laki dan wanita

Pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menciptakan dua jenis manusia. Yaitu, laki-laki dan perempuan. Di mana untuk kedua ciptaannya itu ( laki-laki dan perempuan ), Allah Subhanahu wa Ta’ala tanamkan dalam hatinya masing-masing rasa saling membutuhkan. Coba perhatikan kalimat saya di bawah ini…..!

“biasanya…., laki- laki membutuhkan perempuan dan  sebaliknya. Atau…, biasanya perempuan menyukai laki-laki, dan sebalikanya.”

Lalu perhatikan juga kalimat saya di bawah ini….,

“Biasanya laki-laki membutuhkan laki-laki dan tidak ada sebaliknya. Atau…., biasanya perempuan menyukai perempuan,  dan tidak ada sebaliknya.’

Rancu kan….!

Oleh karena itu, tidak usahlah kita mempermasalahkan sesutu yang sudah pasti. Karena sebenarnya…., tanpa membuka peraturan Allah Subhanahu wa Ta’ala ( Al-Qur’an ) juga yang salah itu akan nampak.

Dan begitupun dengan makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya. Seperti binatang misalkan. Ayam jantan sangat membutuhkan ayam betina dan begitupun sebaliknya. Itu terjadi semata bukan hanya karena si ayam jantan tadi, atau si ayam betina tadi ingin mempunyai keturunan, namun sudah pada kodrat_Nya lah jika seekor pejantan membutuhkan betina. Dan itulah ketentuan lanjutan daripada penciptaan ayam. Dan mereka    ( para ayam-ayam itu ) masih terus menjaga ketetapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan sampai sekarang. Karena memang sampai saat ini, saya belum pernah melihat ayam jantan yang menyukai ayam jantan. Dan begitu juga dengan yang betina……!

Baiklah, sekarang kita kembali kepada permasalahan manusia. Untuk urusan ayam biara ayam sendiri yang membereskannya…..!

Telah saya sebutkan tadi di atas, bahwa sudah menjadi ketentuan_Nya lah, seandainya seorang laki-laki membutuhkan seorang perempuan dan begitupun sebaliknya. Dan sudah ketentuan_Nya pula kalau yang namanya laki-laki kepengen “titik-titik” sama yang namanya perempuan. Dan begitu pula sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan ayam….?

Ya sama ayam juga…..! namun dalam hal ini kita musti tahu, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an itu sebagai petunjuk untuk manusia, bukan untuk ayam…..! ayam jantan dan ayam betina bisa “ titik-titik” kapanpun dan di manapun mereka mau. Tidak ada aturan tentang itu. Karena memang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengaturnya. Lalu…, kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengaturnya….?

  • Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mau  ngerepotin manusia. Karena memang yang namanya manusia itu, jangankan untuk ngurusin ayamnya yang berzina….., lawong anaknya yang berzina juga nggak keurus…..!
  • Karena anak ayam tidak akan pernah bertanya dimana dan siapa ayah saya. Seekor anak ayam, sudah merasa sangat senang dan nyaman bila berada di pangkuan mamanya….!
  • Tidak ada beban kewajiban dalam sebuah keluarga ayam. Oleh karena itu, ayah, ibu dan anak pada keluarga ayam, tidak akan dimintai penjelasannya di akhirat kelak.
  • Tidak ada rasa sedih ataupun duka dalam urusan lawan jenis. Karena memang, belum pernah saya mendengar ataupun melihat, ada seekor ayam betina yang bunuh diri sehabis di perkosa ataupun diputusin. Dan juga…, belum pernah saya mendengar dan menyaksikan ada pejantan yang murung karena kekasihnya menjadi milik yang lain. Dan lain sebagainya.
  • ayam itu tidak suka ngegosip. Oleh karena itu, mereka tanpa musti malu  melakukan “titik-titik” dengan siapa, dimana, dan kapanpun   mereka mau. Karena memang ayam nggak punya malu.
  • Dan lain sebagainya. Pikir aja sendiri. Tapi yang jelas…., manusia jangan seperti ayam, kalau mau dibilang manusia…..!

Kok…..jadi ngurusin ayam lagi ya……?

Tapi, nggak apa-apalah….! Kalau ini buku kebanyakan mengulas tentang ayam, maka akan saya kasih judul “ bila ayam ingin bercinta” tapi kalau manusia yang mendominasi buku ini, maka akan saya kasih judul “ bila manusia ingin bercinta”. Toh sama saja. Untuk jaman sekarang ini, ayam sama manusia hampir nggak ada bedanya. Ayam begitu…, manusia juga begitu. Tapi yang pasti, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak, ayam akan mempunyai nilai lebih dibandingkan manusia. Karena apa…..? karena ayam dari dulu sampai sekarang, masih berada dalam ketetapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan. Beda dengan manusia. Prilaku manusia sudah semakin mendekati ketetapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukan bagi makhluknya yang bernama ayam.” Supaya dapat penilaian lebih kayaknya…..!!!!

tujuan Perkawinan

Baiklah, sebelum saya membahas prihal tujuan daripada perkawinan, alangkah baiknya kalau kita mengetahui terlebih dahulu tujuan daripada penciptaan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku” ( Adz-Dzariyaat : 56 )

            Coba kita renungkan makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada_Nya. Dan itu artinya apa…? Itu berarti, semua kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan di dunia ini haruslah dalam konteks ibadah. Dan itu termasuk keinginan kita akan “ titik-titik…!!!

Sampai di sini saja, akan semakin nampaklah salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebut Maha Pemurah. Mengapa saya katakan demikian….? Karena memang, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang bisa seperti itu. Dia memberi imbalan dalam bentuk pahala untuk suatu pekerjaan yang memang sangat ingin kita lakukan. Bahkan terkadang kita berani berkorban untuknya….!!!!

Dan setelahnya kita tahu tujuan daripada penciptaan manusia, maka sekarang, mari kita melihat skenario yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukan bagi manusia. Yang diantaranya,

  • Seorang anak manusia terlahir dari seorang perempuan setelah “titik-titik” dengan seorang laki-laki ( bila Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak ). Di mana “ titik-titik” nya itu dinamakan ibadah ( seandainya sesuai dengan ketentuan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan). Dan dapat imbalan pula….!
  • Hampir semua bayi yang terlahir ( yang saya tahu ), pasti menangis. Mau bayinya itu bayi orang kaya ataupun orang miskin, akan berprilaku sama. Begitupun dengan bayinya orang alim dan bayinya seorang perampok, tak akan ada bedanya. Karena memang, hanya menangislah yang bisa mereka lakukan.
  • Dan karena ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala jugalah, maka ditakdirkan yang namanya perempuan mempunyai sumber makanan bagi si bayi tadi. Yang biasa kita sebut ASI. Dimana ASI ini, selain kemasannya yang menarik ( karena memang belum ada satupun pabrik susu di dunia ini, yang mampu menyaingi kemasan daripada ASI ), berat dan volumenya juga tidak tergantung kepada besar dan kecilnya kemasan. Belum lagi masalah kualitas….., kualitas ASI tidak dapat dilihat dari bagus tidaknya kemasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang menentukan semuanya.
  • Haripun berganti. Dan tahun ketahunpun serasa cepat berlalu. Di mana pada masa-masa itu ( anak-anak ), belum ada ketetapan lanjutan terhadap yang namanya manusia. ( sampai di sini, skenario itu diperuntukan bagi orang tua si anak tadi).
  • Dan akhirnya, pada suatu masa tertentu, manusia diberi rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Di mana rasa kertarikan itu tidak datang dari semenjak lahir…..! coba bayangkan…., seandainya manusia mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis semenjak lahir….? Maka kita ( apalagi yang laki-laki ) akan lebih menyenangi ASI orang lain daripada ASI kita sendiri. Apalagi kalau kemasannya lebih menarik….!!!
  • Lalu setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ketentuan lain. Dimana manusia dibagi menjadi dua bagian. Yaitu yang muhrim dan yang tidak muhrim. Di mana manusia menyimpan rasa ketertarikannya itu kepada yang tidak muhrim.
  • Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan sarana untuk melegalkan ketertarikan kita terhadap yang bukan munrim itu. Yang biasa kita sebut dengan perkawinan.
  • Dan lain sebagainya. Sampai kita meninggal.

Oleh karena itu, berdasarkan uraian saya tadi di atas, ada ketentuan lain yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam hal ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya. Yaitu,

  • Kita boleh “titik-titik” dengan yang tidak muhrim, dan sebaliknya.
  • Kita boleh “titik-titik” asalkan sudah melewati yang namanya perkawinan.

Jadi tujuan perkawinan adalah , untuk melegalkan kita prihal “titik-titik”. Atau dengan kata lain,  untuk merubah sebuah dosa menjadi pahala. Atau…., melaksanakan skenario yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan. Yaitu “titik-titik” alias ibadah.

Dan sekarang pertanyaannya adalah, benarkah tujuan daripada perkawinan itu hanya sebatas “titik-titik…….?

Baiklah…, dalam hal ini, saya hanya akan menguraikan tentang tujuan perkawinan menurut orang bodoh. Atau, alasan mengapa seseorang menikah.

  • Karena manusia ingin “titik-titik” dengan lawan jenisnya.
  • Karena ingin mempunyai keturunan.
  • Tapi ada juga yang karena akhlak lawan jenis, kekayaan, kehormatan dan lain sebagainya. Tapi kesemuanya itu tidaklah sedominan yang pertama dan kedua.

Lalu…., apa sebenarnya tujuan daripada perkawinan menurut islam….?

Untuk urusan yang seperti itu, baca saja buku-buku karangan orang-orang pinter. Namun demikian, bagi seorang bodoh, tujuan daripada perkawinan bukanlah sesuatu hal yang penting. Tapi yang terpenting adalah, bagaimana merubah keinginan menjadi ibadah. Atau dengan kata lain, bagaimana merubah keinginan kita akan hal “titik-titik” dan mempunyai keturunan, menjadi sebuah ibadah. Seperti skenario yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan.

Dan perkawinan itulah jawabannya….!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-ruum:21)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”. (An-nuur;26)

Setelahnya saya merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, saya berpendapat, ada dua element penting dalam sebuah pernikahan. Yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan.

Sebuah dongeng

Dikisahkan di sini, ada seorang pemuda yang bernama si Fulan. Kalau dilihat dari kesehariannya, dia nampak berkecukupan. Cukup jelek, cukup miskin, dan cukup bodoh. Namun meskipun begitu, si Fulan ini tetep yakin dengan keadilan Allah prihal jodoh. Setiap orang pasti mendapatkan jodohnya masing-masing. Dan begitupun dengan dirinya.

Pada suatu waktu, di tengah kesunyian yang selalu menyertainya, si Fulan terlihat sedang membaca buku tentang pernikahan. Dan dia tampak merenung ketika bacaannya sampai pada perkataan Rasulallah saw  di bawah ini,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian telah  memiliki ba’ah nafkah lahir bathin, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang belum memilikinya, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa dapat menjadi tameng bagi dirinya.” ( HR.Bukhori dan Muslim )

Setelah membaca perkataan Rasulallah di atas, kembali si Fulan tadi merenung. Dia merenungi nasib dan takdirnya. Karena untuk seorang pemuda dengan kecukupan yang seperti itu, mencari jodoh bukanlah sebuah perkara yang gampang. Dan disela-sela perenungannya si Fulan berdo’a dan mengadu kepada Sang Maha Pencipta,

“ Ya Allah…, sampai kapan hamba_Mu ini harus berpuasa…..? Tahukah Engkau ya Allah…., Hamba_Mu ini sudah kebelet untuk dapat “ titik-titik” dengan “titik-titik”. Ko gantinya puasa ya Allah….? Kan nggak boleh puasa pada malem hari. Beda sama “titik-titik”…..!

“ Ya Allah…,  hamba percaya akan kemurahan_Mu ya Allah….! Oleh karena itu, hamba_Mu ini mohon dengan sangat, jangan sampai Hamba_Mu ini, puasa seumur hidup Hamba….!

“ ya Allah yang Maha Pemurah…, aku merasa iri dengan mereka…..! mereka-mereka itu bisa beribadah kapanpun mereka mau. Bahkan mereka, bisa beribadah satu, dua dan bahkan mungkin berkali-kali dalam satu malam. belum lagi siang hari….! Alangkah besar pahala yang Engkau sediakan untuk mereka….!

“ Lalu hamba_Mu ini ya Allah…..”

“ Apa yang bisa hamba_Mu ini lakukan…..?”

“ Hamba_Mu ini paling bisa hanya membayangkan ibadah itu ya Allah….!”

Dan malampun semakin larut. Bersama larutnya do’a dan pengharapan si Fulan tadi.

Lalu dengan lunglainya si Fulan kembali membuka lembar demi lembar buku tentang pernikahan yang sedari tadi dia pegang. Dan…., “ Ini dia…., ternyata ada juga cara mencari jodoh versi_Nya Allah….!

Maka dengan hati yang sumringah, diapun kembali mengulang-ulang firman Allah yang berbunyi,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”. (An-nuur;26)

Mengapa si Fulan begitu sumringah membaca firman Allah di atas…?  Karena dia berkeyakinan, bahwa dengan segala kekurangannya itu, dia masih bisa berkesempatan untuk bisa mendapatkan perempuan yang baik. ( minimal dapet jodohlah ).

Dan berbekal keyakinan itu pulalah si Fulan pun berencana, “ baiklah…., mulai besok, aku akan membuat Allah untuk menepati janji_Nya….!

Dan inilah kiranya yang dilakukan si Fulan guna menjemput janji_Nya Allah Subahanahu wa Ta’ala.

  • Dia selalu mensegerakan shalat dan berjama’ah. Dengan harapan, Allah pun akan mensegerakan jodohnya. Dan berjama’ah mungkin….! ( sekaligus empat juga nggak apa-apa )
  • Selain yang wajib, dia juga kerjakan yang sunat-sunatnya. Seperti tahajud, duha, sedekah, puasa dan lain sebagainya. Dengan harapan, Allah juga tidak hanya akan memberikan yang wajibnya saja ( wanita ) tapi Allah memberikan wanita dengan berbagai kelebihannya. Misal, cantik, kaya, akhlak bagus, dan lain sebagainya.
  • Cukup sampai disitu….? Tidak. Diapun berusaha untuk mendapatkan materi yang cukup. Karena ada satu yang dia takutkan, “ Allah akan menahan jodohnya. Karena ketidak sanggupannya  dalam memberikan nafkah lahir.
  • Dan yang terakhir, dia pelajari juga tentang bagaimana menjadi suami yang baik.

Haripun berganti dengan minggu. Dan akhirnya berganti pula dengan bulan. Dan karena kesabarannya itu pulalah, maka titik terang pun sudah mulai nampak. Pada saat ini, si Fulan sudah bisa berbangga hati. Meskipun belum sampai pada jenjang pernikahan, tapi dia sudah mempunyai beberapa kenalan wanita yang secara kasat mata seakan memberi peluang kepadanya.

Namun begitu, bukan berarti semuanya selesai sampai di sini. Ada sedikit persoalan yang selalu mengganggu fikiran si Fulan. Prihal kepada siapa dia akan menjatuhkan pilihan…?

Dan mungkin karena alasan itu pulalah, maka pada suatu malam, si Fulan nampak sedang membuka lembar demi lembar buku andalannya. Dan nampak matanya sedang tertuju kepada sebuah hadits yang berbunyi,

“perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya,  dan karena agamanya. Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Nampak dia sangat serius sekali memperhatikan hadits itu. Lalu dia bergumam, “ Kalau saya pilih yang hartanya banyak…., tapi kalau agamanya jelek, entar gimana….? Begitupun dengan cantik dan keturunan….!

“ terus, kalau saya pilih agama, tapi nggak cantik, “titik-titik” nya gimana….? Dan begitupun dengan harta dan keturunan” ( nggak nyambung yah….! )

Tapi sudahlah….! Singkat cerita malam itu dia bingung dalam menentukan pilihan hatinya. ( memang begitu kalau orang sekarangmah, belum tentu keterima juga sudah bingung duluan…! ). Sampai pada suatu ketika, matanya tertuju pada lembaran yang berisi firman Allah sebagai berikut,

“isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanamanmu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah      ( amal yang baik ) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui_Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” ( Al-Baqarah :223 )

Nampak dari raut wajahnya, dia sangat serius sekali memperhatikan firman Allah pada lembaran itu. Kelihatannya, ada sesuatu yang dia dapatkan di sana. Suatu saat dia merenung, dan pada saat yang lainnya dia kelihatan menganguk-anggukan kepalanya. Dan begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya dia berucap, “ Terima kasih ya Allah…, mudah-mudahan inilah yang terbaik……!” dan diapun segera terlelap bersama mimpinya.

Dan singkat cerita, hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Dan si Fulan pun mengucapkan syukur untuk hal kebahagiaannya.

“ Ya Allah…., terima kasih ya Allah….!  Akhirnya hamba_Mu bisa beribadah seperti mereka….! Dan sebagai tanda terima kasihku ya Allah, hamba_Mu ini berjanji, hamba_Mu ini  akan menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah engkau amanatkan kepada hamba. Bahkan…., seandainya Engkau ingin hamba memikul lebih dari satu amanat pun, maka hamba_Mu ini akan dengan senang hati menerimanya. Sebagai ucapan terima kasih hamba atas kemurahan yang telah Engkau berikan….! Amin…..!

Bagaimana Laki-laki memilih

Rasulallah saw  bersabda :

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian telah  memiliki ba’ah nafkah lahir bathin, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang belum memilikinya, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa dapat menjadi tameng bagi dirinya.” ( HR.Bukhori dan Muslim )

Dalam hadits di atas dikatakan bahwa, apabila kita siap lahir dan bathin, maka hendaklah kita menikah. Namun apa yang terjadi sekarang….?

Bagi laki-laki yang belum bekerja, mereka akan berkata, “ apabila saya sudah mendapatkan pekerjaan tetap”. Bagi yang sudah bekerja, merka menunggu sampai mempunyai rumah. Bagi yang sudah punya rumah, menunggu mobil. Dan lain sebagainya. Apakah salah…..?

Sampai di sini saya katakan nggak….! Namun demikian, pernahkah kita tahu, disamping nafkah lahir, seorang isteri juga memerlukan nafkah bathin. Dan pertanyaan saya, sudahkah laki-laki pada jaman ini mempersiapkan nafkah bathin untuk isterinya, seperti mereka mempersiapkan nafkah lahirnya…….?

Lalu apakah itu nafkah bathin……?

( perlu diingat, bahwa ini adalah pemikiran saya semata. Bukan Qur’an dan contoh daripada RasulAllah saw).

Nafkah bathin adalah, sesuatu yang di berikan laki-laki ( pemimpin ) kepada isterinya, agar isterinya itu bahagia di akhirat.

Contoh :

  • Bila calon isteri kita tidak mengenakan kerudung, sampai dimanakah kesanggupan seorang laki-laki ( sebagai pemimpin ) menyuruh isterinya berkerudung.
  • Bila isteri kita nantinya, suka bepergian tanpa sepengetahuan suaminya, sampai di manakah kesanggupan kita untuk memberitahunya…?
  • Belum lagi masalah anak
  • Dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, alangkah anehnya jika seorang lelaki yang akan menikah, hanya memikirkan nafkah lahirnya saja. Bahkan sudah bisa dibilang berlebihan. Karena banyak yang berfikir seperti tadi di atas. Mereka harus mempunyai rumah sendiri, penghasilan yang besar, mobil, tabungan dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu, hanyalah sebagai pengejawantahan daripada logika kita semata. Bahwa kesemuanya itu, bisa menjamin kebahagiaan rumah tangga kita kelak. Lalu apa makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini,

“Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?” (Yaasiin :23)

Coba kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas. Mengapa kita sebagai seorang lelaki yang mau menikah, mengandalkan kebahagiaan kita kepada yang namanya materi….? Padahal jika Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadap seseorang, niscaya semua yang telah kita kumpul-kumpul itu, tidak akan dapat memberi manfaat sedikitpun. Dan tidak pula dapat menyelamatkan kita. Atau dengan kata lain, belum tentu akan membuat kita bahagia.

Jadi bagaimana, salahkah kita berfikiran seperti itu,,,,? Dalam tanda kutip materialistis.

Kalau salah sih enggak. Tapi yang nggak bener adalah, kenapa kita selalu terpaku kepada nafkah lahir, sehingga kita melupakan nafkah bathin….? Padahal keduanya sama-sama akan kita butuhkan.

Bahkan untuk urusan nafkah lahir, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mempunyai ketentuan lain,

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” ( Ath-Thalaq : 2-3 )

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tadi di atas, kembali Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, bahwa segala sesuatunya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan. Meskipun kita belum mempunyai pekerjaan yang menjanjikan, atau belum punya rumah sendiri, dan lain sebagainya, asalkan kita bertaqwa, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadakannya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan juga mencukupi keperluan kita.

Namun demikian, salah juga kalau kita hanya mengandalkan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa kita mempersiapkan segalanya. Asal jangan sampai berlebihan. Karena memang, nafkah lahir juga termasuk salah satu yang harus kita persiapkan dalam hadits tadi.

Lalu bagaimana baiknya…?

Begini, kalau kita mengaku sebagai manusia beragama, berlakulah selayaknya manusia yang beragama. Artinya apa…..? ( khusus yang mengaku beragama islam )

  • Setiap manusia yang beragama islam harus mengakui bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masa depan kita bukanlah kita yang menentukannya. Kita sebagai makhluknya hanya bisa merancang dan berharap.
  • Setiap manusia di dunia ini, telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan akal dan fikiran. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah kita berusaha untuk mempersiapkan masa depan kita. Karena kalau memang kita ini manusia, maka logika kita akan berkata seperti itu. Merancang dan mempersiapkan masa depan adalah sebuah keharusan.
  • Keyakinan kita prihal Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkehendak atas masa depan kita, harus lebih besar daripada logika kita. Artinya apa…? meskipun memang Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang berkehendak atas masa depan kita, tapi kita musti percaya, bahwa kita juga bisa mempengaruhi kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala itu.

Contoh :

Logika kita berkata, bahwa kalau kita kepengen kaya, kita harus kerja keras dan hemat. Sementara agama kita berkata, kaya tidaknya seseorang, tergantung kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kalau kepengen kaya, bekerja keraslah dan berhematlah. Tapi jangan lupa, kita juga harus menyenangkan yang punya kehendak ( Allah Subhanahu wa Ta’ala ).

Kalau melihat uraian saya tadi di atas, mungkin ada yang berkata seperti ini, “ kalau memang Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang berkehendak,  kita nggak usah kerja keras, tapi lebih baik menyenangkan yang punya kehendaknya saja….!”

Dan jawaban saya,

“ kita musti tahu, bahwa kerja keras dan berhemat adalah sebuah amalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala senangi, dalam hal memberikan kekayaan kepada seorang manusia. Atau dengan kata lain, bekerja keras dan berhemat adalah salah satu referensi utama bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal memberikan kekayaan kepada seseorang. Selain amalan-amalan yang lainnya.

Oleh karena itu, inilah kiranya beberapa tindakan yang musti ataupun pantas dilakukan oleh umat muslim yang telah cukup umur,

  • Pertama, ingat-ingat berapa umur kita….., sudah layakah kita menikah….?
  • Sudah kebelet belum….? Karena meskipun hal ini seperti lelucon, tapi ini juga termasuk sesuatu yang tidak kalah penting. Bahkan yang terpenting mungkin….! Karena meskipun sudah cukup umur, materi ada, ilmu ada, kalau kitanya belum kepengen “ titik-titik” mah gawat juga…..!
  • Memperhitungkan untung ruginya. Dimana untung ruginya itu, kita mengacu kepada tujuan kita hidup di dunia.

Rasulallah bersabda,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian telah  memiliki ba’ah nafkah lahir bathin, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang belum memilikinya, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa dapat menjadi tameng bagi dirinya.” ( HR.Bukhori dan Muslim )

Coba kita perhatikan perkataan Rasulallah di atas, kalau orang bodoh yang memperhatikan, ada tiga poin yang saya dapat. Yaitu kesanggupan,  kebelet dan untung rugi. Oleh karena itu, inilah yang harus dilakukan oleh umat muslim yang sudah cukup umur dalam menyikapi hadits di atas. Yang merupakan kelanjutan daripada uraian tadi.

  • Memiliki di sana mempunyai arti kesanggupan. Karena seandainya kita mengartikan memiliki di sana seperti memiliki yang kita pakai sehari-hari, maka pada tempatnyalah kalau kita harus punya rumah dulu, punya tabungan dulu dan sebagainya. Karena memang materi itulah yang dibutuhkan oleh keluarga kita kelak, apabila sudah menikah. Karena memang, arti kata memiliki adalah sesuatu yang sudah berada di tangan kita, atau sesuatu yang telah kita raih. Sedangkan kesanggupan adalah, optimisme kita akan suatu hal, yang didasari oleh kenyataan yang ada pada sekarang ini.

Contoh :

Ketika kita berpenghasilan Rp 3000.000,-  per bulan, mungki kita akan berfikir, bahwa kita merasa sanggup untuk memberikan nafkah lahir kepada keluarga kita kelak. Seandainya menikah nanti. Beda dengan memiliki. Karena yang namanya memiliki, akan mempunyai arti, kita sudah mempunyai biaya untuk keluarga kita kelak, selama hidupnya. Atau dengan kata lain, kalau seandainya keluarga kita akan menghabiskan Rp 2000.000.- per bulan, maka uang yang harus kita miliki sebelum kita menikah adalah sebesar Rp 2000.000.- dikali panjang umur kita. Belum lagi biaya-biaya yang terduga lainnya.

  • Hadits di atas ditujukan untuk laki-laki sebagai pemimpin. Dan tugas pemimpin adalah, membawa yang dia pimpin supaya dapat hidup bahagia di dunia, dan di akhirat. Nafkah lahir dan nafkah bathin.
  • Kesanggupan kita dalam memberikan nafkah lahir, akan sangat erat hubungannya dengan materi. Tapi tidak harus sudah memiliki. Optimisme kita pada keadaan kita sekarang( yang akan menghasilkan kesanggupan ), sudah cukup untuk menjadi bekal dalam hal kita berumah tangga. Dan teori itu di kuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini,

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” ( Ath-Thalaq : 2-3 )

  • Kesanggupan kita dalam memberikan nafkah bathin, akan sangat erat hubungannya dengan ilmu. Dimana kesanggupan dan ilmu itu harus ada sebelum kita menikah. Dan disanalah letak perbedaan antara nafkah lahir dan nafkah bathin. Yang mana nafkah lahir tidak harus sudah memiliki. Untuk nafkah lahir, cukup dengan optimisme kita pada keadaan sekarang( kesanggupannya saja ). Sedangkan untuk nafkah bathin, kesanggupan dan ilmunya itu, sudah harus menjadi milik kita dari sebeum menikah. Oleh karena itu, tidak ada keterangan lanjutan prihal nafkah bathin.
  • Dalam hal ilmu ( yang terdapat dalam nafkah bathin ), saya ingin kita jangan pernah mempersulit diri sendiri. Sehingga melalaikan kewajiban yang lainnya. Artinya apa….? bagi laki-laki yang ingin segera menikah, tinggal beli buku tentang kepemimpinan seorang laki-laki dalam keluarga, dan bacalah buku itu. Seandainya dalam buku itu ada perintah tentang menyuruh anak dan isteri kita shalat, tanya diri kita, sanggupkah melakukannya….? Kalau yang belum tahu tentang shalat, belilah buku shalat. Syukur-syukur kita bisa mengerti sekarang, kalau tidakpun nggak apa-apa. bisa sambil jalan. Karena yang terpenting dalam hal ilmu disini adalah tahu dan kerjakan. Dan kesanggupan dalam mengerjakan itulah yang terpenting. Oleh karena itu, tahu dan sanggup menjadi persyaratan minimal bagi seorang lelaki yang ingin menikah.
  • Dalam hal menghitung kesanggupan, ada faktor lain yang harus menjadi pertimbangan kita di dalamnya. Yaitu, kebelet dan untung rugi.

Contoh,

  • Ketika kita dalam keadaan kurang baik dalam hal penghasilan dan ilmu, tapi kita sangat sulit untuk membendung hasrat kita untuk “titik-titik” , maka menikah adalah sesuatu yang musti segera kita lakukan. Karena dengan hanya menunda-nunda pernikahan kita hanya untuk sebuah kesanggupan, akan berbuah kerugian, bila kita lihat dari tujuan kita hidup di dunia. Karena dalam keadaan yang seperti itu, semakin lama kita menunda perkawinan, maka akan semakin banyak dosa yang akan kita dapatkan. Kecuali kalau kita dapat menahannya. Seperti perkataan Rasulallah “ berpuasa mungkin….!”

Oleh karena itu, untuk seseorang yang berada dalam keadaan yang seperti itu, tahu atas sesuatu yang musti mereka sanggupi menjadi prasyarat minimal dalam hal menikah. Atau dengan kata lain, ketahuan seorang lelaki prihal kewajibannya dalam hal memberikan nafkah lahir dan nafkah bathin, sudah mencukupi batasan minimal hal pernikahan. Karena memang, pada dasarnya kesanggupan itu tidak dapat dihitung layaknya ilmu pasti.

  • Ketika kita dalam keadaan kurang baik dalam hal penghasilan dan ilmu, tapi kita dapat membendung keinginan kita untuk “titik-titik”, maka menunggu kesanggupan adalah sebuah yang musti dan lebih baik. Tapi ingat…., jangan meminimalisir kesanggupan kita.
  • Ketika kita dalam keadaan baik dalam penghasilan dan ilmu, bahkan mungkin berlebih, dan kita dapat membendung hasrat kita untuk “titik-titik”, maka rugilah seandainya kita menunda-nunda perkawinan. Karena selain daripada banyak pahala yang tersedia di dalam perkawinan itu sendiri, kita nggak akan pernah tahu akan ketahanan iman kita dalam menghadapi godaan. Terutama “titik-titik…..!
  • Ketika kita dalam keadaan baik dalam penghasilan dan ilmu, bahkan mungkin berlebih, dan kita tidak dapat membendung hasrat kita untuk “titik-titik”, maka akan banyak dosa yang akan menghadang kita.

Kesimpulannya apa….?

Cepet-cepetlah menikah…..! Supaya kita dapat “titik-titik…..!

Cepet-cepetlah menikah…..! Supaya kita nggak seperti ayam…..! Di sana “titik-titik” disini “titik-titik”, kesana “titik-titik” kesini “titik-titik”, sama gadis “titik-titik” sama yang sudah bersuami “titik-titik”…..! dan kalau sudah begitu, seandainya kita punya anak dari perempuan-perempuan yang telah kita “titik-titik” maka anak kita itu akan di namakan anak “ titik-titik” dari hasil “titik-titik……! Dan biasanya di dalam akte kelahiran anak itu ayahnya bernama “titik-titik”, jadilah sang ibu “titik-titik”, karena banyak orang yang “titik-titik…..! titik!!!!

Al-baqarah:223

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanamanmu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah      ( amal yang baik ) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui_Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” ( Al-Baqarah :223 )

Supaya tidak menyesatkan, maka akan saya kutip dahulu maksud dari pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas menurut orang-orang pinter.

Allah subhanahu wa ta’ala telah membukakan pintu kenikmatan yang seluas-luasnya bagi pasangan suami isteri bagaimanapun caranya. Asalkan proses penetrasi dilakukan pada tempatnya.

Dalam ayat di atas Allah subhanahu wa Ta’ala menggunakan kalimat hartsun             ( ladang atau tanah tempat bercocok tanam ).  Untuk menjelaskan bahwa proses penanaman dilakukan di tempat tumbuhnya tanaman. “…Fa’tuu Hartsakum.” Apa maksud dari kata AlHarts…? Al-Harts adalah tempat tumbuhnya tanaman. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat lain berfirman : “ Dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak….” ( Al-Baqarah : 205 )

Datangilah isterimu di tempat kamu bercocok tanam, yakni menanamkan benih anakmu. Adapun tempat yang padanya anakmu tidak mungkin tumbuh, jangan sekali-kali mendatanginya.

Sebagian orang keliru dalam memahami firman Allah, “ maka datangilah tanah tempat bercocok –tanammu itu bagaimana saja  kamu kehendaki,”

Dengan mengatakan bahwa maknanya kita boleh mendatangi isteri kita di bagian mana saja, tentunya pemahaman ini salah. Karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “….tanah tempat kamu bercocok tanam…” yakni, tempat menabur benih tanaman. Sedangkan yang di maksud dengan tanaman bagi sepasang suami isteri adalah anak. Sehingga pengertian yang betul, datangilah isterimu dari arah mana saja, asalkan tetap pada tempat anakmu nanti di lahirkan. Dan seterusnya.

Lalu apa makna firman Alla subhanahu wa Ta’ala di atas menurut orang bodoh…?

  1. Pertama-tama saya katakan setuju dengan pendapat di atas. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan tempat “titik-titik” untuk kita. Dan di sanalah kita seharusnya “titik-titik”.
  2. “ Isteri-isterimu adalah ( seperti ) tanah tempat kamu bercocok tanam….” Dan saya memaknai firman Allah subhanahu wa Ta’ala tadi sebagai berikut,
  • Kalau mau bercocok tanam, pilihlah tanah yang subur. Dengan kata lain, pilihlah wanita yang agamanya baik. Karena seandainya kita berani mengolah tanah yang kurang subur ( wanita yang kurang agamanya ), maka itu memerlukan pengorbanan dan ilmu yang tidak sedikit. Karena,
    • Membutuhkan ilmu.

Dalam hal merubah tanah yang tidak subur supaya menjadi subur, akan memerlukan ilmu tertentu. Maka demikian juga dengan merubah wanita yang kurang agamanya supaya menjadi lebih baik, diperlukan ilmu yang tidak sedikit. Karena kalau tidak, malah-malah kita sebagai laki-laki yang ikut-ikutan tidak subur seperti wanita tadi.

  • Membutuhkan biaya yang besar.

Biaya yang besar kita gunakan untuk pemupukan dan pengolahan yang ekstra. Dan begitu juga dengan wanita yang kurang agama. Kita akan membutuhkan dana yang besar untuk memenuhi keinginannya.

  • Membutuhkan kesabaran yang tinggi.

Karena memang tanah yang tidak subur mempunyai karakter yang sama dengan wanita yang kurang agama. Sama-sama memerlukan kesabaran dan keuletan dalam mengolahnya.

  • Biasanya tanah yang tidak subur, hanya cocok untuk tanaman yang bukan bahan pokok ( untuk sehari-hari ). Bahkan bukan tidak mungkin, kalau kita sebagai pemilik tanah tersebut tidak mempunyai ilmu yang cukup, biaya dan kesabaran yang tinggi, biasanya tanah yang seperti itu akan terbengkalai. Sehingga di tanah tersebut akan tumbuh subur tanaman-tanaman pengganggu. Seperti rumput dan ilalang. Dan begitu juga dengan wanita yang kurang agamanya. Ditakutkan, seandainya kita tidak mempunyai cukup ilmu, biaya dan kesabaran, hanya akan menumbuhkan ilalang dan rumput. Yang akan berefek negarif kepada kita kelak sebagai pemimpin.
  • Kalau mau bercocok tanam, luas tanah ( kekayaan wanita  ) yang akan kita garap harus sesuai dengan kemampuan kita. Oleh karena itu, seandainya kemampuan kita ( ilmu,biaya, kesabaran, dan lain sebagainya ) pas-pasan, maka terlalu sembrono saya kira, seandainya kita berani mengolah lahan yang luasnya diluar kemampuan kita. Karena kesemuanya itu akan mempunyai efek negarif pada kepemimpinan kita nanti. Yang diantaranya,
    • Wanita yang memimpin, bukan laki-laki.
    • Akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Yang biasanya akan berbanding lurus dengan biaya yang biasa wanita itu keluarkan sebelumnya menikah.
    • Kalaupun kita memaksakan diri, maka kita akan terlilit utang. Untuk biaya pupuk, tenaga kerja, pemeliharaan dan lain sebagainya. Mendingan kalau kita panen. Kalau tidak…..? Kita akan terus dan terus terlilit utang. Bahkan yang lebih jeleknya, melepas tanah itu kepada orang lain ( cerai).
    • Kalaupun tidak terlilit hutang, maka minimal biasanya laki-laki itu akan menjadi budaknya. Pagi sampai sore dia kerja. Malem lembur dan seterusnya. Coba pikir…, kapan kita “titik-titiknya……?” Dan yang lebih fatal lagi, kita tidak bisa menunaikan kewajiban kita kepada Sang Maha Pencipta.
  • Kalau kita mau bercocok tanam, keindahan lahan yang akan kita garap bukanlah sebuah acuan. Kalau memang tujuan kita untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah ( pahala di akhirat kelak).
  • Mengawini seorang wanita seperti kita membeli sebidang tanah. Di mana seorang wanita yang menjadi tanggung jawab orang tuanya, maka setelah pernikahan akan berpindah menjadi tanggung jawab kita sebagai suaminya. Oleh karena itulah, belilah tanah bersertifikat, atau minimal kita tahu asal usul tanah yang akan kita garap itu. Agar nantinya, tidak ada sesutu yang tidak kita harapkan.

Uraian saya di atas, seakan menjelaskan perkataan Rasulallah di bawah ini,

Rasulallah bersabda,

“perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya,  dan karena agamanya. Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Ada dua point penting dari perkataan rasulallah di atas,

  • Perempuan dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya.

Saya kira, perkataan di atas bukanlah sebuah suruhan, tapi penjelasan. Rasualallah menjelaskan, bahwa seorang lelaki biasanya akan memilih perempuan untuk mereka nikahi karena empat perkara : yaitu harta, kecantikan, keturunan dan agama. Dan itu bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini.

  • Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat.

Dan diakhir penjelasannya, Rasulallah berkata “ Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat”. Dan yang ini, baru suruhan. Artinya apa…? artinya, pemilihan perempuan berdasarkan kepada harta, kecantikan dan keturunan itu, benar-benar tidak di anjurkan. Dan ada kecenderungan membuat kita celaka.          ( baca lagi uraian saya di atas ).

Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Al-Baqarah : 221 )

Itu menandakan, bahwa pemilihan seorang calon isteri dengan menggunakan kriteria harta, kecantikan dan keturunan, tidak akan menjamin keselamatan atau bahkan mungkin tidak dianjurkan sama sekali. Karena memang, meskipun tidak  dianjurkan juga, ketiga pilihan tadi ( harta, kecantikan dan keturunan ) akan menjadi kriteria setiap lelaki dalam memilih wanita pendamping hidupnya. Dan yang membedakannya hanyalah, ada yang memilih ketiga kriteria tadi sebelum agama, dan ada yang memilihnya setelah agama. Dan yang setelah agama itulah yang terbaik. Itupun masih harus melalui perhitungan dari sebuah kesanggupan yang dimiliki oleh setiap lelaki.

Namun demikian, permasalahan ini tidak selesai sampai di sini. Dipilihnya kriteria agama sebelum harta, kecantikan dan keturunan, belum menyelesaikan permasalahan. Sebelum kita mengukur kesanggupan yang ada pada diri kita sebagai seorang lelaki. Karena apa…? “ agama itu adalah sesuatu yang tersembunyi….!”

Sebelum saya masuk kebahasan ini, kita harus memahami akan tabiat manusia         ( suami ) yang baik pada umumnya. Bahwa seorang suami yang baik, biasanya akan berusaha sekemampuannya, untuk memenuhi keperluan keluarganya. Apalagi untuk anak dan isterinya tercinta. Di mana hal itu, akan mempengaruhi kepemimpinan kita sebagai laki-laki.

Oleh karena itu, akan saya uraikan resiko yang mungkin dapat timbul, seandainya kita memilih harta, kecantikan, dan keturunan meskipun setelah agama sekalipun.

  • Ketika seorang lelaki yang berpenghasilan pas-pasan mendapatkan wanita dari keluarga kaya dan agamanya baik, akan mengandung beberapa resiko yang diantaranya,
    • Ketika wanita itu bersama orang tuanya, mungkin dia terbiasa dengan makanan enak. Maka ketika wanita tadi kita berikan makanan seadanya, maka mau tidak mau ( pada umumnya ) akan mengurangi nafsu makan mereka. Meskipun wanita tadi kita misalkan akan menerima makanan yang apa adanya ( karena faktor agama mungkin ), tapi kita sebagai laki-laki akan berusaha sekemampuan kita untuk memberikan yang terbaik bagi isteri kita.
    • Begitu juga dengan baju. Mungkin suatu waktu, dia kelepasan meminta pakaian yang harganya di luar jangkauan kita. Karena memang, kebiasaan dulu waktu dia berada di rumah orang tuanya yang berada, akan terbawa sampai saat wanita itu berumah tangga.
    • Begitupun dengan perlengkapan rumah, kosmetik dan sebagainya. Yang kesemuanya itu hanya akan membuat kesanggupan kita dalam memimpin jadi berkurang. Karena apa….? Apakah karena isteri kita….? Tidak…., isteri kitanya bisa saja menerima apa saja pemberian kita. Tapi kita sebagai suami akan mempunyai perasaan, “ tidak bisa membahagiakan pasangan kita itu”. Yang berbuntut pada berkurangnya kesanggupan tadi. Yang akhir-akhirnya akan membuat kita sibuk untuk bekerja keras guna membahagiakan isteri kita tercinta. Sehingga lupa kepada kewajiban kita sebagai manusia dan pemimpin di hadapan Sang Maha Pencipta.
    • Bila kita mempunyai isteri yang kecantikannya melebihi kapasitas kita. Menurut pandangan kita sendiri, bukan orang lain ataupun masyarakat. Biasanya suami yang demikian, akan mencintai istrinya itu di luar batas kewajaran. Sehingga secara otomatis akan melemahkan kesanggupan sang suami dalam memimpin.
    • Bila kita mempunyai isteri seorang anak ulama. Apalagi kalau ulamanya itu guru kita. Maka kesanggupan kita dalam memimpin akan terhalang oleh ayah daripada isteri kita itu. Meskipun mungkin, mereka ( isteri kita dan ulama tadi ) tidak berbuat apa-apa, tapi rasa segan yang ada pada diri kitalah yang akan mengurangi kesanggupan itu.

Begitulah kira-kira. Jangankan tidak menomor satukan agama, seandainya kita mendapatkan wanita yang agamanya baikpun, seandainya memilih kriteria yang berlebih dari ketiga faktor selain agama tadi, maka akan menimbulkan resiko-resiko yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Oleh karena itu, dalam pemilihan yang terdapat pada kriteria selain agama, kita juga musti mengukur kesanggupan kita dalam hal memimpin. Karena biasanya, penyakitnya itu datang dari laki-laki itu sendiri. Bukan dari si isteri, seandainya agamanya baik.

Selain itu, kita juga musti ingat….!  Bahwa agama itu pada dasarnya tidak terlihat. Kita sebagai lelaki hanya bisa menilai dari luarnya saja. Sedangkan sifat-sifat aslinya hanya akan terllihat setelah menikah kelak. oleh karena itu, pilihlah yang agamanya baik dan kriteria lainnya dibawah kesanggupan kita sebagai suami. Kalau memang tujuan kita menikah, hanya untuk mencari ridho_Nya Allah.

Lalu kira-kira, bagaimana cara mencari pendamping hidup ( kesimpulan )

  • Yang pasti, pertama-tama ada dulu wanitanya. Karena kalau kitanya nggak lakumah, boro-boro ngurus kriteria……!
  • Pilihalah yang tercantik yang bisa kita dapatkan. Seandainya tidak akan mempengaruhi kita dalam hal memimpin.
  • Pilihlah yang terkaya yang bisa kita dapatkan. Seandainya tidak akan mempengaruhi kita dalam memimpin.
  • Pilihlah keturunan orang-orang hebat. Seandainya tidak akan mempengaruhi kita dalam memimpin.
  • Tapi dengan syarat wanita itu, mempunyai agama yang baik.

An-nur : 26

Allah berfirman :

            “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”. ( An-Nur : 26 )

Ayat ini menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Namun baiklah, Al-Qur’an ada untuk semua kaum muslim di dunia ini. Dari jaman dulu sampai jaman sekarang. Oleh karena itu, seandainya kita bingung dalam memilih wanita seperti apa yang musti kita nikahi, maka lihatlah firman Allah di atas…?

Hanya ada satu jawabannya, untuk mendapatkan isteri yang baik, maka kita harus baik. Atau dengan kata lain, seandainya kita menginginkan pendamping hidup yang mempunyai akhlak baik, maka kita harus memperbaiki akhlak kita juga.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa ada dari sebagian orang yang berakhlak baik, tapi mendapatkan pendamping hidup yang berakhlak jelek….?

Dan jawaban saya adalah sebagai berikut,

  • Kita musti tahu, kriteria baik itu harus menurut Allah. Karena memang Allah yang menjanjikannya.
  • Baik menurut kita belum tentu menurut Allah.
  • Jelek menurut kita belum tentu menurut Allah.

Oleh karena itu, hanya ada tiga kemungkinan untuk seorang lelaki yang baik akhlaknya (menurut manusia ) tapi mendapatkan wanita yang jelek akhlaknya ( menurut manusia ).

  • Meskipun laki-laki itu baik akahlaknya menurut penilaian kita sebagai manusia, tapi belum tentu dihadapan Allah. Oleh karena itulah, maka dia mendapatkan wanita yang berakhlak jelek.
  • Meskipun wanita itu jelek akhlaknya menurut penilaian kita sebagai manusia, tapi belum tentu dihadapan Allah. Oleh karena itulah, maka dia mendapatkan lelaki yang berakhlak baik.
  • Dan yang terakhir, laki-laki tadi dalam keadaan di uji.

Kalau membaca uraian saya di atas, mungkin banyak pembaca yang berujar seperti ini,” kalau memang begitu, kita nggak usaha dong. Kita tinggal shalat tepat waktu dan berjama’ah, perbanyak shalat malam, puasa, dan lain sebagainya. Pokoknya yang baik-baik deh….!”

Dan jawaban saya, “ kenapa nggak….? Namun yang perlu kita ingat, biasanya Allah lebih menyukai manusia yang berlaku layaknya manusia. Yaitu manusia yang mempergunakan akal dan fikirannya serta manusia yang mempercayai ketetuan_Nya”.

Bagaimana wanita memilih

Baiklah, setelahnya saya tadi menerangkan tentang seorang lelaki dalam hal menggapai jodohnya, maka sekarang kita beralih kepada wanita yang akan menjadi pendamping hidup si lelaki tadi.

Dalam firmah Allah swt tadi di atas Allah swt mengatakan, “ isteri-isterimu adalah ( seperti) tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanamanmu itu bagaimana saja kamu kehendaki…..”

            Ada dua point penting yang saya dapatkan dari firman Allah swt di atas, seandainya kita menghubungkannya dengan wanita.

  • Sudah selayaknya, jika para wanita memilih calon pendamping hidup mereka yang mempunyai level diatas mereka sebagai wanita. Baik itu dari segi agama, harta, rupa, maupun keturunan. ( sebaliknya daripada lelaki ).
  • Sudah selayaknya setiap wanita tahu, bahwa seorang suami akan sangat berpengaruh besar terhadap berhasil tidaknya seorang wanita dalam menjalankan skenario yang telah Allah swt berikan. Karena secara logika, sesubur apapun sebuah tanah garapan, tidak akan dapat memberikan hasil yang baik seandainya tidak mendapatkan pengolahan yang baik. ( sebaliknya dari lelaki ).

Oleh karena itu, ada beberapa kriteria penting yang musti dipertimbangkan masak-masak, oleh setiap wanita yang akan mencari pendamping hidup. Yang diantaranya,

  • Pilihlah laki-laki dengan agamanya yang baik. Karena apa,

Contoh :

Mungkin pada suatu waktu, anda sebagai seorang perempuan ingin tampil sedikit modis. Atau mungkin ingin melepas pakaian islami anda karena merasa kurang nyaman dan kepanasan. Dan hal itu tidak akan kesampaian, seandainya anda sebagai perempuan mendapatkan laki-laki yang agamanya baik. Karena sekeras apapun anda meminta, sekeras itu pula suami anda akan melarang. Dan hal itu sangat baik bagi tercapainya sebuah tujuan. Yaitu, beribadah kepada_Nya.

Dan itu tidak akan anda dapatkan dari laki-laki yang kurang agamanya. Karena meskipun anda mendapatkan seorang lelaki yang baik, tanpa agama yang memadai, maka dengan alasan karena ingin membahagiakan anda sebagai isteri, maka lelaki itu akan mengabulkan permintaan yang menyalahi syari’at tadi. yang sebenarnya akan merugikan anda sebagai wanita di hadapan_Nya kelak.

Dan begitu pula dengan yang lainnya. Seperti, keasikan nonton sinetron, ngomongin orang, melalaikan pendidikan anak, dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu akan sedikit terkontrol dengan anda mendapatkan seorang lelaki yang agamanya baik.

  • Meskipun tidak musti, tapi alangkah baiknya kalau anda sebagai perempuan memilih laki-laki dengan kekayaan yang cukup. Bahkan kalau bisa harus melebihi kekayaan keluarga asal anda. Karena apa, karena memang secara logika, anda sebagai seorang isteri akan merasa sedikit ikhlas untuk melayani suami anda, seandainya kebutuhan anda sebagai isteri telah terpenuhi.

Oleh karena itu, sudah semestinya bagi seorang wanita untuk melihat kepada dirinya sendiri sebelum menerima pinangan dari seorang lelaki. Liahtlah kejelekan-kejelekan yang anda punya ( musti diingat, bahwa kejelekan-kejelekan itu adalah sebuah hal yang wajar adanya. Dan memang diperuntukan bagi kaum perempuan. Atau dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan kejelekan-kejelekan itu).

Seandainya anda sebagai perempuan tidak dapat berpakaian seadanya, kosmetik seadanya, rumah seadanya, dan lain sebagainya, maka jangan pernah anda memilih seorang lelaki yang penghasilannya dibawah kebiasaan anda itu. Karena hal itu akan sangat mempengaruhi kualitas bakti anda kepada suami. Yang akan berujung kepada dosa pada akhirnya.

  • Meskipun tidak musti, tapi alangkah baiknya kalau anda sebagai perempuan memilih laki-laki dengan rupa yang paling tampan dan rupawan yang mungkin anda bisa dapatkan. karena memang, meskipun tidak musti, tapi sudah menjadi sebuah kewajaran, apabila seseorang lebih menghargai dan lebih mencintai seseorang yang rupawan. Yang sudah barang tentu, akan membantu anda sebagai perempuan, dalam hal menunaikan baktinya kepada suami.
  • Meskipun tidak musti, tapi alangkah baiknya kalau anda sebagai seorang perempuan memilih laki-laki yang keturunan orang-orang hebat di bidang agama. Semakin hebat orang tua suami kita, akan semakin baik dampaknya. Karena rasa segan kita terhadap mereka ( orang tua suami anda ) akan membantu anda dalam hal melakasanakan bakti kepada suami.

Perbedaan pria dan wanita dalam memilih

Rasulallah bersabda,

“perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya,  dan karena agamanya. Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Telah saya sebutkan, bahwa perkataan di atas bukanlah sebuah suruhan, tapi penjelasan. Rasualallah menjelaskan, bahwa seorang lelaki biasanya akan memilih perempuan untuk mereka nikahi karena empat perkara : yaitu harta, kecantikan, keturunan dan agama. Dan itu bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini. Dan diakhir penjelasannya, Rasulallah berkata “ Utamakanlah memilih karena agamanya, niscaya kamu selamat”. Dan yang ini, baru suruhan. Artinya apa…? artinya, pemilihan perempuan berdasarkan kepada harta, kecantikan dan keturunan itu, benar-benar tidak di anjurkan. Dan ada kecenderungan membuat kita celaka.          ( baca lagi uraian saya di atas ). Dan begitu juga dengan perempuan.

Namun demikian, ada perbedaan yang mendasar prihal bagaimana seorang perempuan dan seorang lelaki, dalam memandang dan memaknai hadist tadi di atas. Yang kesemuanya itu, akan berdampak kepada mulus tidaknya perjalanan rumah tangga mereka kelak. seorang laki-laki harus menjadikan kewajiban dia sebagai pemimpin, sebagai tolak ukur dalam memilih pasangannya. Sedangkan seorang perempuan akan mempunyai tolak ukur yang berbeda. Yaitu, kewajiban dia dalam hal berbakti kepada seorang suami.

Itulah kiranya perbedaan yang sangat mendasar daripada seseorang dalam hal memandang sebuah keterangan. Hanya satu yang sama, yaitu dipilihnya agama sebagai acuan utama. Baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan.

Oleh karena itu, sudah pada tempatnya jika seorang perempuan jangan menikahi laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya laki-laki  budak lebih baik daripada laki-laki musyrik, walaupun laki-laki itu menarik hatimu.

Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Al-Baqarah : 221 )

Alangkah baiknya kalau kembali lagi mengulang mengenai bab laki-laki. Sebagai pendalaman dan pemahaman masalah.

An-Nisaa’ : 34

Allah berfirman :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( An-Nisaa’ : 34 )

Dikatakan dalam firman Allah di atas, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagai kaum wanita. Sedangkan arti pemimpin menurut orang bodoh adalah, seseorang yang mengemban tugas untuk membawa yang dia pimpin, supaya bahagia di dunia ( kasat mata materi ) dan bahagia di akhirat ( surga ).

Lalu, apakah syarat seorang manusia supaya bisa masuk surga….?

Seorang bisa masuk surga jika, orang itu mengerjakan semua yang diperintahkan oleh yang punya surga dan menjauhi semua yang dilarang oleh yang empunya surga. Yaitu Allah. Oleh karena itu, setiap lelaki yang beragama islam di dunia ini musti menyadari, bahwa membawa yang mereka pimpin untuk mencapai surga adalah sebuah kewajiban. Di mana setiap kewajiban akan mempunyai dampak yang bersebrangan. Pahala jika dikerjakan dan dosa jika diabaikan.

Tapi ingat….! saya katakan di sini, pahala jika dikerjakan dan dosa jika diabaikan. Sedangkan untuk hasilnya itu sendiri, Allah lah yang menentukan. Artinya apa …..?

Contoh

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. ( An-Nuur : 31 )

Catatan : dalam contoh ini, saya persempit hanya pada cara berpakaian.

Kalau kita melihat firman Allah di atas, ada beberapa hal yang musti kita kerjakan. Yang diantaranya,

  • Tanamkan dalam hati kita, bahwa memakai pakaian yang islami bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban.
  • Dosa seorang isteri yang tidak berpakaian islami, akan menjadi tanggungan kita di akhirat kelak sebagai seorang pemimpin. Bila terjadi pembiaran.

Lalu bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah ini…..?

Katakanlah Muahammad, “apakah patut aku mencari tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. Dan akan diberitahukan_Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan”. ( Al-An’am: 164 )

Kalau melihat firman Allah di atas, mungkin banyak di antara pembaca yang berujar seperti ini, “ Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.”

Kita harus tahu dan menyadari, bahwa firman Allah ini diperuntukan bagi sesuatu yang Allah ciptakan. Yaitu manusia. Setiap manusia ( laki-laki dan perempuan ) sama dalam hal memandang firman Allah tadi. Bahwa setiap manusia ( laki-laki dan perempuan ) bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Dan seseorang itu tidak akan memikul beban dosa orang lain. Selama Allah tidak berkehendak lain atas dirinya.

Lalu apa kehendak Allah atas diri manusia…..?

Banyak. Yang diantaranya adalah, ketika kita beranjak dewasa, maka menikahlah kita. Yang laki-laki dinamakan pemimpin, dan yang perempuan yang dipimpin. Oleh karena itu, seiring dengan kehendak Allah terhadap manusia tadi, maka bertambah pulalah ketentuan yang Allah berikan kepada manusia tersebuat. Yang dipimpin harus bagaimana dan yang dipimpin harus bagaimana. Yang mana hal itu merupakan kelanjutan daripada ketentuan Allah akan makhluknya. Dan lain sebagainya.

Sebuah dongeng

Diceritakan tadi , ada seorang pemuda bernama Fulan. Kalau dilihat dari keadaannya, nampaknya dia termasuk seorang pemuda yang berkecukupan. Cukup jelek, cukup miskin dan cukup bodoh. Pokoknya, dialah pemuda yang paling berkecukupan di kampungnya. Dan karena kecukupannya itulah, saat ini dia masih menjomblo. Semenjak ditinggal oleh kedua orang tuanya, dia hidup dalam kesendirian. Hanya agamalah yang menjadi teman kesehariannya. Karena itulah memang yang paling murah dan mungkin untuk seorang yang berkecukupan seperti itu. Dan dalam kesendiriannya itu dia tidak akan memikul dosa orang lain.

Katakanlah Muahammad, “apakah patut aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. Dan akan diberitahukan_Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan”. ( Al-An’am: 164 )

Singkat cerita, setelah sekian lama menunggu dan berusaha, bisa juga pemuda yang bernama fulan tersebut menikah. Alangkah bahagianya perempuan yang mendapatkan pemuda setia seperti Fulan ( karena memang nggak ada yang mau ). Dan karena kehendak Allah itulah maka Fulan jadi memegang dua tanggung jawab. Yaitu tanggung jawab untuk dirinya sendiri, dan tanggung jawab untuk isterinya. Tapi meskipun demikian, firman Allah tadi di atas tetap berlaku untuk setiap keadaan. Setelah mereka melaksanakan ketentuan lain yang telah ditetapkan.

Contoh :

Ketika Fulan masih sendiri, maka berlakulah ketentuan Allah yang mengatakan bahwa seseorang tidak akan menanggung beban dosa orang lain. Namun ketika dia menikah, Allah pun sudah menyediakan ketentuan lain atas yang namanya Fulan. sejalan dengan perubahan status yang dia miliki. Tanpa merubah ketentuan pertama       ( seseorang tidak akan menanggung beban dosa orang lain ). Dan ketentuannya itu berupa, Allah berfirman :

“ kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain.” ( An-Nisaa:34)

Rasulallah saw bersabda :

hadist riwayat Ibnu Umar ra, Rasulallah saw bersabda “ ketahuilah ! masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpin, seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya. Dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, ketentuan bahwa Fulan ( sebagai suami ) tidak akan menanggung beban dosa orang lain akan berlaku apabila Fulan ( sebagai suami ) telah menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin terhadap orang yang dia pimpin.

Seperti :

Ketika dia tahu akan kewajiban seorang perempuan dalam hal mengenakan pakaian yang islami, maka minimal Fulan harus melaksanakan nasehat-menasehati dan berdakwah kepada seorang perempuan, yaitu isterinya sendiri. Tidak ada opsi selemah-lemahnya iman kalau sudah menyangkut masalah tanggung jawab. Karena memang, berdakwah dan nasehat-menasehati harus menjadi kesanggupan seorang suami atas isterinya. Oleh karena itu, ada dua kemungkinan yang akan didapat seandainya isteri dia tidak mau mengenakan kerudung. Yaitu berdosa jika dia membiarkannya, dan tidak berdosa jika dia telah melaksanakan nasehat sekemampuannya.

Dengan kata lain, Fulan akan menanggung beban dosa orang lain ( isterinya ) seandainya terjadi pembiaran dan Fulan tidak akan menanggung beban dosa orang lain ( istrinya ), jika dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menasehatinya. Adapun yang dimaksud dengan berusaha sekuat tenaga dalam menasehati disini, dapat dilakukan dengan berbagai cara. misal : dengan ucapan, tidak membelikan pakaian yang tidak islami, tidak mau bepergian bareng kecuali dia berpakaian islami, dan lain sebagainya. Pokoknya selama Fulan ( sebagai suami ) telah melakukan berbagai cara dalam hal mengajak si isteri dalam mengenakan pakaian yang islami semaksimal yang bisa dia perbuat, maka mudah-mudahan Fulan ( sebagai suami ), tidak akan menanggung beban dosa orang lain ( isterinya ) bisa terlaksana. Dalam hal memakai pakaian yang islami. Tapi jika sebaliknya, maka dosa si isteri yang tidak mau berpakaian islami itu akan menjadi dosa Fulan sebagai suami.

THAHA : 132

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” ( Thaha : 132 )

Ada beberapa poin yang kita dapatkan dari firman Allah di atas,

  • Firman Allah di atas, ditujukan untuk lelaki.
  •  “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat” dan itu berarti, Allah mengharuskan setiap lelaki memerintahkan kepada keluarga mereka untuk mendirikan shalat. Dan dosa si isteri akan ditanggung oleh suami bila terjadi pembiaran. ( lihat contoh pembiaran di atas )
  •  “ Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” Itu berarti, memerintahkan keluarga kita untuk shalat adalah sebuah hal yang sulit. Dan sudah barang tentu, ada pahala dan dosa di dalamnya. Di mana pahala dan dosanya itu, akan sangat berhubungan erat dengan teori pembiaran tadi. ( lihat teori pembiaran di atas ).
  • “Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu.” Dan ini berarti, bagi seorang lelaki, tidak selayaknya bekerja keras siang dan malam guna memberikan nafkah kepada keluarganya, sehingga melupakan kewajiban kita kepada Allah. Karena meskipun Allah telah membebankan wanita dan anak-anak kepada laki-laki prihal nafkah lahir mereka, itu bukan berarti Allah meminta rizki kepada kita  sebagai laki-laki. Karena memang, Allah telah menyertakan rizki itu kepada anak dan isteri kita. yang akhirnya menjadi rizki kita sebagai suami.
  • “Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”  Dan ini berarti, mengutamakan Allah dalam segala hal adalah yang terpenting dalam kehidupan ini, tak terkecuali prihal materi sekalipun.
  • Bagi laki-laki yang belum menikah dan yang sudah menikah ada sedikit perbedaan dalam memandang firman Allah tadi di atas. Kalau bagi laki-laki yang sudah menikah, itulah yang musti di lakukan. Sedangkan untuk laki-laki yang belum menikah, sanggupkah malakukannya….? Bila sudah sanggup…, menikahlah….! Kalau belum sanggup…., usahakanlah…..!

Tulang rusuk

            Dari Abu Hurairah r.a. katanya, berkata Rasulallah saw : “ jenis wanita itu di ciptakan dari tulang rusuk dan tidak dapat lurus menurut satu cara saja. Jika anda merasa senang dengan dia, itu lumrah, tetapi bengkoknya tetap ada. dan jika anda mencoba meluruskannya, dia patah. Dan patah di sini adalah cerai. “ ( HR. Muslim )

Begitulah kiranya, ketika Rasulalla saw mengambarkan hubungan antara seorang lelaki dan seorang wanita yang dipimpin. Oleh karena itu, setiap lelaki yang beragama islam harus memahami, bahwa menuntun mereka ( isteri-isteri ) dalam menaetapi jalan menuju surga itu bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu ada kesabaran di dalamnya. Dan itu tergambar dalam perkataan beliau “ jenis wanita itu di ciptakan dari tulang rusuk dan tidak dapat lurus menurut satu cara saja.”

Ada beberapa poin yang saya dapatkan dari perkataan Rasulallah di atas,

  • semua laki-laki muslim harus menyadari, bahwa tugas mereka sebagai pemimpin, bukanlah perkara yang mudah.
  • Semua laki-laki muslim musti tahu, bahwa laki-laki sebagai pemimpin, akan terbentur kepada kekerasan dan kerapuhan wanita yang akan kita pimpin. Oleh karena itu, cara-cara kita dalam meluruskan tulang rusuk ( isteri  ), akan menjadi seni tersendiri dalam hal kita memimpin. Yang akan berbuah pahala tentunya.
  • Tidak dapat lurus dengan satu cara saja “  dan itu berarti, masih bisa diluruskan. Tergantung bagaimana kita meluruskanya. atau bisa juga berarti, meskipun tidak lurus sekali, tapi kalau berubah menjadi tidak terlalu bengkok masih mungkin.
  • Perasaan senang kepada wanita itu lumrah, tapi jangan sampai menghambat kita dalam mengemban kewajiban sebagai pemimpin.
  • Dalam memimpin perlu kehati-hatian. Karena kalau tidak hati-hati, cerailah hasilnya.

Bila seorang lelaki lagi pengen

Dari Abu harairah r.a. katanya : bersabda Rasulallah saw,”demi Allah swt, tiap-tiap isteri yang menolak ajakan suaminya untuk berkelamin, niscaya malaikat-malaikat di langit akan mela’natnya sebelum marah suaminya hilang.” ( HR.Muslim)

Seperti biasa, hampir pada setiap perintah terhadap seseorang, itu akan berdampak kepada seseorang yang lainnya. Maka daripada itu, inilah kiranya yang musti dilakukan oleh pasangan suami isteri prihal memandang dan memahami perkataan Rasulallah di atas.

Seorang isteri

Sudah selayaknya apabila seorang isteri mengetahui hal ini. Bahwasanya malaikat-malaikat di langit akan melaknat tiap-tiap isteri yang menolak ajakan suaminya berkelamin sampai marah suaminya hilang. Oleh karena itu, inilah kiranya yang musti dilakukan oleh para isteri prihal melayani suaminya berkelamin.

  • Dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, usahakanlah untuk selalu siap.
  • Kalaupun seandainya suatu ketika anda benar-benar tidak mau melakukannya, maka usahakanlah untuk tidak membuat mereka ( para suami ) marah. Karena dalam hal ini, bukan penolakannya yang menjadi masalah, tapi marahnya itulah yang akan berbuah la’nat daripada para malaikat.oleh karena itu, usahakanlah memberikan penolakan yang tidak akan berakibat pada kemarahan suami.

Memberi nafkah

Allah berfirman :

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” ( Al-Baqarah : 233 )

Hendaknya seorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya sesuai dengan kemampuannya. Atau dengan kata lain, berikanlah apa-apa yang telah Allah berikan. Jangan mengada-ada dan jangan membuatnya tidak ada.

Contoh :

Ketika seorang lelaki berpenghasilan Rp. 15.000 per hari, maka itu artinya, Rp.15000 per hari itulah yang layak untuk menafkahi isteri-isterinya.

Namun pertanyaannya, bagaimana kalau kurang….?

Kurang dalam memberikan nafkah kepada keluarga, akan mempunyai dua dampak dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

  • Pahala ketika seorang lelaki dapat bersabar karenanya.
  • Berdosa ketika seorang lelaki tidak dapat bersabar karenanya.

Tidak sabar dalam hal ini misal, menghalalkan riba, bekerja keras sehingga meluapakan kewajibannya kepada sang pencipta, meminta-minta dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, kewajiban lelaki dalam hal memberikan nafkah kepada keluarganya hanya sebatas kemampuannya. Kalau seorang lelaki tidak dapat memberikan kepada isterinya baju yang bagus dan banyak, maka tiada dosa bagi lelaki itu. Kalau seorang lelaki tidak dapat memberikan kepada isterinya kosmetik dan perhiasan, maka tiada dosa baginya. Begitupun dengan makanan enak, perabotan rumah tangga, rekreasi dan lain sebagainya. Kesemuanya itu tidak akan menjadikan dosa bagi lelaki tadi. Apalagi kalau dengan keperluan-keperluan yang mubah seperti, arisan, fitnes, shopping dan lain sebagainya.

Hanya memang mungkin, kita sebagai manusia selalu beranggapan bahwa “ servis yang didapat akan berbanding lurus dengan yang telah kita berikan….!” Lalu, salahkah bila demikian….?

Saya kira nggak….! Itu adalah sesuatu yang manusiawi. Karena pada dasarnya, seorang wanita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan yang seperti itu. Yang diantaranya,

  • Wanita kepengen pakaian yang bagus
  • Wanita kepengen berdandan
  • Wanita kepengen kosmetik supaya kelihatan cantik dan dibilang cantik
  • Perabotan rumah tangga kepengen yang bagus
  • Suka dipuji
  • Dan lain sebagainya.

Dan itulah diantaranya kesalahan-kesalahan wanita yang manusiawi. Kenapa saya katakan mausiawi…? Karena memang, kesalahan-kesalahan di atas, ada karena ketentuan Allah kepada yang namanya wanita. Agama tidak akan berpengaruh dalam hal ini. Wanita yang agamanya baik dan yang agamanya tidak baik, akan sama dalam hal ini.  Bila wanita tidak baik kepengen pakaian bagus, begitu pula dengan wanita yang baik. Bila wanita tidak baik kepengen kelihatan cantik, begitu pula dengan wanita yang baik. Dan lain sebagainya. Karena memang, wanita baik dan wanita yang tidak baik, bukan dibedakan dari ada tidaknya keinginan tadi, tapi dari bagaimana mereka ( wanita-wanita itu ) memanage keinginan-keinginan mereka itu.

Oleh karena itu, seorang lelaki bisa dikatakan suami yang baik, apabila dia bisa memanage kesalahan-kesalahan wanita yang manusiawi tadi.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya, berkata Rasulallah saw : “ jenis wanita itu di ciptakan dari tulang rusuk dan tidak dapat lurus menurut satu cara saja. Jika anda merasa senang dengan dia, itu lumrah, tetapi bengkoknya tetap ada. dan jika anda mencoba meluruskannya, dia patah. Dan patah di sini adalah cerai. “ ( HR. Muslim )

Lagian dalam urusan ini, tidak semua kesalahan itu bertumpu pada wanita. Karena lelaki juga sebagai pemimpin, sering berlebihan dalam berbagai hal, yang diantaranya :

  • Merokok
  • Memprioritaskan hoby. Seperti, mancing, berburu, olah raga dan lain sebagainya.
  • Kepengen dibilang mampu, padahal enggak.
  • Rasa cinta kepada istrinya yang berlebihan. Sehingga ada kecenderungan untuk mengabulkan semua permintaan mereka. Bahkan yang mubah sekalipun.

Contoh :

Suatu ketika, istri kita meminta baju yang harganya diluar jangkauan kita sebagai kepala keluarga. Dan itu wajar adanya. Padahal kadang kala, mereka ( sebagai isteri ) hanya kepengen. Karena pada dasarnya, mereka juga tahu berapa penghasilan kita sebenarnya….!

Dan di sinilah kesalahan itu dimulai. Karena rasa cinta kita sebagai lelaki terlalu berlebihan kepada mereka, maka banyak para lelaki yang akan berusaha untuk memenuhi permintaan isterinya tadi. dan terjadilah yang seperti kita lihat sekarang ini, riba halal, korupsi, sikat sana sikat sini, dan lain sebagainya.

  • Isteri menjadi gengsi tersendiri bagi para suami. Banyak para suami yang memakai isterinya sebagai lambang kesuksesan dari berusaha.
  • Dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi suami yang baik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berikanlah nafkah kepada keluarga kita itu, sekemampuan kita.

Tapi ingat….! Itu jika kita tidak mampu. Dan bagaimana kalau kita mampu….!

Allah berfirman :

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”      ( Ath-Thalaq : 7 )

Seandainya kita sebagai lelaki mampu, maka ketika isteri kita kepengen baju bagus, berikanlah. Ketika isteri kita kepengen kosmetik, belikanlah. Dan begitupun dengan yang lainnya. Karena meskipun itu semua kelihatannya kurang bermanfaat di hadapan Allah, tapi memang seperti itulah wanita. Karena satu hal yang musti kita ingat, semua sifat-sifat jelek yang ada pada wanita itu ( kalau memang jelek ), adalah pemberian Allah kepada mereka, sebagai penguji keimanan kita sebagai lelaki.

Karena yang terpenting dalam hal ini adalah, bukan bajunya, bukan kosmetiknya, bukan pula perhiasannya. Tapi apa dampak dari semuanya. Kalau memang dampaknya bisa menambah keharmonisan kita dalam berumah tangga ataupun dapat menambah tegaknya kepemimpinan kita sebagai lelaki, mengapa nggak….? Dan itu akan jadi berbeda seandainya mempunyai dampak yang sebaliknya.

An-Nisaa’ : 9

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” ( An-Nissa’ : 9 )

Kalau kita perhatikan, firman Allah yang ini juga sangat erat kaitannya dengan nafkah lahir. Dalam firman Allah di atas, Allah mengatakan, maka sudah sepantasnya bahkan mungkin sebuah keharusan, bila kita sebagai orang tua, meninggalkan di belakang kita anak-anak yang lemah. Arti lemah di sini, bisa berarti materi dan juga lemah iman. Dan lemah imanlah yang paling utama. Sehingga kita takut, akan kesejahteraan mereka ( anak-anak kita ) kelak.

Coba kita lihat kenyataannya sekarang…..!

Kita sebagai orang tua lebih takut kepada sesuatu yang belum terntu, yaitu masa depan anak-anak kita. seandainya kita meninggalkan di belakang kita anak-anak yang lemah dalam hal materi. Padahal yang benar adalah, kita musti takut kepada Allah, yaitu dengan cara, kita sebagai orang tua, bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengucapkan hal-hal yang benar. Karena memang itulah suruhan yang empunya materi. Atau dengan kata lain, kita sebagai orang tua, akan lebih senang meninggalkan materi yang banyak untuk kebahagiaan anak kita kelak, daripada meninggalkan amal-amalan kita ( sebagai orang tua ) yang baik. Karena memang pada dasarnya, kebahagiaan anak-anak kita kelak, akan terpengaruh oleh prilaku kita sebagai orang tua dimasa kita hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” ( Al-Kahfi : 77 )

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” ( Al-Kahfi : 82 )

Kedua firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, berasal dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Khaidir dan Nabi Musa A.S.

Pada suatu waktu ( dalam perjalanan mereka ), sampailah keduanya ke sebuah negeri. Di mana dikisahkan di sini, keduanya mendapatkan dalam negeri itu, dinding rumah yang hampir roboh. Maka Nabi Khaidirpun menegakan dinding itu.

Dan inilah kiranya perkataan Nabi Khaidir prihal dinding rumah yang di tegakan….!

“ dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannnya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Beberapa point penting pada perkataan Nabi Khaidir di atas.

  • Nabi Khaidir menegakan dinding rumah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Lalu pertanyaannya, apakah Nabi Khaidir secara kebetulan lewat dan membetulkan dinding rumah kepunyaan dua orang anak yatim tadi….? tidak…..! itu semata karena kehendak Allah. Yang disebabkan oleh ayah mereka ( kedua anak yatim tadi  ) yang shaleh.
  • Dalam hal ini saya kurang faham, apakah simpanan di sini maksudnya adalah simpanan si ayah kedua orang anak tadi ataukah Allah yang menyimpan…? Tapi yang jelas, Allah telah memberikan rizki kepada kedua anak yatim tadi, dikarenakan ayah mereka yang shaleh. Bahkan Allah telah menyiapkannya jauh-jauh hari. Dan menjaganya.
  • Dan inilah yang terpenting. “ dan bukanlah aku melakukannya atas kemauanku sendiri”. Dan itu berarti, kesejahteraan anak-anak kita kelak, akan tergantung kepada kehendak Allah. Sedangkan kehendak Allah itu sendiri, akan dipengaruhi oleh prilaku kita sebagai ayahnya.

Lalu bagaimana dengan firman Allah di bawah ini,

            “Itu adalah ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Al Baqarah1:134,141)

            Yang saya tahu, firman Allah pada Al-Baqarah : 134 adalah merupakan lanjutan daripada firman Allah di bawah ini,

            “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” ( Al-Baqarah ; 133 )

Dan begitu juga denga firman Allah pada Al-Baqarah : 141.

Oleh karena itu, setelahnya saya membaca Al-kahfi lalu saya baca juga Al-Baqarah di atas, maka inilah yang saya dapat,

  • Apabila kita ( sebagai orang tua ) menjadi orang yang shaleh selama kita hidup di dunia, maka Allah akan menyayangi dan memperhatikan keturunan kita kelak di kemudian hari.
  • Namun demikian Allah pun mempunyai ketetapan lain yaitu, “…. baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Al Baqarah1:134,141). Dan ini berarti, meskipun memang orang tua yang shaleh itu akan menjadi salah satu referensi bagi Allah dalam hal menyayangi dan memperhatikan anak keturunan kita, tapi itu tidak akan berarti apa-apa tanpa prilaku yang baik daripada anak keturunan kita di masa yang akan datang.
  • Oleh karena itu, firman Allah yang ada pada surat Al-Baqarah lebih kuat kedudukannya dibandingakan dengan firman Allah yang ada pada surat Al-Kahfi dalam permasalahan ini.

Baiklah, untuk lebih mudah dalam memahaminya, saya akan contohkan dalam  keadaan yang sebenarnya.

  • Dimisalkan di sini, kita sekeluarga tinggal di rumannya Tuan A. dan biasa mengerjakan setiap pekerjaan yang ada di rumah itu. ( pembantu ).
  • Kelakuan kita yang baik selama menjadi pembantu di rumahnya Tuan A, akan menjadi referensi bagi Tuan A, dalam hal menyayangi anak kita. bahkan mungkin sampai kita meninggal. Dia ( Tuan A ) akan tetap merawat dan menyayangi anak kita itu. ( Al-Kahfi )
  • Namun demikian, sayang tidaknya Tuan A kepada anak kita setelahnya kita meninggal, akan sangat bergantung kepada prilaku anak kita itu sendiri. ( Al-Baqarah ). Karena memang, prilaku kita yang baik itu ( Al-Kahfi ) hanya sebagai pendukung daripada kebaikan Tuan A tadi.
  • Dan sebagai orang tua yang baik, yang bekerja pada Tuan A, maka kita harus mendidik anak kita supaya menjadi manusia yang tahu diri. Kita sebagai orang tua harus menjelaskan siapa dia dan siapa Tuan A. kita sebagai orang tua harus menjelaskan apa-apa yang disukai ataupun yang tidak disukai oleh Tuan A.dan lain sebagainya. Dan memang itulah yang harus dilakukan apabila kita sebagai orang tua merasa ada ketergantungan kepada keluarga Tuan A. Dengan pengharapan keluarga Tuan A akan merawat dan menyayangi anak kita selayaknya mereka merawat dan menyayangi kita sebagai orangtuanya. ( llihat sinetron……! )

Dan inilah kiranya kesimpulan dari bahasan ini. ( saya misalkan dalam masalah rizki )

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” ( An-Nissa’ : 9 )

Seandainya para orangtua takut akan penghidupan anak-anak sepeninggal mereka, maka takutlah kepada Allah. Atau dengan kata lain jadilah orang baik. Dan ini dibuktikan pada kisah di dalam surat al-kahfi,

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” ( Al-Kahfi : 82 )

Kalau kita renungkan firman Allah di atas, Allah akan memperhatikan keturunan kita minimal sampai mereka dewasa. Atau dengan kata lain, sampai mereka bisa di kenai oleh firman Allah yang di bawah ini,

            “Itu adalah ummat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Al Baqarah1:134,141)

Dan bukankah, orang tua yang shaleh selalu mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang baik…..? yang mana, kepribadian yang baik adalah warisan terbaik yang dapat menjamin kehidupan anak-anak kita  kelak….! Dan itulah inti dari bahasan ini….!

 

At-taghaabun : 14-15

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” ( At-Taghaabun : 14-15 )

Ada beberapa poin penting dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas. Yang diantaranya,

  • Hai orang-orang yang mukmin….! Ini berarti, yang bukan mukmin enggak hai….! Atau dengan kata lain, ini khusus untuk orang-orang mukmin.
  • Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu, dan ini berarti, firman Allah di atas ditujukan untuk kaum laki-laki.
  • Ada yang menjadi musuh, dan ini berarti, anak-anak dan isteri-isteri kita adalah sesuatu yang dapat membuat seorang lelaki melupakan tujuan hidup sebenarnya di dunia.
  • Sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh. Baiklah…, untuk yang ini perlu penjelasan lebih lanjut.

Dalam firman Allah di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “di anatara isteri-isterimu,  yang berarti tidak semua wanita, akan menjadi musuh kita sebagai lelaki. Namun demikian, mungkin para pembaca berpendapat, bahwa isteri-isteri yang tidak baiklah yang di maksud pada firman Allah di atas. Tapi kalau menurut penulis, isteri-isteri di sana, tidak dibatasi oleh baik tidaknya prilaku dari pada wanita yang menjadi isteri kita. Tapi…., di antara isteri-isterimu. Mau isteri-isteri nya itu baik ataupun tidak, tapi pasti ada yang menjadi musuh bagi kita sebagai seorang suami.

Contoh :

Anggaplah pada contoh ini, kita menjadi seorang suami dari seorang isteri yang baik. Dimana dalam contoh ini saya akan membuktikan, bahwa dengan kita beristerikan seorang yang baikpun, masih bisa terkena dengan firman Allah di atas.

Catatan :

Dalam sebuah perkawinan, ada dua aktor penting yang terkandung di dalamnya. Yaitu laki-laki dan perempuan. Di mana kedua aktor tadi hanyalah sebagai cangkang. Karena yang paling dominan dalam berhasil tidaknya sebuah perkawinan itu tidak terletak pada sebuah cangkang. Tapi isilah yang paling banyak berpengaruh. Meskipun memang tidak bisa dipungkiri, bahwa cangkang akan sangat mempengaruhi isi. ( tapi tidak musti ). Lalu apa yang dimaksud dengan cangkang dan isi….?

Cangkang adalah seperti apa seseorang nampak….! Cantik, jelek, tampan, ustadz, perampok, penjudi, dan  lain sebagainya. Itulah cangkang. Sedangkan isi adalah watak yang di bawa oleh seseorang sebagai pemberian Alla Subhanahu wa Ta’ala sejak lahir. Seperti, keras, sombong, penyayang, sabar, dan lain sebagainya. Contoh :

Dalam menghadapi salah satu sifat jelek daripada isteri, belum tentu yang namanya ustadz lebih sabar bila dibandingkan dengan seorang perampok. Meskipun memang dalam hal ini, ilmu yang dimiliki oleh ustadz tadi akan sangat membantu dia dalam bersabar, tapi itu belum jaminan dan tidak pasti. Karena watak akan lebih berpengaruh daripada ilmu.

Oleh karena itu inilah bukti-bukti itu,

  • Ketika kita sedang bercengkarama dengan anak isteri kita, berkumandanglah adzan. Maka tidak semua lelaki dapat segera beranjak untuk menunaikan kewajibannya itu, karena apa….? karena mereka sedang asyik bercengkrama denga anak dan isterinya. Dan itu berlaku untuk laki-laki baik apalagi sama laki-laki yang nggak baik.

Mungkin ada pembaca yang berujar seperti ini, “ tapi kan kalau memang isterinya itu seorang isteri yang baik, pasti dia ngingetin perihal kewajiban kita itu…..!

Ya memang…..! tapi itu tidak musti bakal di turuti. Itu semua tergantung daripada karakter lelaki tadi.

  • Berapa banyak laki-laki yang terjebak kepada kerja keras tak kenal waktu. Untuk siapa itu….? Untuk anak isterinya. Apakah isterinya itu tidak ngingetin….? Ngingetin, bahkan yang agak keraspun ada. tapi semuanya itu tidak musti dituruti oleh sang suami. Karena memang itu, sekali lagi merupakan karakter daripada seseorang……

Oleh karena itu, isteri yang baik bukanlah faktor penentu daripada berhasil tidaknya sebuah perkawinan. Apalagi yang nggak baik. Karena memang sebuah perkawinan yang baik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala harus mengandung beberpa unsur baik. Yang terutama isi dari pada kedua belah pihak.

Kita ambil contoh yang  pertama tadi. ketika sedang asik bercengkrama dengan isteri kita, tiba-tiba berkumandanglah adzan. Maka  si isteri bilang, “ pak udah adzan, shalat gih….!” Kenapa perkataan isteri yang baik tadi tidak banyak membantu akan hal mengingatkan sang suami perihal mensegerakan shalat…..? karena perkataan yang diucapakan si isteri tadi adalah sebuah ilmu. Bukan karakter ataupun keimanan.

Sekarang kita ambil contoh yang kedua. Mungkin pada saat melihat kita bekerja keras, sehingga melupakan kewajiban kita terhadap_Nya, isteri kita akan berujar, “ pak sudahlah, tidak usahlah seperti itu, tidak usah bapak mengejar-ngejar materi sampai  lupa sama yang ngasih materi itu sendiri….!” Lalu kenapa perkataan isteri kita itu sulit kita terima….? Karena memang pada kenyataannya, mereka ( para isteri ) akan senang menikmati hasil yang kata mereka nggak usah itu. Dan di sanalah letak perbedaan antara perkataan yang mengandung ilmu dan perkataan yang berasal dari karakter dan keimanan. Karena kalau sudah karakter dan keimanan yang berbicara, si isteri tadi tidak akan senang dengan apa yang kita dapat dari hasil kerja keras tadi. sama seperti ketika kita sedang bercengkerama. dia suruh kita shalat, dan diapun dengan senang hati terus bercengkerama dengan kita. itulah wanita atau isteri yang baik, apalagi kalau yang nggak baik….! Kebayang kan….!

Jadi begitulah kira-kira. Seorang isteri yang baik ataupun yang tidak baik mempunyai kedudukan yang sama dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas. Oleh karena itu, apabila seorang isteri yang baik saja bisa menjadi musuh kita sebagai suami, apalagi yang tidak baik….?

An-Nisaa’ : 19

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”( An-Nisaa’ : 19 )

seorang lelaki tidak patut untuk menceraikan isteri-isterinya, tanpa alasan yang kuat. Oleh karena itu, ada beberapa point yang musti menjadi pemikiran setiap lelaki sebelum menceraikan isteri-isteri mereka. Yang diantaranya,

  • Setiap lelaki mesti ingat….! Tujuan daripada laki-laki menikah selain daripada kepengen “titik-titik” dan punya anak, adalah membimbing isteri kita supaya menetapi jalan menuju surga. Oleh karena itu, hanya laki-laki yang kalahlah yang menginginkan perceraian. Atau dengan kata lain, hanya laki-laki yang sudah tidak sanggup memimpinlah yang berlaku demikian. ( minimal kepada isteri-isteri yang ingin mereka ceraikan ).
  • Hanya satu alasan yang pantas bagi seorang lelaki yang ingin menceraikan isteri-isterinya. Yaitu, mereka sudah tidak sanggup lagi menjalankan kepemimpinannya kepada isteri-isteri mereka prihal menjalankan hukum-hukum_Nya Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya]. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.”  ( Al-Baqarah : 229 )

  • Jangan pernah mengukur kekejian seorang wanita dengan kesempurnaan wanita shaleha. Artinya apa….?

Seorang wanita yang shalat alakadarnya, tidak dapat dikatakan wanita keji ( wanita keji di sini diartikan sebagai wanita yang layak di cerai oleh suaminya ), seandainya wanita itu tidak pernah shalat ketika belum menikah. Karena memang, memperbaiki akahak seorang perempuan adalah kewajiban kita sebagai pemimpin. Bukan membuat mereka menjadi wanita yang sempurna. Karena itu adalah hak Allah semata.

  • Jika kita ( sebagai lelaki ) tidak mau disebut kalah maka, seorang lelaki layak menceraikan isteri-isterinya jika,
    • Ada kemerosotan akhlak, dari wanita yang kita nikahi. Kalau kita lihat dari akhlak semula, sebelum menikah dengan kita.
    • Tidak ada perubahan akhlak, dari wanita yang kita nikahi. Kalau kita lihat dari akhlak semula, sebelum menikah dengan kita.
    • Jika akan timbul banyak dosa jika kita mempertahankannya. Sementara dosa itu sendiri bisa timbul dari lingkungan, wanita bahkan dari kita sendiri.

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Dan ini berarti, jika semua kriteria-kriteria di atas sudah mencukupi dalam hal kita menceraikan isteri-isteri kita, maka alangkah baiknya seandainya kita bersabar ( tidak menceraikan isteri-isteri kita ). Karena dibalik sesuatu yang kita tidak suka daripada isteri kita itu, mungkin Allah menjadikan berbagai kebaikan padanya. Yang diantaranya,

  • Pahala yang banyak
  • Anak-anak yang baik
  • Rizki yang banyak
  • Dan sebagainya.

Mengapa islam menghalalkan penceraian….?

Saya kira, hanya orang bodoh bin tolol lah yang mempertanyakan hal itu. Karena apa…., karena memang, dua orang yang bermusuhan tidak mungkin lagi berada dalam sebuah ikatan. Karena memang, dua orang yang bersebrangan akan sangat beresiko jika terus bersatu. Dan lain sebagainya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: