Home > Uncategorized > UNTUKMU PARA PEMIMPIN ( pembelaan terhadap FPI )

UNTUKMU PARA PEMIMPIN ( pembelaan terhadap FPI )

TELOR ATAU AYAM YANG DULUAN

            Sampai selesainya bahasan mengenai salah siapa pada bab satu, orang bodoh ini masih menegakan kepalanya. Orang bodoh ini, dengan membawa-bawa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadist (yang tahu nyambung apa nggak )  telah dengan lantang mengatakan bahwa, kita lah yang salah sebagai penduduk negeri. Kitalah yang telah menyebabkan negara ini terpuruk. Kitalah yang menyebabkan bencana itu datang silih berganti. Kitalah…., kitalah…, dan kitalah sebagai tempat semua kesalahan itu bermula. Lalu…, siapakah kita….? Siapakah yang orang bodoh ini katakan sebagai penduduk negeri….?  Lalu…., siapakah orang bodoh ini….? Apakah dia termasuk di dalamnya…..???

Tentu tidak dong….! ( emang sih paling enak nyalahin orang lain, jadi kita tidak termasuk didalamnya).

tenang….., sebagai pembela komunitas orang-orang bodoh, saya akan usahakan untuk dapat membuat orang lain salah dan kita nggak…! ( kita…, elo aja kali…, gue kaga….!)

Lihat nih pembahasannya…..

Meskipun orang bodoh ini telah menetapkan penyebab dari pada keterpurukan negara  ini adalah kita sendiri sebagai penduduk negeri, tapi orang bodoh inipun menyadari, akan sangat sulit ( meskipun bukan mustahil jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak ) untuk memperbaiki sesuatu yang bersifat menyeluruh. Apalagi kalau kita termasuk di dalamnya. kita akan seperti menjawab pertanyaan iseng ( yang nggak tahu, ko pertanyaan ini begitu akrab dengan telinga penduduk negeri ) apa yang duluan….,  ayam apa telor….?

Coba perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini…,

“ dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar (dalam menegakan kebenaran). Mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah :24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, seandainya kita sebagai penduduk negeri sabar (dalam menegakan kebenaran), dan meyakini ayat-ayat_Nya. Itu adalah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala itu pastilah benar adanya. Tapi apa kata logika kita….? ( tidak seharusnya kita mengedepankan logika daripada agama)

Kalau bukan keimanan kita yang berbicara, siapa yang sanggup mengatakan bahwa kita akan dapat merubahnya. Kita akan dapat merubah diri kita ( penduduk negeri ) untuk menjadi lebih baik. sementara, para pemimpin negara ini membiarkan kemaksiatan merajalela. Korupsi, kolusi dan nepotisme sudah menjadi hal biasa di negeri ini. Pornografi dan pornoaksi sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi anak-anak dibawah umur sampai anak-anak dulu yang sudah tidak bisa aksi porno. Petuah-petuah ulama kalah bersaing dengan doktrin-doktrin kesesatan. Para penyebar kebenaran, kalah cepat bila kita bandingkan dengan para penyebar maksiat. Lalu…, kebaikan….., kurang menarik kalau dibandingkan dengan  maksiat…!

Tapi meski begitu, menyalahi firman_Nya juga lah kalau kita hanya menunggu pemimpin yang baik tanpa kita memperbaiki diri kita sendiri. Meskipun memang logika kita berkata “ tidak mungkin untuk itu “. Tapi…, memang itulah kenyataannya.

Seperti menjawab pertannyaan konyol  tadi. Mana yang duluan, ayam apa telor…?

Dan inilah jawaban menurut versi orang bodoh.

( jawaban ini tidak didasari oleh AL-Qur’an, hadist atau ilmu apapun. Ini asli logika penulis belaka).

Pada dasarnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menciptakan dua model manusia. Yaitu laki-laki dan perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan pemabuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan koruptor, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan presiden, anggota DPR, dan lain sebagainya. Sekali lagi saya tekankan “Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang namanya menteri, gubernur dan lain sebagainya, itu adalah sebuah kehendak  ( ketetapan) dari kelanjutan penciptaan itu sendiri. ( Yang merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala secara keseluruhan). Oleh karena itu, kita harus membedakan mana yang kehendak (ketetapan) dan mana yang diciptakan.

Dan begitu juga dengan telor dan ayam.

Saya yakin, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menciptakan ayam. Tapi tidak dengan telor. Telor adalah kelanjutan daripada penciptaan yang berupa kehendak ( ketetapan ). Oleh karena itu, menjawab pertanyaan apa yang duluan antara ayam dan telor, orang bodoh ini mempunyai kesimpulan, ayam lah yang lebih dulu. Karena telor adalah ketetapan untuk yang namanya ayam. Seperti halnya tanaman berbunga ataupun berbuah. Oleh karena itu, setiap ketetapan bersifat tidak pasti, dan akan sangat tergantung kepada yang menetapkan_Nya (Allah Subhanahu wa Ta’ala). Ini dapat dilihat dari ayam yang tidak bertelor, pohon yang tidak berbuah, dan lain sebagainya.

Lalu…, apa kira-kira inti dari pertanyaan tadi…?

Inti dari pertanyaan ini adalah, saya hanya ingin mengatakan, bahwa dengan kita mengatuhui mana yang diciptakan dan mana yang kehendak ataupun ketetapan, sedikitnya kita bisa menjadi lebih tahu, mana yang bisa dirubah dan mana yang tidak      ( itupun masih tergantung kepada_Nya).

Contoh 1 :

Ketika kita merasa kekurangan dalam hal materi ataupun apapun itu yang dapat membuat kita merasa nggak nyaman dan tenang, kita masih dapat memperbaiki              ( sedikit berharap dapat memperbaiki ) ketetapan itu, dengan mendekatkan diri kita kepada_Nya. Atau seperti contoh di atas, yaitu dengan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak seperti itu. Yang mudah-mudahan dengan kita mengoreksi dan mendekatkan diri kepada_Nya, akan membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai ketetapan lain terhadap kita. Tadinya sakit, jadi meninggal misalkan…, atau…., tadinya miskin, tapi setelahnya kita mengoreksi dan mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi miskin ditambah sakit parah misal…., kan jadi berubah. Tadinya sakit jadi meninggal, dan yang tadinya miskin jadi miskin plus sakit….!

Tapi percayalah, selama kita berusaha untuk mengoreksi dan mendekatkan diri kita kepada_Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan yang terbaik bagi kita. Mungkin meninggal dan sakit itulah yang terbaik buat kita. (berkah yang tidak diinginkan…), oleh orang-orang bodoh seperti kita….!

Contoh 2 :

Ketika kita shalat di mesjid yang banyak nyamuknya, pastilah kita digigit nyamuk. Karena memang itulah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nyamuk. Untuk menggigit orang yang ada di mesjid…..! ( supaya nggak betah). Yang hapal tigapuluh juz dan yang hapal  juz tigapuluh, pasti sama. Yang shalatnya khusyu dan yang tidak, nyamuk tidak akan dapat membedakannya. Karena ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah menghisap darah. Kaya miskin sama, islam kafir juga sama. Yang beda adalah, yang pake obat nyamuk dan yang enggak…! Mengoreksi dan mendekatkan diri adalah bukan solusi, ketika kita berhadapan dengan ketetapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada makhluk yang dia ciptakan. Meskipun memang kalau mungkin ada kekhususan tersendiri bagi seseorang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hingga dia tidak bisa digigit nyamuk. ( dan untuk urusan yang khusus-khusus seperti itu, biarlah orang yang khusus-khusus lagi untuk mempelajarinya).

Dua poin penting yang dapat penulis simpulkan dari dua contoh di atas :

Ketika kita berhadapan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala atas diri kita, maka kehendak itu sendiri akan sangat berhubungan dengan prilaku kita. Oleh karena itu, sudah pada tempatnyalah seandainya kita mempertanyakan ataupun mengoreksinya untuk kehendak yang pahit dan manis kita rasakan, dan bersyukur untuk kehendak yang manis dan pahit yang  kita rasakan. Dan akan sangat berbeda dikala  kita berhadapan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan atas makhluknya. Kita tidak bisa mempertanyakan                  “ kesalahan apa gerangan yang telah aku perbuat, sehingga digigiti nyamuk sebegini rupa….!”

Lalu apa hubungannya dengan bahasan kita….?

Ya seperti telor dan ayam tadi. Adanya pemimpin adalah sebagai kehendak ataupun ketetapan lanjutan daripada penciptaan manusia. Oleh karena itu, maka kualitas pemimpin akan sangat tergantung dari pada kualitas manusia yang menjadi sebabnya. Seperti halnya kualitas telor yang akan sangat tergantung kepada ayamnya. Tapi meskipun demikian, ayam bukanlah manusia dan telor bukanlah pemimpin. Yang mana, telor akan sangat tergantung kepada ayamnya( dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya ). Dan selain itu, telor tidak mempunyai keharusan untuk memperbaiki kualitas dirinya. Beda dengan pemimpin. Meskipun memang kualitas pemimpin akan sangat bergantung kepada kualitas manusia yang menjadi sebabnya, tapi pemimpin bukanlah telor. Pemimpin mempunyai kewajiban untuk memperbaiki dirinya. Pemimpin yang dzalim tidak dapat serta merta menyalahkan masyarakat atas kedzaliman mereka. Tanggung jawab…..! itulah yang membedakan telor dan pemimpin. Dimana pemimpin bertanggung jawab atas kejelekan mereka. Sedangkan telor nggak. Adapun kesamaannya yang sangat kentara adalah, telor busuk sama pemimpin busuk sama-sama bau….! Dan nggak enak tentunya…!

Hebatkan….? Lumayan untuk seorang bodohmah…!!!!

Dan sesuai janji saya sebagai pembela komunitas oranag-orang bodoh, sekarang sudah mulai nampak, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas keterpurukan negara ini. Pemimpin tentunya. Tapi…., siapakah pemimpin itu….?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain.” ( An-Nisaa’ : 34 )

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda :

“setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atasnya.” ( HR.Bukhori)

Kena lagi deh……, tapi lihat bahasan selanjutnya, pasti nggak bisa ngelak…! Saya usahakan orang bodoh tidak salah…..!

Al-‘Ashr : 1-3

disini saya tidak hanya akan membahas mengenai pemimpin secara formal. Tapi termasuk pemimpin perusahaan, partai, bahkan pemimpin sebuah pasar sekalipun termasuk didalamnya. Pokoknya, saya mengartikan pemimpin dalam bahasan ini sebagai seseorang yang mungkin dapat berkehendak kepada seseorang yang lainnya. Minimal ditinjau dari sosial kemasyarakatan sekarang ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3]

dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas, ditegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh. Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, serta nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran. Saya yakin ayat ini ditujukan untuk semua makhluk yang namanya manusia, tanpa kecuali. Orang awam, orang berilmu, orang miskin, pejabat dan  ulama, akan berada dalam kerugian apabila mereka tidak beriman, beramal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran serta nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran.

lalu…., apa makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas  menurut orang-orang pinter…..?

dan…., apa makna fiman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas  menurut orang-orang bodoh…..,?

kalau menurut orang pinter, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas pastilah mempunyai makna yang sangat mendalam. Dengan kandungan arti yang akan susah dimengeri oleh seorang bodoh seperti penulis. Tapi kalau menurut orang bodoh, itu adalah sebuah suruhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk beribadah, beramal shaleh, dan nasehat-menasehati. Kalau tidak, maka manusia berada dalam kerugian. Kalau sudah rugi pasti nggak untung. Kalau manusia nggak untung, apa kiranya yang akan kita bawa kelak kemudian hari saat menghadap kepada pemilik alam ini….! Sama halnya ketika seorang suami habis berdagang di pasar. Seandainya dia rugi, apa kira-kira yang bisa dibawa ke rumah….., dan apa kira-kira penerimaan orang rumah….???

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ hendaklah ada dari antara kamu, segolongan yang mengajak orang-orang kepada bakti, dan menyuruh orang berbuat kebaikan. Dan melarang orang berbuat kejahatan : itulah mereka yang mendapat kemenangan.” ( Al-Imran : 104 )

Sampai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kedua ini maka semakin jelas, bahwa manusia yang menasehati yang lainnya agar menjalankan perintah_nya dan menasehati yang lainnya agar menjauhi larangan_nya adalah termasuk orang-orang yang menang. Sedangkan manusia yang tidak nasehat-menasehati dalam menjalankan kebenaran dan menetapi kesabaran adalah termasuk orang yang rugi.

Namun demikian, ada dua  poin penting yang dapat orang bodoh ini petik dari kedua firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas. yang pertama, “hendaklah ada diantara kamu” maka kalimat itu orang bodoh artikan, keharusan itu tidak untuk semua orang, atau dengan kata lain, selama ada yang mau berbuat. Dan yang kedua, belum adanya ancaman seperti halnya hadist dibawah ini. ( nggak tahu kalau memang nggak mengerti atau memang diambil enaknya saja…!)

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“apabila manusia melihat perkara yang munkar, tetapi tidak diubahnya, ditakuti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumumkan adzab_Nya atas mereka (semua)”. ( H.S.R. Ahmad )

Dan bacalah yang ini….!

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

Dan menurut orang bodoh, justru hadist inilah yang memberatkan kita semua. Dalam hal menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Apa sebab….?

Yang pertama, dikatakan dalam hadist tadi di atas bahwa, “ siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar” dan ini berarti setiap orang. Dan setiap orang ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3]

Karena memang ayat-ayat di atas juga berlaku untuk kita semua.

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ hendaklah ada dari antara kamu, segolongan yang mengajak orang-orang kepada bakti, dan menyuruh orang berbuat kebaikan. Dan melarang orang berbuat kejahatan : itulah mereka yang mendapat kemenangan.” ( Al-Imran : 104 )

Meskipun dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan : “ hendaklah ada dari antara kamu” yang mempunyai arti asal ada ataupun tidak harus semua, tapi pada akhir ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan : “itulah mereka  yang mendapatkan kemenangan”. Dan harus kita pahami, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu hanya membuat dua kemungkinan, yaitu menang atau kalah ( tidak ada seri ). Dan…, hanya ada dua tujuan, yaitu surga dan neraka. Kalau yang menang masuk surga, dan yang kalah masuk neraka. Oleh karena itu, kalau kita ingin masuk surga, maka jadilah pemenang. Dan kalau kepengen jadi pemenang, ajaklah orang-orang kepada bakti, suruh orang berbuat kebaikan, dan laranglah orang berbuat kejahatan. Setiap orang, tanpa kecuali.

Mungkin diantara pembaca ada yang berargument seperti ini. “ kenapa juga Allah Subhanahu wa Ta’ala harus mengatakan  “ dari antara kamu “ seandainya itu berlaku untuk semua orang….?

Itu mah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala kali…..! Tapi yang pasti, bagi seorang bodoh ( bahkan mungkin kebanyakan umat islam di negara ini ), bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui dan menyelami setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur`an (meskipun orang bodoh ini tidak bisa mengelak dari pada keharusan dalam mempelajari dan memahaminya). Tapi ada satu prinsip yang selalu tertanam dalam hati orang bodoh ini, lebih baik melaksanakan  sesuatu yang kita anggap paling baik meski belum tentu benar, daripada kita melaksanakan sesuatu yang kita anggap benar ( belum tentu benar ) tetapi bukan yang terbaik. Kecuali kalau kita sudah mempunyai cukup ilmu. Maka mudah-mudahan kita akan mengetahui mana yang benar dan mana yang baik.

Contoh :

Apabila kita menganggap “mencegah kemunkaran itu bukanlah kewajiban setiap manusia”, maka itu adalah bukan pilihan yang terbaik menurut orang bodoh ( meskipun belum tentu salah). Karena, dengan dipilihnya “ mencegah kemunkaran itu bukanlah kewajiban setiap manusia” hanya akan membuahkan resiko yang terlalu mahal harganya. Karena akan menempatkan kita sebagai orang-orang yang rugi seandainya    “ mencegah kemunkaran itu adaah kewajiban setiap manusia”. Dan akan menempatkan kita sebagai orang-orang yang kalah seandainya “ mencegah kemunkaran itu adalah kewajiban setiap manusia”.

Bandingkan dengan apabila kita menganggap  “ mencegah kemunkaran itu adalah kewajiban setiap manusia”. maka kita akan jadi pemenang kalau memang “mencegah kemunkaran itu bukan kewajiban setiap manusia”, dan tetep jadi pemenang seandainya “mencegah kemunkaran itu kewajiban setiap manusia”

Dan selain itu, kalau memang “ hendaklah ada diantara kamu” itu mempunyai arti sebagian, maka saya yakin pemimpin akan termasuk ke dalam sebagian tadi. dan itu akan terlihat dari uraian yang kedua di bawah ini, dimana arti sebagian itu benar adanya. Tapi yang musti diingat…., apakah kita termasuk kepada sebagian yang harus beramar ma’ruf nahi munkar ataukah  kita termasuk kepada sebagian yang tidak….!!!

Yang kedua, dengan adanya kata-kata “kuasa” maka selayaknyalah setiap orang pasti berkuasa. Hanya tingkatan kuasanyalah yang mungkin berbeda.

Coba kita perhatikan lagi,

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

Kalau saya perhatikan kebiasaan di masyarakat kita, ada sesuatu yang aneh kalau menurut orang bodoh. Aneh mengenai pilihan yang kita pilih ( bukan orang lain…., kita). Seandainya disuatu daerah ada kemunkaran, maka setiap orang didaerah itu akan memilih opsi selemah-lemahnya iman. Hal itu terjadi untuk semua kalangan. Dari pemuka agama, orang pemerintahan, petugas keamanan dan lain sebagainya. Kita semua dengan senang hati memilih opsi selemah-lemahnya iman yang bukan pilihan terbaik meski belum tentu salah. Mengapa saya katakan itu bukanlah pilihan terbaik…..?

Pertama, seperti yang telah saya utarakan tadi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menyediakan dua opsi untuk makhluknya. Benar dan salah, kuat dan lemah, surga dan neraka, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seandainya kita dengan memilih opsi selemah-lemahnya iman berharap masuk surga, lalu…., mau dikemanain yang imannya kuat….? Ke neraka…..?

Kedua, yang namanya kuasa menurut orang bodoh ini bersifat relatif. Kuasa orang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Hari ini dia kuasa, besok belum tentu. Kita kuasa terhadap sesuatu, tetapi belum tentu pada sesuatu yang lainnya.

Contoh :

Ketika kita pada keadaan orang kaya bukan, pejabat bukan, orang yang tenaganya kuat juga nggak, orang berilmu apalagi, pokoknya ketika segala kekurangan yang nampak secara manusiawi ada pada kita, maka bolehlah kita mempergunakan opsi selemah-lemahnya iman. dan sebaliknya, ketika kita pegang senjata, pakai seragam petugas keamanan, pangkat lumayan, ilmu ada, dan kita membiarkan seseorang melakukan kemunkaran dengan alasan opsi selemah-lemahnya iman….., pantaskah…..? kecuali kalau pangkat kita letnan, yang melakukan kemunkarannya jenderal…., barulah opsi selemah-lemahnya iman berlaku…..!! Tapi ingat, kalau kita tahu bahwa sekuat-kuatnya iman itu lebih baik dari selemah-lemahnaya iman, kenapa kita lebih memilih selemah-lemahanya iman….? Hanya orang bodohlah yang memilih sesuatu yang buruk padahal ada yang bagus.

Mungkin para pembaca bertanya, adakah kiranya seorang pembantu yang berani menasehati majikan perempuannya yang tanpa kerudung…? Adakah kiranya seorang bawahan yang berani memberi nasehat  atas kemunkaran atasannya….?

Dan jawaban si bodoh seperti ini,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bumi dan seisinya dengan seadil-adilnya. Dengan keseimbangan yang nyata antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia akan mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan kadar keadilan dan keseimbangan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala buat. Tidak akan ada satu manusiapun yang dirugikan dalam hal ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya. Dia mendapat ( pahala ) dari ( kebajikan ) yang dikerjakannya dan dia mendapat ( siksa ) dari ( kejahatan ) yang diperbuatnya. ( mereka berdo’a ) “ ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” ( Al-Baqarah : 49 )

Telah saya sebutkan tadi di atas, bahwa kadar kesanggupan seseorang akan berbeda dengan yang lainnya. Hal itu akan sangat bergantung kepada waktu, tempat, watak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kadar kesanggupan seseorang tidak akan dapat dihitung secara pasti layaknya matematika. Dan yang harus diingat, kadar kesanggupan seseorang hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu.

Coba kita perhatikan lagi hadist di bawah ini,

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.”

Ketika seorang pembantu tidak berani menasehati majikan perempuannya dalam hal memakai kerudung, memang dia telah mengambil opsi selemah-lenahnya iman. Tapi diambilnya opsi selemah-lemahnya iman oleh pembantu tadi, tidak akan berdampak dosa kepada si pemilih opsi ( pembantu ). Karena memang  “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya” dan untuk menjaga terperosoknya pembantu tadi pada opsi selemah-lemahnya iman ( meskipun memang dia sudah memilihnya ) maka dia dapat mengahapuskan opsi itu dengan berdo’a : “ ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” Maka dengan do’a ini, mudah-mudahan si pembantu tadi digolongkan kepada orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Semoga….!

Dan teori ini akan jadi tidak berlaku, dikala kita berhadapan degan orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala amanatkan kepada kita, ataupun kekuasaan dan kemampuan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala amanatkan kepada kita sebagai manusia. Dan inilah orang-orang yang akan berdosa jika mereka memilih opsi selemah-lemahnya iman.

Model orang yang pertama adalah, orang-orang yang telah diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala seseorang yang  berada di bawah kekuasaannya. ( kasat mata duniawi ). Dan ini biasa kita sebut dengan tanggung jawab.

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

hadist riwayat Ibnu Umar ra, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam Subhanahu wa Ta’ala saw bersabda “ ketahulilah ! masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpin, seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya. Dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.

Inilah beberapa hal penting yang dapat orang bodoh dari pemaparan hadist di atas,

  • Setiap individu adalah pemimpin. Setiap individu mempunyai tanggung jawab atas dirinya masing-masing, untuk membawa dirinya sampai pada tujuan hidup sebenarnya. Yaitu mencapai ridho_Nya sang pencipta. Atau dengan bahasa orang bodoh seperti ini : setiap individu harus membingbing dirinya supaya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.

Mengapa setiap individu bertanggung jawab atas dirinya…?

Karena memang setiap individu mempunyai kekuasaan atas dirinya masing-masing.

  • Seorang raja adalah pemimpin. Dan seorang raja mempunyai tanggung jawab untuk membawa rakyat yang dia pimpin supaya menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.

Mengapa seorang raja bertanggung jawab atas rakyatnya….?

Karena memang seorang raja mempunyai kekuasaan atas rakyatnya.

  • Seorang suami adalah pemimpin. Dan seorang suami mempunyai tanggung jawab untuk membawa isteri dan anak-anak nya  guna menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan_Nya.

Mengapa seorang suami bertanggung jawab atas isteri dan anak-anaknya…..?

Karena memang seorang suami mempunyai kekuasaan atas isterinya.

  • seorang isteri adalah pemimpin. Seorang isteri mempunayai tanggung jawab untuk membawa anak suaminya supaya menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan_Nya. Dan menjaga dengan baik rumah tangganya supaya sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala swt.

Mengapa seorang isteri bertanggung jawab atas rumah tangga dan anak suaminya…?

Karena memang seorang isteri berkuasa atas rumah tangga dan anak suaminya.

  • Seorang budak  adalah pemimpin. Seorang budak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga harta tuannya. ( pengertiannya berbeda )

Mengapa seorang budak di katakan pemimpin…?

Karena memang seorang budak mempunyai kekuasaan atas harta tuannya. ( meskipun ini masih memerlukan penjelasan yang lebih rinci )

Catatan : arti berkuasa disana adalah kuasa yang mempunyai arti kenyataan dan keseharian kita sekarang. Seperti siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Siapa yang diturut dan siapa yang menurut. ( untuk hal-hal baik )

Contoh :

Ketika seorang isteri yang kasat mata dia dihidupi oleh suaminya, sedangkan suaminya itu bukanlah orang baik-baik, maka teori pembantu dalam menghadapi majikannya seperti yang telah saya ceritakan di depan tadi, masih bisa menolong dia dalam hal mempertanggung jawabkan keharusan nasehat-menasehati antar manusia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Tapi itu tidak akan berlaku apabila seorang suami menghadapi isterinya yang tidak baik. tanggung jawab, itulah yang membedakan keduanya. Karena dengan tanggung jawab, menjadikan seseorang yang berkuasa atas seseorang yang lainnya, mempunyai kewajiban ( dosa bila tidak ) untuk menasehati seseorang yang berada di bawah kekuasaannya itu. Karena memang seorang isteri haruslah dibawah kesanggupan seorang suami untuk menasehatinya. Kalau tidak jangan jadi suami….!

Model orang yang kedua adalah, orang yang mempunyai kelebihan atas pemberian ataupun kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak di punyai orang lain. Misalkan, tubuh yang kuat, harta yang banyak, dihormati orang dan lain sebagainya. Yang dengan kesemuanya itu, menjadikan seseorang itu mempunyai kekuasaan atas yang lainnya.

Contoh :

Ketika kita diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah anugerah berupa dihormati atau bahkan dikagumi orang, maka secara otomatis kita mempunyai kuasa atas mereka yang menghormati dan mengagumi kita. Kita tidak dapat mengambil opsi selemah-lemahnya iman kepada mereka yang menghormati dan mengagumi kita. Menasehati mereka haruslah menjadi kuasa kita, seandainya kita mau digolongkan menjadi orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Begitupun dengan kadar kesanggupan. Jangan sampai kita meletakan kadar kesanggupan kita di bawah kadar kesanggupan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Karena kalau sudah begitu ( meletakan kadar kesanggupan di bawah kadar kesanggupan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ), semua orang akan dengan mudahnya mengatakan tidak sanggup. Guna menjaga diri dan kepentingannya.

PEMIMPIN 1

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku” ( Adz-Dzariyaat : 56 )

            Kalau kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi diatas, jelas-jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada_Nya. Dan orang bodoh ini, mengartikan kata beribadah sebagai usaha mencukupi kehidupan di dunia dan mencari bekal untuk di akhirat kelak ( yang sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dan kalau orang bodoh ini renungkan, justru disinilah letak (berat) nya tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus dapat membawa yang dia pimpin untuk beribadah kepada_Nya. Yaitu untuk membawa mereka yang dia pimpin, dalam hal  mencukupi kebutuhan hidupnya dan mencari bekal untuk di akhirat kelak. Atau lebih gamblangnya tugas pemimpin adalah, bagaimana memberikan kemakmuran kepada mereka yang dia pimpin selama hidup di dunia serta bagaimana membawa mereka yang dia pimpin supaya masuk surga. Dan surga inilah yang sebenarnya terabaikan oleh pemimpin-pemimpin jaman sekarang. Pada jaman sekarang ini, pemimpin akan dikatakan baik apabila dia dapat membawa orang yang dia pimpin dalam kemakmuran selama hidupnya di dunia. Hal itu berlaku untuk semua level pemimpin. Dari pemimpin keluarga, pemimpin perusahaan dan juga pemimpin sebuah negara.

Contoh kasus :

Untuk kasus yang pertama ini, akan saya ambil dari hal yang biasa kita anggap sepele. Seperti penuhnya jalan raya, pasar, dan tempat-tempat yang lainnya saat waktu shalat jum’at.

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

Seandainya saya menjadi seorang pemimpin, membuat orang-orang ( penduduk negeri ini ) yang katanya beragama islam untuk melaksanakan shalat jum’at, akan menjadi kesanggupan saya. Apalagi kalau mereka itu bawahan saya. Karena bagi saya, seorang pemimpin adalah penggembala yang menggembalakan domba-dombanya.         ( rakyatnya). Dimana seorang pemimpin, kelak akan ditanya tentang apa yang dia gembalakan. Apa kata pemilik domba nanti, kalau kita membiarkan domba yang kita gembalakan untuk makan dan minum sembarangan…..? Apa kata pemilik domba nanti, kalau kita membiarkan domba yang kita gembalakan memilih jalan sekehendaknya…..? Apa kata pemilik domba nanti, seandainya kita membiarkan domba yang kita gembalakan, memakan rumput yang beracun….? ataupun memilih jalan yang membahayakan keselamatannya, jurang yang terjal misalkan……? apa kira-kira kata pemilik domba…? Apa kira-kira yang dilakukan pemilik domba kepada kita sebagai penggembala…..?

Setiap kamu adalah penggembala dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawabannya. Seorang pemimpin adalah penggembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya.(HR. Ahmad )

Oleh karena itu, kemaksiatan yang nyata terlihat akan menjadi tanggung jawab saya sebagai pemimpin. Dalam menasehatinya. Sesuai dengan kemampuan saya tentunya…..!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

            “dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka      ( adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar. Mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( At-Taubah : 71)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi diperuntukan bagi seluruh umat manusia. Dari rakyat biasa sampai pada ulama dan pejabat. Atau dengan kata lain, rakyat biasa harus, apalagi dengan pejabat dan ulama. Mengapa saya berkata demikian….?  Karena memang, rakyat biasa dan mereka yang ulama dan pejabat itu mempunyai kesanggupan yang berbeda. Meskipun tidak mesti. Kesanggupan mereka dalam menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar harus berbanding lurus dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa jabatan yang mereka emban. Atau dengan kata lain, kesanggupan mereka dalam menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar harus sejalan dengan kesanggupan mereka dalam menerima jabatan. Jangan sampai, pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala diterima ( jabatan ) tapi suruhannya di tolak ( amar ma’ruf nahi munkar ). Atau dengan kata lain, jabatan kepengen tinggi tapi kesanggupan dalam beramar ma’ruf nahi munkar kepengen tetep di bawah….!

Coba sekarang kita perhatikan daripada tingkatan beramar ma’ruf nahi munkar yang saya ketahui dari orang-orang pintar :

  • Mengenalkan kebenaran
  • Nasehat dengan ucapan yang lembut.
  • Nasehat yang lebih keras
  • Ancaman dan hukuman

Kalau saya lihat dari tingkatan beramar ma’ruf nahi munkar di atas, maka orang bodoh ini berpendapat bahwa ada dua model kesanggupan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia ( yang beragama islam). Yaitu, kesanggupan yang bersifat mengikat dan kesanggupan yang tidak mengikat. ( kalau dilihat secara kasat mata )

Pertama-tama saya akan uraikan prihal kesanggupan yang tidak mengikat. Dalam kesanggupan yang seperti ini, kita tidak dapat mengetahui secara pasti mengenai batasan kesanggupan yang mungkin dimiliki oleh seseorang. Karena pada kesanggupan yang ini, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang tahu. Sebagai pemberi kesanggupannya itu sendiri.

Sedangkan kesanggupan yang bersifat mengikat adalah kesanggupan yang harus ada pada setiap individu seiring dengan sesuatu yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jabatan misalkan. Karena memang, kesanggupan seorang walikota harus berbeda dengan kesanggupan seorang gubernur. Kesanggupan seorang letnan harus berbeda dengan kesanggupan seorang jendral. Dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Dan kalau saya perhatikan, besarnya kesanggupan yang ada pada setiap individu, akan sangat identik dengan beban tanggung jawab yang mereka emban. Coba kita perhatikan kembali perkataan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini,

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

Ini adalah sebuah suruhan bukan perkataan iseng. Adapun tingkatan yang ada dalam hadist tersebut, itu bukanlah berbentuk pilihan ( untuk seseorang dalam keadaan tertentu), tapi itu adalah sebuah tingkatan. Dimana setiap tingkat yang ada dalam hadist itu, harus diisi oleh individu-individu yang ada di dunia ini. Atau dengan kata lain, alangkah aneh seandainya semua manusia ( masyarakat biasa, ulama dan pejabat ) di negara ini mengambil opsi selemah-lemahnya iman.

Beberapa kenyataan yang harus dipahami oleh setiap pemimpin yang beragama islam.

  • Kenyataan pertama.

Tugas seorang pemimpin yang beragama islam adalah, membawa masyarakat yang dia pimpin supaya bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

  • Kenyataan kedua

Kebahagiaan dunia adalah ( kasat mata ) materi dan kebahagiaan akhirat adalah menjalankan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi semua larangan_Nya.

  • Kenyataan ketiga

Pemimpin harus dapat menjadi pengatur dalam hal mencari kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat.

Dan karena kenyataan-kenyataan itulah, maka alangkah anehnya jika seorang pemimpin yang beragama islam, membiarkan orang yang dia pimpin memilih jalan yang salah, karena keengganan seorang muslim dalam shalat merupakan salah satu jalan menuju neraka. Sedangkan tugas pemimpin yang beragama islam adalah membawa mereka yang dia pimpin untuk menetapi jalan menuju surga. Karena memang, menuntun hewan gembalaan untuk menuju jalan yang benar adalah tugas gembala. Coba kita renungkan, bisakah seseorang itu dikatakan penggembala yang baik, bilamana hewan-hewan yang dia gembalakan tersesat di jalannya masing-masing. Hingga hewan-hewan gembalaannya itu tidak dapat sampai pada tujuan yang diharapkan oleh sang majikan. Itu baru kita tinjau dari segi beban kewajiban seorang pemimpin. Sedangkan dalam segi beramar ma’ruf nahi munkar, sejalan dengan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa kepemimpinan yang dia emban, maka secara otomatis harus bisa menambah kesanggupan orang itu dalam beramar ma’ruf nahi munkar.

sungguh mengherankan…., sebuah negara dengan mayoritas penduduknya yang beragama islam, dengan mayoritas parlemen dan pemerintahannya juga diisi oleh orang-orang islam, tapi pada saat waktunya shalat jum’at, masih banyak laki-laki yang berkeliaran memadati tempat-tempat umum, dengan jumlah yang melebihi orang-orang non muslim di negara ini. Mungkinkah dunia ini sudah terbalik…., sehingga banyak laki-laki yang lagi dapet…! Sehingga mereka tidak bisa mengerjakan shalat jum’at. Lalu dimanakah mereka, para pemimpin negara ini…..? yang kebanyakan dari mereka adalah beragama islam…, sehingga mereka ( orang-orang yang mereka pimpin ) memilih jalannya sendiri. Bukankah menuntun mereka untuk menetapi jalan yang benar adalah salah satu tugas mereka….? Tidakah mereka ( para pemimpin ) menyadari, bahwa mereka akan ditanya tentang apa yang telah mereka berikan kepada orang yang mereka pimpin ( dalam hal menuntun mereka dalam menetapi jalannya Allah Subhanahu wa Ta’ala ) prihal pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa kepemimpinan…?

Setiap kamu adalah penggembala dan setiap kamu akan diminta penrtanggung jawabannya. Seorang pemimpin adalah penggembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya”.(HR. Ahmad )

Sungguh mengherankan, dimanakah kesanggupanmu wahai para pemimpin…., sehingga seorang jenderal pun merasa tidak sanggup untuk memerintahkan kepada kebaikan, bahkan kepada seorang pengemis sekalipun….! Tidakah kalian menyadari…, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sesuatu itu tidak dengan cuma-cuma. Kesanggupan anda-anda dalam menerima apalagi dengan mencalonkan diri sebagai pemimpin, harus dibarengi dengan kesanggupan anda dalam menerima tanggung jawab lain dari yang memberikan sesuatu itu. Sungguh aneh negara ini, kesanggupan seorang pejabat dan pengemis dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar sama. Mungkinkah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berkehendak seperti itu….? Mungkinkah mereka itu mempunyai kesanggupan yang sama dimata Allah Subhanahu wa Ta’ala…? Mungkin…..!

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

 

Kasus 2:

Bagaimana dengan maraknya siaran televisi yang jauh dari islami. Sementara penduduk negara ini mayoritas beragama islam.

Setiap kamu adalah penggembala dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawabannya. Seorang pemimpin adalah penggembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya.(HR. Ahmad )

Coba kita renungkan, pantaskah kita sebagai penggembala membiarkan gembalaan kita untuk memilih makanan yang akan mereka makan. Kita hamparkan di hadapan gembalaan kita rumput yang beracun dan rumput yang baik. kita biarkan mereka memilih sendiri yang mereka sukai. Pantaskah kita sebagai penggembala membiarkan gembalaan kita memilih jalan mereka sendiri. Lalu…, bagaiman dengan sabda Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam dibawah ini,

“tidak seorang hambapun yang diserahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memelihara dan mengurusi kemaslahatan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasehat kecuali ia tidak akan mencium harumnya surga” (HR.Al-Bukhari)

Oleh karena itu, menjauhkan rakyat yang kita pimpin dari maksiat, sudah semestinya menjadi bagian daripada pemimpin sebuah negara. Begitupun dengan masalah-masalah yang lainnya. Yang kesemuanya itu akan menjadi tanggungan para pemimpin kelak kemudian hari.

Misal :

Seandainya siaran televisi yang tidak islami itu menyita waktu kaum muslimin di negara ini dalam hal mengerjakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka secara otomatis kelalaian mereka sebagai penduduk negeri dalam hal mengerjakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut, akan menjadi beban para pemimpin di negara ini. Karena memang, adanya siaran yang tidak islami itu adalah atas ijin dari pada para pemimpin tersebut.

Seandainya siaran televisi yang tidak islami itu dapat mempengaruhi  kualitas penduduk negeri ini dalam berakhlak, maka secara otomatis pula kebejatan akhlak mereka itu akan menjadi tanggung jawab pemimpin di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.  Dan lain sebagainya. Pokoknya, setiap dampak negatif yang timbul akibat daripada siaran televisi tadi, musti menjadi tanggung jawab pemimpin karena ijin yang mereka berikan. Dan begitupun dengan yang lainnya.

Mungkin banyak pembaca yang bertanya, lalu bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dibawah ini,

Katakanlah Muahammad, “apakah patut aku mencari tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. Dan akan diberitahukan_Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan”. ( Al-An’am: 164 )

Kita harus tahu dan menyadari, bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini diperuntukan bagi sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Yaitu manusia. Setiap manusia ( laki-laki dan perempuan ) sama dalam hal memandang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi. Bahwa setiap manusia ( laki-laki dan perempuan ) bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Dan seseorang itu tidak akan memikul beban dosa orang lain. Selama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berkehendak lain atas dirinya.

Lalu apa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala atas diri manusia…..?

Banyak. Yang diantaranya adalah, ketika kita beranjak dewasa, maka menikahlah kita. Yang laki-laki dinamakan pemimpin, dan yang perempuan yang dipimpin. Oleh karena itu, seiring dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap manusia tadi, maka bertambah pulalah ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia tersebuat. Yang memimpin harus bagaimana dan yang dipimpin harus bagaimana. Yang mana hal itu merupakan kelanjutan daripada ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan makhluknya. Dan lain sebagainya.

Sebuah dongeng

Diceritakan disini, ada seorang pemuda bernama Entong. Kalau dilihat dari keadaannya, nampaknya dia termasuk seorang pemuda yang berkecukupan. Cukup jelek, cukup miskin dan cukup bodoh. Pokoknya, dialah pemuda yang paling berkecukupan di kampungnya. Dan karena kecukupannya itulah, saat ini dia masih menjomblo. Semenjak ditinggal oleh kedua orang tuanya, dia hidup dalam kesendirian. Hanya agamalah yang menjadi teman kesehariannya. Karena itulah memang yang paling murah dan mungkin untuk seorang yang berkecukupan seperti itu. Dan dalam kesendiriannya itu dia tidak akan memikul dosa orang lain.

Katakanlah Muahammad, “apakah patut aku mencari tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. Dan akan diberitahukan_Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan”. ( Al-An’am: 164 )

Singkat cerita, setelah sekian lama menunggu dan berusaha, bisa juga pemuda yang bernama Etong tersebut menikah. Alangkah bahagianya perempuan yang mendapatkan pemuda setia seperti entong ( karena memang nggak ada yang mau ). Dan karena kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah maka Entong jadi memegang dua tanggung jawab. Yaitu tanggung jawab untuk dirinya sendiri, dan tanggung jawab untuk isterinya. Tapi meskipun demikian, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas tetap berlaku untuk setiap keadaan. Setelah mereka melaksanakan ketentuan lain yang telah ditetapkan.

Contoh :

Ketika Entong masih sendiri, maka berlakulah ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan bahwa seseorang tidak akan menanggung beban dosa orang lain. Namun ketika dia menikah, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun sudah menyediakan ketentuan lain atas yang namanya entong. sejalan dengan perubahan status yang dia miliki. Tanpa merubah ketentuan pertama       ( seseorang tidak akan menanggung beban dosa orang lain ). Dan ketentuannya itu berupa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain.” ( An-Nisaa:34)

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

hadist riwayat Ibnu Umar ra, Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda “ ketahuilah ! masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpin, seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya. Dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, ketentuan bahwa Entong ( sebagai suami ) tidak akan menanggung beban dosa orang lain akan berlaku apabila Entong ( sebagai suami ) telah menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin terhadap orang yang dia pimpin.

Seperti :

Ketika dia tahu akan kewajiban seorang perempuan dalam hal mengenakan pakaian yang islami, maka minimal entong harus melaksanakan nasehat-menasehati dan berdakwah kepada seorang perempuan, yaitu isterinya sendiri. Tidak ada opsi selemah-lemahnya iman kalau sudah menyangkut masalah tanggung jawab. Karena memang, berdakwah dan nasehat-menasehati harus menjadi kesanggupan seorang suami atas isterinya. Oleh karena itu, ada dua kemungkinan yang akan didapat seandainya isteri dia tidak mau mengenakan kerudung. Yaitu berdosa jika dia membiarkannya, dan tidak berdosa jika dia telah melaksanakan nasehat sekemampuannya.

Dengan kata lain, entong akan menanggung beban dosa orang lain ( isterinya ) seandainya terjadi pembiaran dan Entong tidak akan menanggung beban dosa orang lain ( istrinya ), jika dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menasehatinya. Adapun yang dimaksud dengan berusaha sekuat tenaga dalam menasehati disini, dapat dilakukan dengan berbagai cara. misal : dengan ucapan, tidak membelikan pakaian yang tidak islami, tidak mau bepergian bareng kecuali dia berpakaian islami, dan lain sebagainya. Pokoknya selama Entong ( sebagai suami ) telah melakukan berbagai cara dalam hal mengajak si isteri dalam mengenakan pakaian yang islami semaksimal yang bisa dia perbuat, maka mudah-mudahan Entong ( sebagai suami ), tidak akan menanggung beban dosa orang lain ( isterinya ) bisa terlaksana. Dalam hal memakai pakaian yang islami. Tapi jika sebaliknya, maka dosa si isteri yang tidak mau berpakaian islami itu akan menjadi dosa Entong sebagai suami.

Oleh karena itu, alangkah anehnya seandainya ada pemimpin yang membiarkan rakyat yang dia pimpin untuk memilih antara yang baik dan yang buruk. Mereka ( para pemimpin ) bangun mesjid dan juga tempat maksiat. Mereka syi’arkan kebaikan juga aurat, dan lain sebagainya. Apa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak…., bukankah manusia cenderung kepada maksiat….,lalu apa manfaatnya seorang pemimpin….? Itu sama halnya dengan seorang suami menyediakan, ataupun  membelikan isterinya rok mini dan kerudung….!

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“seorang pemimpin ( penguasa ) adalah pemelihara ; dia bertanggung jawab atas peliharaan mereka ( HR.Al-Bukhari )

“tidak seorang hambapun yang diserahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memelihara dan mengurusi kemaslahatan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasehat kecuali ia tidak akan mencium harumnya surga” (HR.Al-Bukhari)

Jadi kesimpulannya, seorang pemimpin harus  berusaha untuk membawa orang yang dia pimpin untuk menuju surga sekemampuannya . Dan dia harus menganggap, menasehati orang yang dia pimpin prihal yang baik dan yang buruk adalah sebuah keharusan yang tercermin dalam bentuk tanggung jawab seorang pemimpin. Kalau memang seorang pemimpin tidak mau menanggung beban dosa orang lain ( orang yang mereka pimpin ). Seandainya pemimpin itu beragama islam.

PEMIMPIN 2

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”    ( Ali-Imran : 110 )

            Coba kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas. Umat ini, akan menjadi umat yang terbaik yang dilahirkan manusia, jika  umat ini menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Apa pendapat saya sebagai orang bodoh….? Sudahlah kita sekali-kali jangan pernah mempermudah sesuatu. Yang harus ada dibenak kita adalah, kita sebagai umat islam harus berusaha untuk menjadi umat yang terbaik. Jangan pernah kita berfikir, seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan “ terbaik”, maka kita membuat pilihan sendiri dengan berargumen bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan opsi selain “terbaik” tadi. Yaitu, baik, agak baik, buruk dan terburuk. Sehingga kita dengan seenaknya akan melegalkan pemilihan yang menurut hawa nafsu kita masih dalam katagori aman. Baik dan agak baik misalkan….! Yang akhirnya, itu akan dijadikan dasar bagi kita untuk enggan dalam melaksanakan sebuah perintah. Dan kalau sudah begitu, satu ayat dari Al-Qur’an tersaji secara percuma. Saya katakan percuma, karena kebanyakan dari kita menganggap itu adalah sebagai pilihan bukan sebuah suruhan.  Dan kalau sudah begitu,  orang-orang akan memilih sesuatu yang menurut hawa nafsu mereka aman dan tidak mengandung resiko di dunia ini. Karena memang begitulah kecenderungan daripada manusia.

Coba kita renungkan lagi perkataan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  berikut ini,

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.” ( H.S.R.Muslim )

Saya kira itu bukanlah sebuah pilihan untuk semua keadaan. Dimana kita dapat menyesuaikannya dengan selera dan kepentingan kita. Karena kalau sudah begitu, sama seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas, hadist inipun akan menjadi sebuah perkataan yang percuma. Masa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya membuat sesuatu yang percuma….? Dan karena inilah mungkin salah satu sebab daripada kemunduran umat ini. Selalu mempermudah sebuah aturan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul_Nya tetapkan. Sehingga sehebat apapun itu yang namanya Al-Qur’an dan sehebat apapun suritauladan yang telah Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam contohkan, akan terasa percuma ( tidak akan membawa kita kepada kebaikan di dunia) seandainya kita berusaha untuk menafsirkan semuanya ( AL-Qur’an dan sunnah ) sesuai dengan hawa nafsu dan selera kita.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada sesama orang bodoh untuk melaksanakan perintah dalam beramar ma’ruf  nahi munkar sekemampuan kita. Bisa dengan tangan, lakukanlah. Bisa dengan lidah lakukanlah. Dan kalau tidak bisa dengan tangan dan lidah, baru kita menggunakan hati. Itupun dengan syarat, kita tidak berusaha untuk menyesuaikan kesanggupan kita dengan hawa nafsu dan selera kita. Kepada cewek cantik, dengan hati…., tapi kepada yang tidak cantik…., dengan ucapan. Tapi enggak ko….! Itu juga sudah termasuk kepada kesanggupan kita. Kita yang jelek, miskin dan bau diajak ngobrol sama cewek cantik yang kaya plus sexy, mana berani kita ngomong macem-macem, lawong dia mau ngobrol sama kita juga sudah alhamdulillah…!

Cerita Entong

Dalam cerita Entong bagian dua ini, dikisahkan Entong yang sekarang sudah menjelma menjadi pengusaha yang sukses. Dia mempunyai perusahaan sendiri. Dengan dia sendiri sebagai pemimpinnya. dan dalam keadaan yang seperti itu, Entong yang dulu hanya mempunyai kesanggupan dalam beramar ma’ruf nahi munkar hanya kepada keluarganya, sedangkan sekarang, Entong mempunyai beban kesanggupan yang lebih dari hanya sekedar keluarganya saja. Dia harus sanggup untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada staf dan para bawahannya. dengan ucapan ataupun tangan/hukuman kalau mungin. Dan berdosa seandainya dia menggunakan opsi selemah-lemahnya iman. Karena memang saya katakan tadi, ini adalah sebuah suruhan bukan pilihan untuk seseorang pada setiap keadaan.

Contoh :

Dimisalkan disini, Entong mempunyai staf dan sekertaris di kantor tempat dia bekerja dengan pakaian yang tidak islami. Maka secara otomatis, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan bahwa seseorang tidak akan menanggung beban dosa orang lain, tidak akan berlaku dalam keadaan seperti itu. Seandainya Entong sang direktur, tidak menegakan amar ma’ruf nahi munkar kepada para bawahannya. Lalu…, bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini,

“ mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri ( kewajiban ) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al Kitab ( taurat ) maka tidakkah kamu berfikir?” ( Al-Baqararah : 44 )

Mungkin dengan alasan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, banyak orang yang mengatakan bahwa, “ kami tidak beramar ma’ruf nahi munkar, karena memang kami sendiri masih jauh dari baik. kami akan berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dulu baru orang lain”.

Lalu timbul pertanyaan, mau sampai kapan kita menunggu ( melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ), sementara kita juga tahu, bahwa manusia tidak luput dari salah. Karena memang, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas adalah sebuah suruhan prihal memperbaiki diri sendiri, bukah prihal larangan ataupun syarat seseorang  dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar. Karena jikalau demikian (kita harus bersih dulu baru beramar ma’ruf nahi munkar ) semua firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadist-hadist yang telah saya uraikan dari halaman awal sampai bahasan yang ini, akan terasa percuma bila kita mengartikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi seperti itu. Terlebih kalau kita menghubungkannya dengan ketentuan-ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan prihal tabiat manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Dan Dia telah memberikan kepadamu (  keperluanmu ) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari ( ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala ). ( Ibrahim : 34 )

Dikatakan disini, bahwa manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tahu itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Dan apabila kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia ; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. ( QS.AL-Israa’ : 83 )

Dikatakan di sini, sifat-sifat manusia yang lainnya adalah sombong dan mudah putus asa. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tahu itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. ( QS. Al-Kahfi : 54 )

Dikatakan disini, bahwa kebiasaan daripada manusia yang suka membantah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun tahu itu.

Dan sifat-sifat yang lainnya. Bahwa manusia kikir, manusia itu lemah, selalu tergesa-gesa, penantang yang nyata, dan lain sebagainya.

Sementara itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

            “dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka      ( adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar. Mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( At-Taubah : 71)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3]

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

“ mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri ( kewajiban ) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al Kitab ( taurat ) maka tidakkah kamu berfikir?” ( Al-Baqararah : 44 )

Coba sekarang kita bahas uraian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai sifat jeleknya. Ingkar, kikir, zalim, dan lain sebagainya. Sementara itu Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengharuskan umat_Nya dengan kejelekan-kejelekannya itu untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu, alangkah anehnya jikalau Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri memberi syarat seseorang dalam beramar ma’ruf nahi munkar seperti itu. Kita bersih dulu, baru bersih-bersih yang lain. Meskipun memang tidak bisa dipungkiri, akan keharusan yang seperti itu. Namun demikian, tidak pada tempatnya juga seandainya keharusan itu, menghambat keharusan yang lainnya. Oleh karena itu, orang bodoh ini mempunyai pemikiran sendiri akan hal ini. Yakni,

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah tadi juga merupakan suruhan beramar ma’ruf nahi munkar. Hanya objeknya sajalah yang berbeda. Kalau firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sebelumnya diperuntukan dalam beramar ma’ruf nahi munkar kepada orang lain, sedangkan dalam surat Al-Baqarah tadi diperuntukan bagi dirinya sendiri. Selain itu kata “ mengapa” yang terdapat dalam surat Al-Baqarah tadi seakan menegaskan bahwa beramar ma’ruf nahi munkar kepada diri sendiri lebih penting ketimbang kepada orang lain. Tapi tidaklah menjadi prasyarat akan hal kita beramar ma’ruf kepada orang lain.

Lalu bagai mana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini,

“dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu ( hendak ) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala ; dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS.Yunus : 99-100 )

Apabila kita sekilas membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas, maka akan nampak bertolak belakang dengan suruhan_nya yang berupa amar ma’ruf nahi munkar. Karena pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi dikatakan, “ maka apakah kamu ( hendak ) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya….!” Yang mana kalimat ini seolah-olah menunjukan ketidak senangan_Nya kepada orang yang beramar ma’ruf nahi munkar. Dan selanjutanya Dia katakan “ tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala” yang mungkin bisa diartikan “ percuma saja kita beramar ma’ruf nahi munkar, toh yang menentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga”. Tapi saya kira hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin ada kerancuan antara perintah yang satu dengan perintah yang lainnya. Saya yakin dengan kesempurnaan islam dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya.

Dan inilah pemikiran orang bodoh akan hal itu,

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharuskan setiap umat_Nya untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Setiap umatnya, tanpa kecuali. Namun demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui akan keterbatasan manusia, dikarenakan tabiat buruk yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukan bagi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan kepada mereka yang beramar ma’ruf nahi munkar berupa perkataan_Nya “ maka apakah kamu ( hendak ) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya…!” yang dilanjutkan dengan perkatan_Nya “ tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala…!” atau dengan kata lain, seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menegaskan bahwa “ beramar ma’ruflah kalian, adapun masalah hasil akhir adalah menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sang maha pengatur dan penentu”. Atau…, Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan menegaskan, bahwa kewajiban manusia hanyalah beramar ma’ruf nahi munkar. Bukan merubah manusia menjadi orang-orang yang beriman. Karena itu adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala sepenuhnya.

Baiklah, sekarang kita lanjutkan lagi tentang cerita Entong sang direktur.            ( pembuktian bahwa beramar ma’ruf nahi munkar harus segera dilaksanakan. Oleh orang-orang yang berdosa sekalipun. Supaya tidak terjerumus kepada dosa-dosa yang lainnya).

Dikisahkan pula disini, dikarenakan Entong yang dulu miskin dan lain sebagainya, sedangkan dia sekarang sudah berubah menjadi Entong sang direktur, juga merubah sifatnya yang dulu setia, sekarang jadi Entong yang pezinah.

Adakah kebaikan yang mungkin Entong sang pezinah dapatkan, seandainya dia melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kepada para bawahannya ( pegawai staf wanita dikantornya misal ).

Ada sebuah pepatah yang selalu saya tekankan dalam kehidupan saya dalam menunaikan agama ini. “ seandainya tidak bisa semua maka kerjakanlah sebagian. Kalau tidak bisa yang terbaik, asal jangan terjelek. Bila ada dua atau lebih kejelekan yang biasa kita lakukan, usahakanlah untuk memilih yang lebih sedikit kejelekannya”. Contoh :

  • Meskipun shalat kita masih belang-belang, tapi janganlah kita meninggalkan kewajiban kita akan zakat. Jangan hanya karena kita pezina, sehingga kita tidak mau melaksanakan kewajiban yang lainnya.
  • Kalau kita tidak bisa shalat dengan sempurna ( khusyu ), asal-asalan juga bolehlah, yang penting daptar hadir kita keisi. Kalau kita tidak bisa mengerjakan shalat lima kali sehari secara konsisten, maka belang-belang juga nggak apa-apa, yang penting masih ada shalatnya. Karena yang penting dalam hal ini, jangan sampai karena kita tidak dapat mengerjakan yang terbaik, kita malah memilih yang terjelek ( tidak shalat sama sekali ).
  • Seandainya kita menyukai sesuatu yang kurang baik di mata agama, maka pilihlah salah satu diantara keduanya, yang mempunyai resiko terkecil baik dunia ataupun akhirat.

Catatan :

            Uraian saya tadi diatas mengesampingkan hukum yang dikenakan atas pilihan-pilihan tadi. Karena uraian di atas murni di ambil dari dampak ataupun resiko yang harus kita dapatkan baik di dunia ataupun di akhirat.

            Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Entong sang pezinah ( berdasarkan uraian di atas ) memilih melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ( diluar ketentuan yang berlaku atas Entong sang pezinah ) kepada para bawahannya terutama. ( misal pegawai staf wanita di kantornya ).

Dan inilah kebaikan yang akan didapat oleh lingkungan tempat Entong sang pezinah memimpin, seandainya dia melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar pada perusahaan yang dia pimpin. Adapun amar ma’ruf nahi munkarnya itu sendiri berupa, mengharuskan pegawai wanita pada perusahaan yang dia pimpin untuk mengenakan pakaian yang islami misalkan. Namum percayalah, poin sekecil itupun akan membawa banyak kebaikan bagi lingkungan yang melaksanakannya. ( diluar ketentuan yang berlaku atas Entong sang pezinah ).

Kebaikan itu berupa :

  • Bila dikantor yang Entong pimpin itu ada sepuluh pegawai staf wanita, maka akan selamatlah kesepuluh wanita tadi dari dosa ( mempertontonkan aurat ) selama delapan jam sehari dan lima hari seminggu ( minimal ). Bahkan mungkin itu akan berlanjut hingga jam-jam yang lainnya, bahkan mungkin sampai hari-hari berikutnya. Karena memang kebiasaan akan sangat berpengaruh pada kenyamanan seseorang. Karena siapa itu…..? karena Entong sang pezinah yang mau beramar ma’ruf nahi munkar.
  • Bila kesepuluh pegawai stafnya itu menggunakan jasa angkutan umum untuk pulang pergi bekerja, maka setiap harinya ada berpuluh-puluh orang atau bahkan mungkin beratus-ratus orang yang selamat pandangan matanya dari aurat yang mungkin akan menjadi dosa mereka seandainya kesepuluh orang tadi tidak mengenakan pakaian yang islami. Karena siapa itu…..? karena Entong sang pezinah yang mau beramar ma’ruf nahi munkar.
  • Dan sesampainya di kantor, sudah barang tentu banyak pegawai laki-laki yang terselamatkan dari dosa. Dan karena siapa itu…..? karena Entong sang pezinah yang mau beramar ma’ruf nahi munkar.
  • Lalu apa kebaikan yang akan Entong sang pezinah dapatkan….? Dalam hal ini saya kurang paham. Namun yang pasti, Entong yang sudah terbiasa dengan kejelekan yang satu ( berzina ) akan terhindar dari kejelekan yang lainnya           ( setiap dia berada di kantor mengumbar matanya dengan aurat ). Di luar ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatan baiknya itu ( amar ma’ruf nahi munkar ).
  • Dan mungkin kebaikan-kebaikan lainnya yang mungkin timbul akibat dampak secara langsung ataupun tidak.

Coba sekarang kita bandingkan dengan apabila Entong sang pezinah tidak mensegerakan amar ma’ruf nahi munkar. Maka dia akan terjerumus kepada dosa yang satu ( zina ) dan dosa yang lainnya ( mengumbar syahwat mata ). Belum lagi kebaikan-kebaikan lainnya. Yang memang tidak akan terjadi, seandainya Entong sang pezina tidak mensegerakan amar ma’ruf nahi munkar.

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN

            Mungkin dikalangan orang-orang pintar, banyak yang berujar seperti ini, “ kalau memang pada permulaannya sudah salah, pasti kesananya juga bakalan salah. ( prihal cara, ataupun sistem yang dipakai dalam pemilihan pemimpin ). Tapi kalau menurut orang bodoh, inilah keadaannya sekarang. Inilah negara kita sekarang. Lebih baik kita memulai dari sebuah kesalahan daripada kita menunggu sesuatu yang sempurna. Selain itu, orang bodoh ini masih terlalu yakin, banyak para pemimpin di negara ini yang mau berubah. Salah satu contohnya adalah….., ya orang bodoh ini. Sayang bukan        presiden …….!

Namun demikian, seandainya orang bodoh ini boleh untuk berhayal ( yang nggak boleh kan meminta jabatan ) maka inilah yang akan saya lakukan seandainya saya menjadi seorang presiden.

Pertama, saya akan berusaha menjalankan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala baik sebagai individu ataupun sebagai pemimpin. Dalam bingkai hukum yang telah ada.

Contoh :

Ketika islam mengatakan korupsi itu adalah sebuah perbuatan yang melanggar hukum, maka begitupun dengan demokrasi. Tinggal sekarang, bagaimana kita sebagai pemimpin menyikapinya.

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

Setiap kamu adalah penggembala dan setiap kamu akan diminta pertanggung jawabannya. Seorang pemimpin adalah penggembala bagi rakyatnya, maka ia akan ditanya tentang apa yang digembalakannya.(HR. Ahmad )

Lalu sekarang coba kita perhatikan apa itu demokrasi. Demokrasi adalah sebuah sistem yang menempatkan rakyat sebagai pemilik kekuasaan tertinggi. Oleh karena itu, ketika masyarakat negara ini tidak menginginkan adanya korupsi, maka saya sebagai presiden akan berusaha memberantas korupsi itu semaksial mungkin. ( tentu sebatas kesanggupan saya sebagai presiden ).

Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda :

“siapa-siapa diantara kamu melihat perkara yang munkar, maka hendaklah diubahnya dengan tangannya ; jika ia tidak kuasa, hendaklah dengan lidahnya ; dan jika tidak kuasa juga, hendaklah dengan hatinya ; dan inilah yang selemah-lemahnya iman.”

Dan kalau sudah begitu, saya akan mengelompokan pemimpin di negara ini menjadi tiga kelompok besar. Yang pertama, orang yang apabila saya melihat kemunkarannya, maka akan saya ubah dengan tangan saya. ( tapi tidak akan keluar dari hukum yang ada di negara ini ). Yang kedua, orang yang apabila saya melihat kemunkarannya, maka saya akan ubah dengan lidah saya. ( tentu dengan tidak keluar dari hukum yang berlaku ). Dan yang ketiga, orang yang saya lihat kemunkarannya, maka saya akan berusaha merubahnya dengan do’a.( tapi tidak berdasarkan hukum yang berlaku di negara ini…..!)

Dan kalau sudah begitu, dapatkah kira-kira saya ataupun anda semua mengira-ngira, siapakah yang berada dibawah kesanggupan dan kekuasaan  seorang presiden…..?
contoh kasus :

Ketika saya ( sebagai seorang presiden ) mendengar ataupun membaca dari sebuah media, bahwa ada  salah seorang pembantu saya yang korupsi, mungkin saya tidak akan memikirkan terlebih dahulu tentang bagaimana menegakan hukum islam       ( yang sesuai dengan agama yang saya pegang ) dalam menyelesaikan masalah korupsi tadi ( kalau seandainya itu akan bertentangan dengan hukum yang berlaku di negara yang saya pimpin ). Karena memang dalam keadaan  emergency seperti saat ini, membuat orang yang korupsi sebagai terhukum, lebih penting daripada bentuk hukumnya itu sendiri. Dan yang terlebih penting lagi adalah, bagaimana menegakan hukum islam itu bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, inilah kiranya beberapa  tindakan yang dapat saya ambil sebagai presiden yang beragama islam dalam menegakan hukum-hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala sebatas kemampuan saya yang menjabat presiden dalam sebuah negara yang tidak berdasarkan hukum_Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  • Menganggap berita itu benar lebih baik daripada menganggapnya bohong. Kalau saya lihat dari segi tanggung jawab yang akan saya pikul kelak di akhirat.
  • Saya akan beranggapan bahwa berita itu benar ( pembantu saya korupsi ). Walaupun pembenaran itu tidak secara terbuka ( kalau tidak memungkinkan )
  • Saya akan memberikan tekanan kepada orang yang diduga melakukan korupsi itu. Walaupun tidak bisa secara kelembagaan, tapi dengan diberikannya tekanan secara pribadipun mudah-mudahan bisa berkenan di mata sang pencipta.

alasannya:

ketika kita selalu menganggap sesuatu itu bersih, maka ingatlah, kebersihan itu akan semakin sulit untuk kita wujudkan. Namun sebaliknya, ketika kita selalu menganggap sesuatu itu kotor, maka kebersihan itu akan semakin mudah untuk kita wujudkan. Dan itulah yang harus selalu ada di benak para pemimpin. Seandainya memang mereka takut terhadap  tanggung jawab yang akan mereka pikul di kelak kemudian hari.

Sebagai perbandingan, saya ambil contoh bagaimana Umar bin Khothob yang mendatangi anaknya sendiri beserta marahnya, ketika mendengar anaknya itu begini dan begitu. Coba kita baca sekali lagi, ketika mendengar!!!! Padahal itu adalah anaknya. Anak yang dia didik dan dia besarkan sendiri. Sehingga dia tahu persis sifat-sifat anaknya itu. Tapi mengapa dia berbuat demikian….?  Karena memang Umar tahu betul akan resiko yang akan didapat ( dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak ), seandainya menganggap angin lalu sebuah keburukan yang mungkin terjadi pada seseorang yang menjadi tanggung jawabnya kelak. Coba kita baca sekali lagi mungkin…..! belum pasti…..!

dan kita juga harus ingat, bahwa dalam sebuah pemerintahan musti ada penghubung antrara kita sebagai pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Yaitu para pembantu kita. Dan mereka itulah yang harus berada dalam kuasa kita sebagai presiden. Oleh karena itu, kebersihan mereka adalah pahala buat kita, dan kekotoran mereka akan menjadi dosa kita. Atau dengan kata lain, semua tindak-tanduk mereka, akan menjadi pertanggung jawaban kita kelak sebagai presiden.

MLM dosa, inilah yang mustinya ditakuti oleh setiap pemimpin di negeri ini.

Contoh :

Ketika kita menerima jabatan presiden, sudah barang tentu kita dibantu oleh beberapa orang menteri yang mengepalai beberapa departemen. Yang mana menteri-menteri itu tadi juga mempunyai bawahan-bawahan yang berada di bawah kesanggupan mereka sebagai menteri hingga daerah tingkat dua atau bahkan desa-desa terpencil. Dan saya yakin, semuanya itu akan menjadi tanggung jawab seorang pucuk pemimpinnya kelak. Bila salah yang di bawah, pasti salah yang di atas. Bila benar yang di bawah, belum tentu yang di atas….! Bila dilakukan pembiaran.

Lalu apa makna pembiaran di sini…..?

Bila saya mendengar bahwa ada bawahan saya yang melakukan korupsi, sedangkan kita sendiri tahu, bahwa mafia hukum sudah begitu menggurita di negeri ini, maka ketika saya menyerahkan kasus tadi kepada hukum yang berlaku, tanpa usaha saya sebagai presiden untuk mencari kebenaran dari berberapa arah yang memungkinkan, maka itu sudah bisa dikatagorikan “ pembiaran”. Karena memang, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tanggung jawab prihal memimpinnya itu kepada saya, bukan kepada hukum yang berlaku.

Jadi kesimpulannya adalah, seorang presiden harus mengedepankan kepentingan agamanya di atas kepentingan politiknya. Artinya apa….? islam akan menjadi insprirasi dalam setiap tindakan saya sebagai presiden.

Contoh :

  • Presiden sebagai kepala keluarga
    • Saya akan suruh seluruh anggota keluarga saya untuk shalat tepat waktu dan berjama’ah.
    • Saya akan suruh seluruh wanita di keluarga saya untuk berpakaian yang islami.
    • Seluruh anggota keluarga saya akan bersekolah di sekolah-sekolah islam.
    • Memberikan salam adalah sebuah keharusan bagi saya dan keluarga.
    • Menyuruh seluruh anggota keluarga saya untuk mengajak orang lain dalam mengerjakan islam dengan baik di lingkungannya masing-masing ( dalam hal ibadah ).
    • Dan lain sebagainya. Yang mudah-mudahan kesemuanya itu bakalan menjadi amar ma’ruf saya sebagai presiden.
    • Presiden sebagai pemimpin partai
      • saya akan mengambil orang-orang kepercayaan saya berdasarkan ketaatan mereka beragama selain kemampuan mereka tentunya.
      • Bila saya harus memilih pengurus dari dua anggota yang mempunyai kemampuan sama, maka saya akan mempertimbangkan faktor agama sebagai nilai lebih dari keduanya.
      • Beramar ma’ruf dalam hal-hal tertentu akan saya terapkan pada partai yang saya pimpin. Misal, shalat tepat waktu dan berjama’ah, mengucapkan salam, berkerudung bagi muslim wanita, ada acara pengajian rutin, dan lain sebagainya.
      • Ketaatan mereka beragama akan menjadi bahan pertimbangan saya selain prestasi. Dalam hal penilaian kinerja anggota partai.
      • Dan lain sebagainya.
      • Presiden sebagai pemimpin negara
        • Apa yang saya kerjakan pada partai yang saya pimpin, akan saya terapkan juga pada saat saya memimpin negara.
        • Saya akan menunjukan ketaatan saya dalam beragama kepada orang-orang yang tidak berada dalam kesanggupan saya dalam beramar ma’ruf nahi munkar.
        • Saya akan berusaha membuat peraturan-peraturan yang menguntungkan perkembanagan islam. Ingat….! Saya akan berusaha sekemampuan saya….!
        • Saya akan berusaha mencegah peraturan-peraturan yang merugikan perkembangan islam. Sekemampuan saya
        • Saya akan menganggap bahwa kejelekan bawahan saya adalah bara api neraka, dan kebaikan mereka adalah pahala. Oleh karena itu, tidak ada toleransi untuk kejelekan sekecil apapun.
        • Menasehati mereka ( bawahan saya ) akan berada pada kesanggupan saya sebagai presiden.
        • Dan lain sebagainya.

Dan ini akan saya kerjakan apabila saya menjadi presiden, anggota dewan, menteri, gubernur, pemimpin perusahaan, dan apapun itu, yang memungkinkan saya untuk melakukannya. Hanya ceritanya saja yang berbeda. Atau dengan kata lain, “biarlah demokrasi, tapi jiwa dan perbuatan saya akan islami”.

 

Penjajah yang baik

sampai di sini, mungkin banyak yang bertanya apa sebenarnya maksud daripada uraian tadi…..?

            Baiklah, untuk lebih jelasnya kita kembali kepada bahasan negara yang terjajah.

Pada waktu itu…, hampir semua penduduk Negara ini, selalu mendekatkan dirinya kepada sang pencipta karena ketakutan,        Pada waktu itu…., hampir semua penduduk negeri ini selalu berdo’a kerena pengharapnnya,            Pada waktu itu….., tidak ada perampok yang yang mencuri untuk tabungannya hari esok, Pada waktu itu…., tidak ada perampok yang bangga akan hasil curiannya…, dan pada waktu itu, tidak ada seorang pun yang mau menghormati dan menyanjung seorang pencuri bak pahlawan….,

Pada waktu itu….., air mata yang tercurah, hanyalah air mata do’a dan kesedihan.  pada waktu itu….., keringat yang menetes, adalah keringat perjuangan. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Semua waktu dihabiskan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan berusaha.

Dan karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berkenan memberikan rakhmat_Nya kepada Negara ini. Yaitu kemerdekaan….!

Coba kita perhatikan….!

Pada waktu itu, hampir semua penduduk negara ini, selalu mendekatkan dirinya kepada sang pencipta karena ketakutan. Jelaskan maksud saya….! Karena pada waktu itu, semua penduduk negeri ini, menyadari kelemahan usaha mereka sebagai manusia. Manusia pada waktu itu, tidak bisa menyombongkan akal dan fikiran mereka. Karena setiap mereka berfikir, maka akal mereka mengatakan, hanya pertolongan Allah lah yang mungkin…!

Oleh karena itulah maka pada waktu itu orang bisa shalat dengan khusyu. Bisa berdo’a dengan berlinang air mata, bisa memberi dengan ikhlas, dan lain sebagainya. Karena apa…..? karena orang-orang pada zaman itu dalam keadaan teraniaya.

Apakah hanya itu……?

Tidak….! Orang-orang pada waktu itu jarang bermaksiat. Apakah itu karena mereka tidak suka bermaksiat….? Bukan. Mereka jarang bermaksiat, karena pada waktu itu tidak ada tempat dan waktu untuk bermaksiat.

Pada waktu itu, ghibah kalah nyaring bila dibandingkan dengan dentuman mesiu. Para ibu, dengan telaten mengurus anak-anaknya, karena memang tidak ada lagi yang bisa mereka kerjakan selain itu. Apalagi jadi wanita karir….? Para generasi mudanya, tidak ada yang menyukai dugem, shoping dan begitu juga dengan jala-jalan nggak karuan di mall-mall. Karena apa…..? karena memang pada waktu itu, tidak ada waktu dan sarana untuk melakukannya.

Dan oleh karena itulah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berkenan memberikan kemerdekaan kepada negara ini.

Bukankah negara ini merdeka karena hasil jerih payah mereka para pejuang kemerdekaan….?

Ya dan betul. Dan terlebih lagi karena prilaku mereka sebagai pejuang dan prilaku penduduk negeri pada waktu itu.

Oleh karena itu, penulis berusaha menarik beberapa pelajaran daripada uraian di atas. Yang diantaranya,

  • Dalam hal menyangkut tujuan hidup sebenarnya, penjajah lebih baik dari pemerintahan yang sekarang.
  • Sudah selayaknya apabila setiap pemimpin menjadi penjajah dalam hal kebebasan bermaksiat.
  • Pada dasarnya, manusia akan sangat susah untuk menjauhi maksiat. Dan oleh karena itulah Allah swt memberikan ketentuan beruapa ada yang memimpin dan ada yang di pimpin. Karena seandainya semua penduduk sebuah negara akan berprilaku baik-baik saja seumur hidupnya, buat apa ada pemimpin….?

Untuk koruptorku tersayang

Ada sebuah keanehan di nagara ini, hampir semua penduduk negeri ini                 ( termasuk saya ) begitu teramat benci kepada yang namanya koruptor. Bahkan perampok, peminum, dan pezina pun, mereka sangat membenci yang namanya koruptor. Kadang saya berfikir, seberapa hebatkah dosa seorang korupator…..? sehingga kita sebagai masyarakat, menghujatnya sedemikian rupa.

Padahal kalau kita mau sedikit berfikir, apa sih kelebihan kita yang tidak koruptor…..? dibanding mereka-mereka yang suka koruptor…..? karena memang dosa itu akan sangat tergantung kepada waktu, tempat dan keadaan.

Contoh :

seseorang yang menjadi petani, akan mendapatkan dosa layaknya seorang petani. Orang yang menjadi pedagang, akan mendapatkan dosa layaknya pedagang. dan lain sebagainya. Karena memang hampir tidak mungkin, bagi kita untuk mengorupsi uang negara. Seperti tidak mungkinnya seorang wanita yang belum menikah untuk menjadai istri yang durhaka.

  • oleh karena itu, jangan pernah kita menghujat berlebihan kepada seorang koruptor kalau kita masih berani meninggalkan shalat. Jangan pernah menghujat koruptor kalau kita masih curang dalam perniagaan. Dan lain sebagainya. Karena secara logika, kita yang hanya diiming-imingi sinetron, berani meninggalkan shalat. Kita yang hanya diiming-imingi lebih sedikit dari takaran, masih berani curang. Apalagi kalau jadi pejabat…..?  uang miliyarang gitu lho…..!

dan kalau sudah begitu…., apa bedanya kita dengan mereka…..? karena yang benar adalah, kita sama saja dengan mereka. Hanya keadaanlah yang membedakannya.

Dan selain itu, sampai saat ini saya masih tetep yakin. Bahwa, lebih dari setengah bahkan tiga perempat mungkin, pemerintahan yang ada sekarang ini adalah orang-orang baik. Hanya waktu, tempat dan keadaanlah yang menyebabkan segala sesuatunya berkata lain. Oleh karena itu, saya menghimbau kepada orang-orang baik di dalam pemerintahan ataupun dewan, yang sulit sekali untuk menjadi baik, “ tidak ada istilah kepalang basah”. Karena memang seberapa besarpun dosa yang telah kita lakukan, ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan lebih besar daripadanya. Maka daripada itu, terus dan teruslah imbangi perbuatan dosa kita dengan berbagai kebaikan. Yang mudah-mudahan, kebaikan itu akan datang dengan sendirinya.

Contoh :

Hidup pada masanya seorang ulama yang terkenal akan kesalehan sikapnya, beliau bernama Abu Yazid Al-Busthami. Suatu hari, tatkala ia begitu khusyu bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala swt dan hatinya terasa begitu lapang. Tanpa sadar beliau terbawa suasana yang melambungkan akalnya sehingga melayang sampai ke Arasy. Beliau mendapati suasana yang sungguh berbeda dari apa yang telah dialaminya. Sempat terbersit di hatinya : “ inilah tempat Nabi Muhammad saw. Mungkin besok aku dapat hidup sebagai tetangganya di surga sana.”

Ketika kembali dapat menguasai diri, beliau lalu dikejutkan dengan datangnya suara tanpa wujud yang jelas sekali terdengar di telinganya. Suara gaib itu memberitahukan bahwa ada seseorang yang bernama si fulan dan tinggal di sebuah kampung. Orang tersebut merupakan tetanggannya kelak nanti di surga.

Mendengar suara yang tanpa rupa itu, beliau sempat berpikir sejenak. Tidak begitu lama beliau segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kampung yang dimaksud. Beliau diliputi rasa penasaran untuk melihat dari dekat orang yang nanti menjadi tetangganya di surga.

Sesampainya di sana, Abu yazid bertanya, “ Apakah kalian kenal seseorang yang bernama si fulan….?” Lalu orang kampung menjawab dengan rada sinis, “ untuk apa engkau mencari orang yang fasik dan ahli minum itu, sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang dimukamu ada tanda-tanda  kesalehan…?”

Keterangan yang diberikan orang kampung tersebut membuat Abi Yazid kaget dan tak percaya. Hatinya khawatir dan diselubungi rasa was-was. Beliau berbisik dalam hati, “ Ah, barangkali suara gaib yang kedengar itu adalah suara setan. Namun, aku telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sekarang sudah berada di kampung di mana si fulan berada. Kalau aku putuskan untuk pulang, berarti semua yang aku lakukan ini sia-sia belaka.

Akhirnya Abu Yazid memberanikan untuk bertanya lagi dimana si fulan berada. “Wahai bapak-bapak sekalian, tahukah dimana si fulan berada….?”

Orang kampung kembali menjawab, “ saat ini si fulan sedang sibuk minum arak di sebuah kedai bersama kawan-kawannya. Pergilah engkau ke sana tentu akan dapat menemukannya.”

Maka dengan hati yang terus ingin tahu, beliaupun berangkat menuju kedai yang ditunjukan. Sesampainya di sana beliau melihat ada empat puluh lelaki yang sedang mabuk-mabukan, termasuk si fulan.

Melihat kenyataan itu tentu saja membuat Abu Yazid terpana. Beliau merasa putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Baru saja beliau hendak melangkah pulang, tiba-tiba si fulan itu menyapanya. “Hai Abu Yazid Syaikhul Islam, kenapa engkau tidak suka masuk kedai ini…? Engkau datang dari jauh khusus untuk mencari seseorang yang akan menjadi tetanggamu besok di surga. Tapi setelah bertemu, kenapa engkau tinggalkan begitu saja tanpa salam…?”

Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut si fulan, Abu Yazid tambah bingung dan heran. Hatinya pun bertanya-tanya, “ ini adalah perkara rahasia dan yang tahu hanya aku dan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tapi kenapa si fulan ini benar-benar tahu maksud kedatanganku….?”

Belum lagi kata hatinya mendapat jawaban yang memuaskan, tiba-tiba si fulan berucap lagi, “ Hai Syaikhul Islam, tak perlu engkau heran dan berfikir tentang kenapa aku tahu maksud kedatanganmu. Ketahuilah, semua itu terjadi atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dialah yang telah memberitahu diriku akan maksud kedatanganmu. Maka masuk dan duduklah bersamaku.

Abu Yazid berkata, “ Hai fulan, apa maksudmu dengan semua ini…?”

Si Fulan menjawab dengan nada santai, “ bukanlah seorang laki-laki apabila bercita-cita masuk surga sendirian tanpa mengajak teman. Ketahuilah, sebenarnya yang berada di kedai ini semuanya berjumlah delapan puluh orang pemabuk. Tetapi yang empat puluh orang telah kunasehati sehingga mereka bertobat dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Empat puluh orang selebihnya yang masih senang bermabuk-mabukan di kedai ini merupakan kewajibanmu. Tugasmu sekarang menasehati mereka agar sadar dan bertobat.”

Perbincangan antara Abu Yazid dan si fulan ternyata didengar oleh empat puluh orang yang dimaksud. Mereka terkesima lantas tersadar setelah mengetahui bahwa salah satunya adalah syaikhul islam Abu Yazid Al-Busthami Rahimahullah. Maka empat puluh orang pemabuk tersebut seketika bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan memohon ampun kepada_Nya.

( diambil dari hidayah edisi 32 )

Di luar benar tidaknya cerita tadi, tapi saya bermaksud mengambil beberapa hikmah dari kisah di atas. Yang diantaranya,

  • Kewajiban dakwah
  • Obyek dakwah harus diperluas. Bukan lagi terpaku kepada kalangan tertentu saja. Melainkan harus menyeluruh, khususnya kalangan yang berprilaku negatif.
  • Manusia tidak berhak untuk menilai amal-amalan manusia.
  • Teruslah berusaha untuk melaksanakan kebaikan sekemampuan kita. Jangan pernah menunggu sesuatu yang sempurna untuk berbuat baik. Seperti si fulan tadi, meskipun dia seorang pemabuk, tapi dia tidak merasa ragu untuk berdakwah prihal mabuk sekalipun. Oleh karena itu, seandainya kita terjerumus kepada hal-hal yang negatif, seperti korupsi, berzina, merampok dan sebagainya, jangan pernah kita menunggu untuk bisa keluar dari perbuatan-perbuatan tadi untuk berbuat baik. Karena dengan demikian, hanya akan semakin menjauhkan kita dari yang namanya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk kesimpulannya, sudah melalui proses penyuntingan.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: