahat dan mafsadahnya. ( lawong saya arti mafsadah juga nggak tahu…., kalau nggak ada maslahat mah,……!!!)

Oleh karena itu, saya tidak akan memberi komentar apapun mengenai tulisan tadi di atas ( mengenai kanduangannya) .  namun demikian ( alhamdulillah, kalau kita mau membaca tulisan karya orang pinter, selalu saja ilmu yang kita dapatkan) saya akan menambahkan beberapa point penting mengenai amar ma’ruf nahi munkar.

Adapun point-point penting prihal amar ma’ruf nahi munkar yang saya dapatkan setelahnya membaca tulisan tadi di atas adalah sebagai berikut :

  • Amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi setiap orang di negeri ini. Sesuai dengan kemampuannya masing-masing. ( tetep dengan pendapat saya yang pertama)
  • Sebelum kita beramar ma’ruf nahi munkar, kita terlebih dahulu harus mempertimbangkan yang namanya maslahat dan mafsadahnya.

Contoh :

Ketika kita beramar ma’ruf nahi munkar kepada atasan kita prihal shalat jum’at, pertama-tama kita harus mempertimbangkan maslahat dan mafsadahnya. Terutama bagi diri kita sendiri. Kalau seandainya kemauan kita dalam beramar ma’ruf nahi munkar itu dapat membuat kita di pecat dari pekerjaan kita, sementara itu kita tidak mempunyai penghasilan lain, sementara kita juga tahu akan perangai isteri kita jika terjadi pemecatan, dan akan berakhir dengan perceraian mungkin….,maka dapat di katakan bahwa dalam beramar ma’ruf nahi munkar yang seperti itu, mafsadah lebih besar dari maslahatnya. Tapi…, jangan pernah coba-coba untuk membesar-besarkan mafsadah guna menghindar dari amar ma’ruf nahi munkar. Karena saya yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengetahuinya.

  • Sebelum beramar ma’ruf nahi munkar, harus tahu dulu ilmunya. Suapaya mudah di cerna oleh kalangan bodoh seperti saya, saya sederhanakan kalimatnya.

Dengan mengetahui hukum dari pada suatu pekerjaan dimana kita akan menegakan amar ma’ruf nahi munkar kepadanya ( pada pekerjaan tersebut ), itu sudah mencukupi prihal kita beramar ma’ruf nahi munkar.

Contoh :

Ketika kita akan menegor seseorang yang tidak melaksanakan shalat jum’at, maka ketahuan kita prihal wajib tidaknya shalat jum’at bagi muslim laki-laki, itu sudah memenuhi kriteria ilmu dari pada amar ma’ruf nahi munkar prihal wajibnya shalat jum’at. Beda dengan ketika kita menegor orang untuk shalat jum’at pada hari selasa…, itu baruk nggak berilmu….!

  • Yang beramar ma’ruf nahi munkar itu harus ikhlas. Sedangkan ikhlasnya itu sendiri adalah, seseorang yang berniat untuk ibadahnya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sampai disini saya masih terima, dan saya yakin masih banyak orang yang mau beramar ma’ruf nahi munkar. Lalu baca juga ini, “ namun apabila kita beribadah dengan mengharapkan sesuatu yang lain, ataupun untuk mendapatkan pujian makhluk, maka ini akan menggugurkan ibadah dan termasuk syirik.” Kalau sudah begitu, maukah seorang bodoh untuk beramar ma’ruf nahi munkar….? Karena kalau ujung-ujungnya ke syirik, mungkin kita sebagai muslim ini harus belajar ikhlas dulu sebelum belajar shalat, mungkin kita itu harus belajar ikhlas dulu sebelum belajar puasa, dan lain sebagainya. Karena memang, dengan kita dalam tanda petik tidak ikhlas, maka semua ibadah itu akan menjerumuskan kita kepada yang namanya syirik. Oleh karena itu saya berpendapat, ikhlas itu adalah sesuatu yang harus dicapai oleh umat muslim. Bukanlah prasyarat sebuah ibadah. Dan ketidak ikhlasannya itu sendiri, hanya akan mengurangi daripada nilai ibadah kita.            ( insya Allah untuk ikhlas ini, saya akan membahasnya secara khusus pada lain waktu ).
  • Dalam beramar ma’ruf nahi munkar kita harus lembut dan santun. Tapi saya kira tamparan yang lembut juga nggak apa-apa ….! Apalagi kalau orang itu dibawah tanggung jawab kita.
  • Dan yang terakhir, setelah kita beramar ma’ruf nahi munkar, maka bersabarlah. Sabar menghadapi apa-apa yang akan terjadi pada kita setelah beramar ma’ruf nahi munkar, dan sabar ketika objek beramar ma’ruf nahi munkar kita tidak memberikan respon yang baik.

“kami tidak munurunkan Al-qur’an ini kepadamu ( Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut ( kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ), di turunkan dari (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” ( QS.Thaahaa:2-4)

“Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala  jadikan bagi kalian dalam agama ini kesulitan.” (Al-haaj:78)

“sungguh islam itu mudah, tiadalah yang memaksakan dirinya maka ia akan kalah, maka berbuatlah sewajarnya, dan mendekatlah kepada perbuatan baik, dan ketahuilah kabar gembira pada amal-amal, dan mohonlah ( berdo’alah) pada pagi hari, sore hari dan sebagian waktu akhir malam.” ( shahih Bukhari)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: